Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 89 HTA


__ADS_3

Hari pun berganti, tiba waktunya Moza dan Jordan menyatukan cinta mereka, hari ini Moza akan melangsungkan pernikahan dengan pria yang bersedia untuk menjadi suaminya. Jordan seorang pengacara yang juga mantan kekasih nya dulu.


Saat itu Gerald yang sedang bersiap untuk datang ke pernikahan teman baiknya itu tiba-tiba mendapatkan telepon dari pusat rumah sakit jiwa di mana Arthur di rawat.


"Bang! Ada telepon tuh!" seru Nayla sembari mengeringkan rambutnya. Sementara Gerald masih sibuk memasang celana boxer nya.


"Tolong angkat dong, Nay! Abang lagi masang kolor nih!" ucapnya sembari memasukkan satu kakinya pada boxer yang akan Ia pakai.


Nayla pun menuruti perintah sang suami, Ia pun mengambil ponsel Gerald dan mengangkat telepon nya.


"Halo!" sejenak Nayla mendengarkan seseorang yang menyampaikan sesuatu lewat telepon seluler milik Gerald itu. Seketika Nayla menutup mulutnya ketika Ia mendengar berita yang pastinya akan membuat semua orang sangat terkejut.


"Itu tidak mungkin!" seru Nayla sembari menjatuhkan ponsel Gerald, tentu saja Gerald sangat terkejut, alhasil Ia spontan berlari menghampiri istrinya, padahal saat itu boxer yang Ia kenakan masih satu kaki yang masuk. Alhasil Gerald berlari dengan keadaan masih bergelantungan.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya nya sambil memeluk istrinya yang terlihat shock.


"Gawat, Bang! Ini benar-benar gawat." ucap Nayla sembari menatap wajah suaminya cemas.


"Memangnya ada apa sih, Nay? Siapa yang sudah menelepon?" tanyanya sembari mengambil ponselnya yang terjatuh dan seketika Nayla melihat suaminya yang sedang menungging mengambil ponsel miliknya yang dijatuhkan oleh Nayla di lantai.


Nayla tampak mengusap wajahnya kasar ketika melihat pemandangan Gerald dengan celana kolor nya yang belum terpasang sempurna.


Kemudian Gerald mengambil ponselnya, tapi sayang ponsel nya mati karena terjatuh dari ketinggian dan mengenai lantai.


"Yah ... mati! Kamu gimana sih Nay! Ponsel Abang mati, nih! Memangnya ada apa sih, gawat-gawat, gawat apanya?" tanya Gerald sembari melihat kearah istrinya yang tampak menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kok wajahnya malah ditutup sih, Nay! Abang ini ngomong sama Kamu, malah ditutup mukanya?" gerutu Gerald.

__ADS_1


"Gawat Bang! Ini lebih gawat lagi?" sahut Nayla sembari mengintip dari celah-celah jari-jemarinya.


"Kamu ini ngomong apa sih, Nay? Yang gawat itu apa, dari tadi nggak jelas banget!"


"Itu Bang! Nay khawatir nanti burung Abang lepas, kalau pakai boxer yang bener dong, Bang? Bikin Nay salting aja deh!" ucapnya sembari membalikkan badannya.


"Hah! Burung?" Gerald pun spontan melihat ke arah bawah, Ia melihat jika boxer miliknya belum terpasang sempurna, akhirnya Gerald memasang boxer nya dengan baik sembari berkata, "Halah ... kamu nggak usah sok takut gitu deh! Bilang aja takut kalau burungnya terbang ke kamu! Lagian kamu juga ngagetin Abang! Udah, sekarang udah Abang benerin, sekarang katakan! Siapa yang menelepon tadi? Kenapa kamu takut gitu?" ucapnya setelah Ia memasang boxer nya dengan baik.


"Abang sih!" Nayla kemudian menurunkan tangannya dan melihat sang suami.


"Itu, Bang! Tadi ada telepon dari rumah sakit jiwa katanya Tuan brengsek itu melarikan diri dari rumah sakit, Nay jadi takut. Hari ini kan Mbak Moza akan menikah, bisa jadi Tuan brengsek itu datang ke rumah dan menculik Mbak Moza!"


"Apa? Arthur melarikan diri dari rumah sakit? Brengsek! Aku harus segera memberitahukan kepada Moza dan Jordan supaya mereka lebih berhati-hati."


Akhirnya Gerald menghubungi nomor Jordan dan memberitahu jika Arthur keluar dari rumah sakit. Tapi sayang baik nomor Jordan atau pun Moza sama-sama tidak aktif, sehingga Gerald terpaksa menghubungi Ibu mertuanya, Nurmala.


"Iya halo!"


"Halo, Bu Nurmala ini Saya, Gerald!"


"Gerald! Ada apa?"


Kemudian Gerald menceritakan semuanya kepada Nurmala tentang keluarnya Arthur dari rumah sakit jiwa.


"Apa? Arthur melarikan diri dari rumah sakit jiwa? Astaga! Ini tidak mungkin!"


Seketika Moza yang saat itu sedang berada satu ruangan dengan Nurmala sangat terkejut saat mendengar jika Arthur melarikan diri dari rumah sakit jiwa.

__ADS_1


"Apa, Ma? Daddy Arthur melarikan diri dari rumah sakit? Oh My God ... tidak ini tidak mungkin!" Moza terlihat lemas saat tahu berita tentang Arthur.


"Moza! Kamu tenang ya, Nak! Semuanya pasti baik-baik saja, Arthur akan segera ditangkap, Mama tidak akan membiarkan pria itu mengganggu hari bahagia mu, Mama akan perketat pengamanan, supaya Arthur tidak mudah masuk ke dalam ruangan akad nikah kalian, percayalah! Mama melindungi mu dari pria itu!"


*


*


*


Akhirnya, saat-saat yang paling mendebarkan telah tiba, Gerald dan Nayla sudah datang ke acara sakral itu, berharap Nurmala sudah memberi tahukan kepada Moza dan Jordan untuk berhati-hati jika Arthur akan datang kapan saja. Pria itu masih memiliki kekuatan besar dan mampu melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.


Pasangan pengantin itu telah hadir di tengah tamu undangan untuk melangsungkan akad nikah, pak penghulu juga siap untuk menikahkan Moza dan Jordan. Meskipun Moza sudah sangat siap untuk menjadi istri Jordan, tapi ada satu hal yang masih membuatnya khawatir, yaitu perginya Arthur dari rumah sakit jiwa.


Pak penghulu mulai menjabat tangan Jordan dan mulai menuntun Jordan untuk mengucapkan ijab Kabul.


"Saya nikahkan dan kawinkan Engkau Jordan bin Fahriza dengan putri kami Moza Anindita binti Lea Ananta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat dua puluh gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya ....!" belum sampai Jordan melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berdiri di pintu masuk ruangan akad nikah itu.


"Tunggu!"


Seketika semua tamu undangan menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Arthur.


...BERSAMBUNG...


...ADA YANG BISA MENEBAK, KIRA-KIRA APA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH ARTHUR? APAKAH PERNIKAHAN MOZA GAGAL ATAUKAH TETAP DILAKSANAKAN? 🤔😁...

__ADS_1


__ADS_2