
Gerald menggandeng tangan Nayla dengan mesra, mereka berdua berjalan menghampiri Hera yang belum bisa mengedipkan matanya, Ia terlihat begitu shok sehingga Ia merasa kesulitan bernafas ataupun berkata. Jangankan untuk berucap, Ia mencoba menggerakkan badannya saja tidak kuasa.
"Oma, Bang! Nay takut!" Nayla berkata kepada sang suami dengan cemas, Ia masih ragu untuk berhadapan dengan Hera, Ia takut jika wanita itu mencaci makinya kembali.
"Jangan takut! Abang akan selalu bersamamu." Gerald terus meyakinkan kepada Nayla bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sementara itu Hera terlihat gemetar, wanita itu berusaha mengambil air minum yang ada di atas meja dengan tangan yang gemetaran.
Nurmala yang mengetahui jika Hera tengah berusaha mengambil air putih di atas meja, Ia pun berniat untuk membantu Hera. Dengan cepat Nurmala mengambilkan minum untuk wanita yang sudah menyebutnya sebagai wanita murahan.
"Minumlah, Nyonya!" Nurmala membantu Hera meminumkan air putih itu pada mulut Hera, sungguh wanita tua itu benar-benar shok melihat kenyataan yang baru saja Ia ketahui.
Tangannya gemetar, seluruh tubuhnya gemetar, Ia pun meminum air putih itu dengan gemetar. Tiba-tiba saja Jordan mulai datang menghampiri Moza yang saat itu sedang menunggu kedatangan dirinya, Jordan sangat terkejut melihat Hera yang terlihat gemetar ketika melihat Nayla dan Gerald yang sedang datang menghampirinya.
"Ada apa dengan Oma Hera?" tanya Jordan kepada Moza.
"Dia shok melihat kenyataan jika Nayla adalah putri kandung Mama," balas Moza.
Nurmala mencoba menenangkan Hera yang masih seakan-akan jiwanya berada di antara dua dunia, antara sadar dan tidak. Dan akhirnya Gerald dan Nayla pun makin mendekati Hera sembari menyapanya dengan pelan.
"Oma! Maafkan Gerald! Selama ini Gerald sudah membohongi Oma tentang hubungan kami, Aku mencintai Nayla, Oma! Aku tidak mau berpisah dengan nya, Aku harap Oma bisa mengerti dan memberikan restu kepada kami, tolong jangan benci Nayla, Oma! Siapapun dia Gerald tetap akan mencintainya, Gerald tak peduli dia terlahir dari rahim Bu Nurmala, setidaknya Bu Nurmala adalah wanita yang baik dan tidak pernah menghina orang lain, setiap manusia pasti pernah bersalah dalam hidupnya, dan sekarang Bu Nurmala sudah menunjukkan jika beliau sudah berubah, apakah Oma akan tetap membenci Bu Nurmala?"
__ADS_1
Gerald berkata sembari menatap wajah sang Oma, wanita itu tak mampu berucap, bibirnya kelu, seolah terkunci rapat, sementara Nurmala terlihat mendampingi kedua putrinya, Ia berada di tengah-tengah kedua gadis yang Ia sayangi.
"Terima kasih saya ucapkan kepada keluarga besar Nyonya Hera, terima kasih jika selama ini sudah merawat putri saya dengan baik, sehingga Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang terhormat, gadis yang pandai menjaga harkat dan martabat, tidak seperti Saya, yang cuma wanita malam bahkan wanita murahan. Tidak mengapa jika Nyonya berkata seperti itu kepada Saya, tapi saya mohon jangan katakan itu kepada putri Saya, dia tidak salah apa-apa, dia tidak tahu apa-apa, berdosa kah dia jika mencintai cucu Nyonya? Apa putri seorang wanita malam tidak diperbolehkan untuk menyayangi cucu Nyonya? Saya tahu betul siapa sebenarnya Saya, saya bukan Ibu yang baik, tapi saya akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya."
Sejenak Hera menundukkan wajahnya, sungguh ternyata selama ini wanita yang Ia hina dan Ia caci, adalah wanita yang selalu Ia agung-agungkan. Gerald pun mulai memberanikan diri untuk mengakui pernikahan mereka kepada sang Oma.
"Oma! Sekali lagi Gerald minta maaf, sebenarnya ada satu hal lagi yang perlu Oma ketahui, Aku dan Nayla sudah resmi menikah." pengakuan Gerald seketika membuat Hera terkejut.
"Apa? Kalian sudah menikah?"
"Iya, Oma! Dan sebentar lagi Oma akan memiliki seorang cicit." ungkap Gerald yang seketika membuat Hera lemas.
"Apa? Nayla hamil? Oh ya Tuhan, jadi selama ini dugaan Oma benar, kamu sering tidur bersama Adikmu, ternyata kalian sedang program membuat anak!" ucap Hera yang membuat Gerald tertawa kecil.
Moza dan Jordan terlihat tertawa kecil mendengar pengakuan Gerald yang membagong kan.
"Hii ... dasar Gerald mesum!" umpat Moza sembari menggelengkan kepalanya.
"Nggak bisa bayangin jadi Gerald, lumrah lah kalau dia udah nggak kuat nahan, udah resmi menjadi istri tapi takut menyentuhnya, karena Nayla belum cukup umur. Giliran Nayla udah gede, ya langsung tancap gas aja tuh anak, nggak nyalahin si Gerald juga sih, Aku sendiri pasti juga nggak kuat." sahut Jordan yang berbisik pada telinga Moza.
__ADS_1
"Heleh ... dasar cowok sama aja!" Moza memutar bola matanya sambil memijit pelipisnya.
Jordan tersenyum dan Ia pun mulai membantu Gerald meluruskan semuanya agar sang Oma bisa mengerti.
"Hai Oma! Oma masih ingat sama saya?" sapa Jordan sembari mencium tangan Hera.
Sejenak Hera mengingat wajah hitam manis teman Gerald yang dulu sering bermain dengan sang cucu.
"Jordan! si hitam manis itu, ya ampun! Maafkan Oma, ternyata kamu bisa tampan juga, ya! Aku pikir selamanya akan berkulit eksotis." seru Hera yang mulai ingat siapa pemuda yang sedang berdiri di depannya.
"Iya dong, Oma! Masa terus-menerus tetap hitam nih kulit, perawatan Oma, dari lulur bengkoang sampai lulur batu bata, semuanya Jordan coba, dan hasilnya taraaa ... Oma bisa lihat sendiri, kan?" ucapnya sembari tertawa kecil.
"Iya iya Oma tahu ... aduh kepala Oma pusing sekali." Hera terlihat memegangi kepalanya yang terasa cenut-cenut, mungkin jika diperiksakan tekanan darah Oma Hera sudah mencapai batas tertinggi.
"Oma! Seharusnya Oma senang dong! Sebentar lagi Oma bakal punya cicit dari mereka berdua, Oma ngga usah khawatir, pernikahan mereka legal, sah secara hukum dan agama. Jadi, Oma ngga perlu khawatir lagi tentang tudingan orang luar yang akan memfitnah Gerald dan Nayla, Saya yang sudah mengurus surat-surat resmi pernikahan mereka, dan sekarang yang perlu Oma lakukan adalah merestui pernikahan cucu Oma, itu saja!"
Hera sungguh malu, apa yang akan Ia katakan kepada Nurmala, kemarin-kemarin Ia sangat membencinya, dan setelah Ia melihat kenyataan ini, sungguh dirinya begitu menyesal.
"Ya Tuhan! Apa yang sudah Aku lakukan?" sesal wanita paruh baya itu. Kemudian Hera beranjak pergi menghampiri Nurmala dan kedua putrinya. Tanpa pikir panjang Hera tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Nurmala, tentu saja Nurmala reflek ikut duduk bersimpuh mengikuti Hera.
__ADS_1
"Apa yang Nyonya lakukan? Bangunlah!"
...BERSAMBUNG...