
Tubuh Arthur terkapar tak bernyawa di atas lantai itu, semua yang hadir dibuat melongo dengan keputusan Arthur untuk mengakhiri hidupnya, Moza menghampiri jasad sang Ayah yang sudah tidak bergerak lagi.
"Daddy! Daddy bangun! Daddy maafkan Moza! Moza juga punya salah sama Daddy, kenapa Daddy harus pergi dengan cara seperti ini, kenapa? Maafkan putrimu Daddy!" Moza tampak menundukkan wajahnya di depan jasad sang Ayah, Jordan terlihat menghampiri calon istrinya dan berusaha menenangkannya.
"Pak Arthur sudah pergi untuk selamanya, kamu harus bisa mengikhlaskan nya, Moz! Mungkin ini adalah pilihannya, dia ingin melihat mu bahagia dari tempat lain, agar bayangan hubungan kalian tidak menghantui mu seumur hidup, Pak Arthur sudah tenang di alamnya, ikhlaskan!"
Moza menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Jordan, Ia harus bangkit, Ia harus kuat, Arthur merelakan dirinya mati agar sang anak tidak dibayang-bayangi rasa bersalah saat melihat wajahnya, meskipun apa yang dilakukan Arthur tidak pernah dibenarkan dalam agama manapun, mungkin ini sudah keputusannya untuk menebus semua kesalahan nya kepada putri kandungnya.
Tak berselang lama, mobil polisi dan ambulans telah datang, jasad Arthur yang sudah terbujur kaku itu mulai diangkat dibawa ke mobil ambulance, Moza melihat jenazah Ayahnya untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
"Selamat tinggal Daddy! Semoga Daddy bisa bertemu dengan Mama di sana, kalian berdua bisa melihat ku bahagia di sini dengan pria yang akan menjadi suamiku, kalian berdua tidak usah khawatir, Aku dan dia akan hidup bahagia, selamat jalan Daddy Arthur!"
Kemudian petugas medis menutup kembali wajah Arthur yang sudah dipenuhi oleh darah yang mulai membeku itu, dan akhirnya mobil ambulance itu pergi membawa jenazah Arthur untuk diautopsi. Petugas kepolisian tampak membutuhkan saksi atas kejadian ini, Gerald dan Jordan tampak menjelaskan semuanya kepada polisi bagaimana kronologi kejadiannya.
Sementara itu Nayla menghampiri Moza dan memberikan support kepadanya yang masih shock melihat ayah kandungnya mati secara mengenaskan.
"Mbak Moza yang sabar, ya! Tuan Arthur sudah tenang di sana, Mbak Moza harus melanjutkan hidup, terus semangat, tinggalkan masa lalu yang pahit, buka lembaran baru bersama Jordan, ini semua adalah ujian dari Tuhan dan kita harus tetap tegar untuk melewatinya." ucap Nayla sembari memeluk Moza yang terlihat masih tidak percaya dengan apa yang menimpa Arthur.
"Permisi! Saya Pak Hilman, pengacara almarhum Pak Arthur, apa benar Anda yang bernama Moza Anandita?" tanya Hilman kepada Moza.
__ADS_1
"Iya benar! Saya Moza, memangnya ada yang dapat Saya bantu, Pak Hilman?" tawar Moza
Kemudian pengacara itu membuka sebuah dokumen yang kemarin Arthur tanda tangani. Pak Hilman mulai menjelaskan tentang isi wasiat yang dibuat oleh Arthur kepadanya.
"Begini Nona! Kemarin Pak Arthur memberikan mandat kepada Saya untuk menyerahkan sebagian harta kekayaan Pak Arthur kepada putri kandung yaitu Anda, dan ini adalah wasiatnya!" Pak Hilman mulai menyebutkan satu-persatu harta kekayaan yang sudah diwariskan kepada Moza.
Tanah perkebunan seluas 50 hektar, dua rumah mewah, mobil super mewah enam buah, villa pribadi di lima tempat, dan beberapa saham di perusahaan akan menjadi milik Moza.
"Silahkan Mbak Moza menandatangani surat persetujuan ini, wasiat ini sah berdasarkan permintaan almarhum sendiri sebelum beliau meninggalkan kita untuk selamanya."
__ADS_1
...BERSAMBUNG...