Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 75 HTA


__ADS_3

Nurmala pun meminta Hera untuk berdiri, karena bagaimanapun juga Hera lebih tua darinya, sungguh dirinya merasa tak pantas harus mendapatkan perlakuan seperti itu dari Hera.


"Bangunlah, Nyonya! Untuk apa Anda melakukan hal itu, Saya tidak pernah meminta Anda untuk minta maaf kepada Saya, karena Saya mengerti sekali mengapa Anda bersikap seperti itu. Karena Anda tidak ingin mendapatkan menantu yang tidak baik, mungkin karena Nayla adalah anak saya, jadi Anda merasa khawatir jika Nayla mengikuti jejak Saya. Anda jangan khawatir Nyonya, sedari bayi Nayla tumbuh dalam keluarga yang sangat baik, keluarga Anda yang begitu menyayangi Nayla, tentu saja sifat dan perangai nya tak jauh dari sifat orang-orang di sekitarnya, orang-orang yang sudah membesarkan nya selama ini, termasuk Anda yang sudah begitu baik menerima putri Saya sebagai cucu Anda!" ungkap Nurmala yang diiringi dengan air mata yang mulai membasahi pipi wanita itu.


"Apa yang Anda katakan, Nayla memang tinggal dalam keluarga kami, anak dan menantuku sangat menyayanginya, mungkin mereka tahu jika Nayla akan tumbuh menjadi gadis yang baik, saya sangat malu sekali karena belum bisa memahami ketulusan hati anak dan menantu Saya, karena keegoisan Saya, ternyata Saya sudah membuat hati orang lain terluka, dan itu adalah hati Nyonya. Maafkan saya, saya sudah merasa paling benar dan paling sempurna, mungkin ucapan Saya tidak pantas untuk dimaafkan, maka dari itu Saya ingin meminta maaf kepada Nyonya Nurmala, saya mohon maafkanlah Saya!"


"Sudahlah, Nyonya! Tidak ada yang perlu dimaafkan, yang terpenting adalah anak-anak kita bisa hidup bahagia, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan mereka, karena mereka yang akan menjalani kehidupan berumah tangga, apalagi sekarang Nayla sedang hamil, bukankah itu hal yang sangat membahagiakan?" seru Nurmala


"Anda benar, ternyata di usia saya yang sudah senja ini, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Saya untuk menggendong seorang cicit." balas Hera sembari berjalan menghampiri Nayla yang berdiri di samping Gerald.

__ADS_1


"Oma!"


"Nayla! Maafkan Oma. Selama ini Oma sudah jahat sama kamu, Oma malu sama kamu dan juga Mama mu, Oma memang tidak pantas untuk dimaafkan."


"Oma tidak perlu minta maaf, Nay udah bahagia melihat Oma dan Mama tersenyum bahagia. Nayla tidak minta lebih, Nay cuma ingin mendapatkan restu dari Oma, doa Oma untuk pernikahan kami dan Nay berharap Oma bisa menerima Nayla sebagai cucu menantu Oma."


"Apa yang kamu katakan, tentu saja Oma merestui pernikahan kalian, kamu dan Gerald sudah berjodoh sedari kecil, hanya saja Oma yang menutup mata tentang perasaan Gerald kepada mu, sedari dulu Oma sudah merasa jika cucu Oma itu memiliki perasaan yang lebih kepada Adiknya, karena keegoisan Oma yang terlalu mementingkan diri sendiri, Oma sudah membuat cucu Oma menderita, maafkan Oma!"


"Nah ... gitu dong Oma! Seharusnya dari dulu Oma menyetujui hubungan kami, makasih Oma sudah merestui hubungan kami, itu artinya Nay boleh Aku ajak pulang dong, Oma?" seru Gerald sembari menggerakkan alisnya naik turun.

__ADS_1


"Ya boleh lah! Nayla akan tetap menjadi cucu Oma, apalagi sekarang dia sedang mengandung cicit Oma. Supaya Oma bisa menjaga nya biar kamu nggak macam-macam." ucap Hera sambil menunjuk wajah sang cucu.


"Loh emangnya Gerald ngapain dia, Oma?" Gerald terlihat garuk-garuk kepalanya.


"Nanti, biar Nayla tidur bareng Oma, kalau enggak kamu bisa macam-macam, kehamilan Nayla masih sangat muda, Oma ngga mau ya kamu ganggu istrimu dulu, apalagi dia harus sekolah, pokoknya nanti Oma yang akan merawat Nayla, kamu puasa dulu 3 bulan." seketika Gerald membulatkan matanya mendengar sang Oma berbicara jika dirinya harus berpuasa untuk tidak mendekati sang istri.


"Yah ... nggak bisa gitu dong, Oma! Masa Oma tega sih buat Gerald kesepian, ah Oma ngga asyik, masa Aku harus berhadapan dengan sabun lagi sih!" umpat Gerald lirih.


Seketika Nayla tertawa kecil mendengar keluhan suaminya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2