Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 49 HTA


__ADS_3

"Maafin Nay, Bang! Nay pergi dari rumah tanpa izin Abang dulu, Abang tidak usah khawatir dengan keadaan Nay, Nay baik-baik saja, Nay bersama dengan orang yang tepat,"


"Katakan sama Abang kamu sekarang ada di mana Nay? Abang akan menjemput mu!"


"Tidak usah, Bang! Jangan bawa Nay pulang ke rumah, Oma masih membenci Nay, biarkan Nay di sini, Nay tinggal bersama orang yang menyayangi Nay, Abang di rumah saja, kita pasti akan bertemu lagi,"


"Kamu ngomong apa sih, Nay! Abang ngga bisa jauh dari kamu, Nay! Sekarang katakan kamu ada di mana? Atau Abang tidak akan pulang sampai bertemu dengan mu, Abang tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan istri Abang." ucap Gerald yang memaksa Nayla untuk mengakui.


"Sudahlah, Bang! Nay udah bilang, Nay baik-baik saja, sekarang Nay bersama Mama kandung Nay, jadi Abang tidak usah khawatir," mendengar ucapan dari Nayla, Gerald pun tak tinggal diam, Ia melacak keberadaan istrinya lewat sambungan telepon yang sedang mereka lakukan. Dengan begitu Gerald bisa mengetahui dimana lokasi Nayla sekarang.


"Abang akan terus mencari mu, Abang tidak bisa tenang sebelum melihatmu!" seru Gerald yang mulai mendapatkan lokasi dimana Nayla berada. Gerald tanpa pikir panjang segera menuju lokasi dimana Nayla berada.


"Halo Abang! Halo!" rupanya Gerald menutup ponselnya, pria itu segera melajukan mobilnya ke arah lokasi yang sudah Ia peroleh dari google map.


"Abang akan menjemput mu, Nay!" ucap Gerald sembari menyetir mobilnya sedikit kencang.


Sementara itu Nayla terlihat memperhatikan ponselnya, Ia tahu Ia sangat merindukan suaminya, tapi untuk sekarang tidak mungkin baginya untuk pulang kembali ke rumah. Sementara Hera tidak menginginkan nya berada di rumah itu.


Nayla keluar dari kamar nya, secara tidak sengaja, Ia melihat Moza yang sedang duduk sendirian di ruang tengah sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan tatapan mata yang kosong. Nayla menghampiri Moza yang terlihat memeluk kedua lututnya.

__ADS_1


Perlahan Nayla duduk di samping Moza yang belum menyadari kehadiran Nayla yang ikut menemaninya.


"Mbak Moza ngga tidur? Ini hampir subuh loh, Mbak?" tanya Nayla yang ikut duduk sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Moza menengok ke arah Nayla.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur? Pasti lagi mikirin Gerald, iya kan?" pertanyaan Moza membuat Nayla tersenyum, kemudian Nayla mulai mengajak Moza berbincang-bincang.


"Hehehe iya, Mbak! Tahu aja Mbak Moza kalau Nay lagi mikirin Abang."


Moza kembali memejamkan matanya, sungguh gadis itu berusaha untuk menunjukkan jika dirinya baik-baik saja. Namun, Nayla melihat ada yang aneh pada diri Moza, seperti ada beban berat yang Ia rasakan.


"Mbak Moza kenapa? Maaf bukan Nay bermaksud sok tahu, tapi Nay lihat Mbak Moza sepertinya sedang bersedih." ucap Nayla yang memaksa Moza membuka kedua matanya yang sembap.


Moza menangis dalam pelukan Nayla, sungguh gadis itu membutuhkan teman untuk mencurahkan segala rasa yang Ia pendam sendirian, Nayla pun berusaha untuk mengerti apa yang dirasakan oleh Moza.


"Mbak Moza yang sabar, ya! Nay yakin pasti ada laki-laki yang baik yang tulus yang akan mencintai Mbak Moza dengan sepenuh hati."


"Bagaimana bisa kamu seyakin itu? Seandainya mereka tahu jika Aku sudah hancur, apa mereka masih mau menerimaku? Aku tidak yakin." seru Moza yang mengingat dirinya bukanlah wanita yang sempurna, hidupnya sudah dihancurkan oleh Ayah kandung nya sendiri.


"Yakin dong, Mbak! Mbak Moza cantik, terpelajar, baik, kurang apa coba?"

__ADS_1


"Tapi hidup ku sudah hancur, Nay! Hancur berkeping-keping."


"Maksud Mbak Moza apa?"


"Aku sudah ternoda, Aku gadis yang kotor, dan semuanya itu dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi ku, yang seharusnya menyayangi ku sebagai putrinya ...!"


Seketika Nayla sangat terkejut dengan pengakuan Moza, Ia pun menebak jika orang yang dimaksud oleh Moza adalah Ayah kandung Moza sendiri.


"Maksud Mbak Moza, apa itu Ayah kandung Mbak ???"


Moza menundukkan wajahnya dan mengangguk, air mata itu jatuh kembali pada wajah cantik gadis seksi itu.


"Apa??? Astaga ....! Mbak Moza ngga bercanda, kan?"


"Untuk apa Aku bercanda, laki-laki bejat itu sudah menghancurkan hidupku, iya dia adalah Arthur, laki-laki itu bernama Arthur ... Aku benci dia ... Aku benci ...!!!!!!"


Seketika Nayla menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat rahasia besar ini terbongkar dari mulut Moza sendiri.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2