Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 28 HTA


__ADS_3

Keduanya terkejut, Nayla dengan cepat melepaskan pelukannya dari Gerald, sementara Gerald terlihat santai melihat kedatangan sang Oma.


Hera menghampiri mereka berdua sembari menarik tangan Gerald agar menjauhi Nayla.


"Kalian berdua ini apa-apaan sih! Peluk-pelukan, kalau ada orang lain lihat gimana?" seru Hera dengan kesal.


"Ya ampun, Oma! Kita cuma pelukan biasa aja kok! Oma aja yang terlalu membesar-besarkan, udah ah Aku mau mandi, Nayla, masuk! Istirahat lah besok kamu harus sekolah, Abang ngga mau kamu terlambat." ucapnya sembari memerintahkan Nayla untuk masuk ke kamar nya. Nayla pun menganggukkan kepalanya dan Ia segera masuk ke dalam kamar.


Sementara itu Hera mencoba memperingatkan kepada cucu kesayangannya itu untuk berhati-hati dan menjauhi Adiknya itu.


"Gerald! Oma sudah bilang jauhi Nayla! Pokonya Oma ngga bakalan setuju kamu menyukai Adikmu sendiri, meskipun Oma tahu jika kalian bukan saudara kandung, tapi Nayla itu anaknya pelaacur, kamu ngerti maksud Oma, kan?" Gerald menggelengkan kepalanya mendengar sang Oma berbicara merendahkan orang tua kandung Nayla.


"Gerald ngga peduli, Oma! Gerald akan tetap menyayangi Nayla, siapapun orang tuanya, Gerald tetap ngga peduli." ucapnya sembari pergi ke kamarnya.


"Gerald! Kamu tuh ya udah berani membantah Oma, Oma ngga akan biarin kalian berdua bersama, tidak boleh! Apa kata orang-orang nanti, pasti mereka berfikir cucuku ngga bener, masa suka sama saudara sendiri, secepatnya Aku harus bertemu dengan Nurmala untuk mempercepat pertunangan mu dan Moza."


Gerald benar-benar tidak memperdulikan ucapan sang nenek, Ia pun masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Sejenak bayangan sang istri terlihat menari-nari di pelupuk matanya, Gerald tersenyum dan Ia bergegas mengambil ponselnya.


Sedangkan Nayla baru saja melepaskan seluruh seragam sekolahnya, Nayla hendak pergi mandi, tiba-tiba Ia mendengar suara ponselnya berdering. Dengan membalut tubuhnya menggunakan handuk, Nayla mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas sekolah nya.


"Abang!" seketika Nayla membulatkan matanya saat melihat ke layar ponselnya, ternyata Gerald tengah melakukan video call dengan nya. Ia pun segera membuka video call dengan suaminya.


"Ada apa, Bang!" ucap Nayla dengan posisi rambut yang Ia gulung ke atas dengan hanya berbalut handuk putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Seketika Gerald bangkit dan tersenyum sumringah saat sang istri memakai handuk yang memperlihatkan area dadanya yang putih.

__ADS_1


"Abang kangen, Nay!" ucap Gerald dengan nada manja.


"Ya ampun, Abang! Baru juga Nay masuk kamar, Nay mau mandi, Bang! Tuh bau acem. Abang juga mandi sana!" balas Nayla sembari mencium bau badannya sendiri.


"Mandi bareng yuk!" ajak Gerald dengan tersenyum nakal.


"Nggak-nggak, Nay capek! Nay kewalahan ngadepin Abang." ucapnya menolak permintaan sang suami.


"Emang Abang mau ngapain kamu? Abang cuma mau mandi bareng aja kok, diiih selalu berprasangka buruk saja sama Abang!"


"Ah ... au ah, mandi bareng Abang itu adalah ancaman untuk Nay! Entar ada ular masuk tiba-tiba gimana, mana ularnya gede banget lagi, Nay takut, Bang!" mendengar jawaban dari Nayla, Gerald terlihat tertawa menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Nggak usah takut, Nay! Ularnya nggak gigit dan ngga berbisa kok, kalaupun ularnya berbisa pasti kamu udah kesakitan, buktinya kamu malah keenakan." mendengar itu Nayla terlihat salah tingkah.


"Udah udah deh, Bang! Nayla mau mandi, Abang juga mandi sana!" seketika Nayla menutup video call nya bersama sang suami, terlihat wajah yang tersipu malu mendengar ucapan Gerald. Ia pun meletakkan kembali ponselnya di atas meja di dekat tas sekolah miliknya, sesaat perhatian Nayla tertuju pada sebuah benda berkilau yang Ia simpan di dalam tasnya, yaitu kalung berlian pemberian Nurmala saat di sekolah tadi. Nayla mengambil kalung itu dari dalam tasnya. Ia memperhatikan kalung itu dalam-dalam.


"Bu Nurmala, siapa sebenarnya Anda?" gumamnya pelan.


Sedangkan di tempat lain, Moza berhasil menemui Arthur di mansion mewah pengusaha kaya raya itu, Moza masuk ke dalam disambut oleh pelukan Arthur.


"Moza sayang! Akhirnya Kamu datang juga, Daddy benar-benar sangat merindukan mu!" ucap Arthur sembari mendaratkan ciumannya pada pipi gadis yang usianya jauh dibawah nya.


Moza terlihat tidak seperti biasanya, hari itu Moza tampak lebih pendiam, ucapan Nurmala sempat membuat Moza takut, apa benar jika Arthur hanyalah mempermainkan nya, sikap Moza yang tiba-tiba itu membuat Arthur penasaran.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu terlihat cemberut seperti itu? Apa uang yang Aku berikan masih kurang?" ucapnya sembari membelai pipi Moza.


Kemudian Moza menatap wajah Arthur dan berkata, "Bukan itu Daddy! Ada hal lain yang membuat Moza kepikiran." jawabnya.


"Apa sih? Katakan!" desak Arthur sembari menciumi harum tubuh gadis itu.


"Daddy sayang kan sama Moza?"


"Hei ... kamu ngomong apa? Tentu saja Daddy sangat menyayangi mu, semuanya akan Daddy berikan untukmu, Sayang!" balas Arthur dengan tersenyum.


"Moza udah terlanjur sayang sama Daddy, ada yang bilang jika Daddy hanya mempermainkan Moza saja."


"Siapa yang bilang? Jangan percaya, mereka itu berbohong, Daddy sangat menyayangi mu, Moza! Apa kamu tidak percaya dengan Daddy, apa ada laki-laki lain yang lebih perkasa dari Daddy, kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu?" Arthur menatap wajah Moza.


"Moza takut saja jika Daddy hanya membohongi Moza, karena Moza udah telanjur cinta sama Daddy, kehadiran Daddy membuat hari-hari Moza bahagia, seolah-olah almarhum Papa masih ada bersama Moza, jangan tinggalkan Moza, Dadd! Moza mohon!"


Arthur memeluk gadis itu, dengan tatapan jahatnya Arthur berpura-pura mencintai Moza, tujuan Arthur hanyalah untuk membalas dendam atas perbuatan Papa Moza yang dulu pernah merebut wanita yang sangat dicintai Arthur, yaitu Ibu kandung Moza yang sudah meninggal dunia.


"Moza Sayang! Kalau saja kamu tahu, jika Aku melakukan semua ini untuk melampiaskan dendam ku kepada Papamu, tidak hanya di dunia dia menjadi musuhku, bahkan di alam kematiannya, Ia akan menyaksikan putrinya Aku hancurkan, maafkan Daddy, Moza! Aku hanya ingin menikmati tubuh mu saja, tidak lebih, tak ada cinta dan tak ada kasih sayang di antara kita, hubungan kita hanya sebatas bersenang-senang." batin Arthur dengan senyum jahatnya.


"Sudah! Jangan bersedih lagi, hari ini Daddy ingin menikmati malam berdua dengan mu."


Entahlah, Moza seperti kerbau yang dicocok hidungnya, begitu mudah Ia menuruti permintaan pria yang jauh lebih dewasa darinya, entah apa yang Moza lihat dari seorang Arthur, sehingga Ia begitu tergila-gila pada musuh besar Gerald itu. Arthur adalah sosok Casanova yang selalu berganti-ganti pasangan setiap waktu, Namun itu tak menyurutkan Moza untuk tetap mendatangi Arthur. Keperkasaan Arthur yang luar biasa itu, terkenal di kalangan wanita-wanita ex Arthur, mungkin itu yang membuat Moza tidak ingin berpisah dengan pria yang pernah berseteru dengan Almarhum Papa nya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2