
Sharen terlihat salah tingkah, Ia pun tampak memalingkan wajahnya dari tatapan Al, sementara itu Gerald menghampiri putra mereka dan berkata kepadanya, "Al, Bagaimana? Kamu pilih yang mana? Papa tidak akan memaksamu untuk memilih, itu tergantung selera. Papa cuma berharap perjodohan ini bisa mempererat hubungan keluarga kita, tapi ingat kamu tidak boleh pilih keduanya, harus salah satu."
Al menatap tajam ke arah dua gadis yang kini berada di hadapannya itu, sungguh dirinya tak menyangka jika teman yang sering Ia ganggu dulu kini berubah menjadi seorang gadis yang cantik, bahkan sangat cantik menurutnya.
"Ini benar-benar gila, bagaimana bisa gadis itu adalah Sharen? Entah ini kebetulan atau tidak, tapi Aku rasa tidak ada salahnya jika berdamai dengan Sharen."
"Sial banget sih Aku, harus ya si Al yang lihat seluruh tubuhku, Aku berharap tidak akan bertemu dengan pria itu, justru pria itu adalah musuh bebuyutan ku, mana dia tahu bentuknya lagi, duuuhhh malu banget!"
Keduanya sama-sama membatin, sementara di sisi lain Shanum terlihat mendekati Al dan berusaha akrab dengannya. "Hai Mas Al, Aku nggak nyangka banget loh bisa ketemu sama kamu lagi, ternyata Mas Al sekarang beda banget ya! Lebih keren." ucap Shanum yang tak sengaja terdengar oleh Sharen. Spontan Sharen memperhatikan saudara kembarnya saat berbicara dengan Al.
"Diiih apaan sih Shanum, biasa aja kali. Sok ke PD an tuh si Al kalau di manis-manisin. Hadehhh pusing kepala." batin Sharen sembari pergi meninggalkan mereka berdua, Sharen tampak mengambil sebuah minuman cocktail yang sudah disediakan di atas meja. Gadis itu mengambil segelas dan setelahnya Ia kembali berdiri di samping Moza dan Jordan yang sedang berbincang dengan beberapa tamu undangan.
Al memperhatikan Sharen yang sedang berdiri di samping kedua orang tuanya, gadis itu terlihat masih malu saat menatap Al. Seolah Ia tak mau memperhatikan Al sama sekali. Sedangkan Shanum terus berusaha menarik perhatian Al dengan mengajaknya berdansa.
__ADS_1
"Mas Al, kita dansa yuk!" ajak Shanum yang memaksa Al untuk ikut ke lantai dansa, spontan Sharen melihat kemesraan antara adik kembarnya dengan Al. Entah kenapa dirinya tidak suka melihat pemandangan itu, melihat Shanum yang berada dekat sekali dengan Al, seketika membuat Sharen merasa kegerahan, Ia pun meminta izin kepada Moza untuk ke kamar mandi sebentar.
Moza pun mengangguk dan setelah itu Sharen segera pergi ke kamar mandi. Di sana Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Entahlah Sharen juga tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba mengalami hal itu.
"Astaga! Kenapa Aku bisa seperti ini, melihat Shanum dan Al seperti itu rasanya Aku tak kuasa untuk berada di sana. Nggak-nggak jangan bilang kalau Aku sedang cemburu? Oh God! Cemburu? Sama Al. Mungkin Aku benar-benar sudah gila." racau Sharen sembari dirinya mondar mandir di depan kamar mandi.
Tiba-tiba saja di saat dirinya sedang mondar-mandir meracau tak karuan, Ia menabrak seseorang. Spontan Sharen melihat siapa yang sudah Ia tabrak.
Ternyata itu adalah Al, Sharen semakin salah tingkah, Ia pun bergegas pergi dari tempat itu. Namun, Al justru menahan Sharen dengan menarik tangan gadis itu.
"Jangan pergi!" seketika Sharen menghentikan langkahnya dan berbalik arah kepada Al.
"Apa mau mu? Mau ngeledek Aku lagi? Mau ngata-ngatain Aku lagi? Iya iya sekarang kamu sudah berubah, kamu bukan Al yang dulu kerempeng kayak triplek, sekarang kamu berubah menjadi pangeran tampan, sampai Adikku Shanum tidak bisa lepas dari pesona mu, dan kamu datang untuk mempermalukan Aku, iya kan? Kamu pasti sedang menertawakan ku." cerocos Sharen yang seketika dibungkam Al dengan ciuman pada bibir mungilnya.
__ADS_1
"Emm ... mmpptth!" spontan Sharen memukuli dada Al, berusaha untuk melepaskan dirinya dari pria yang dulu sering membuatnya kesal.
Tapi, Al tidak semudah itu melepaskan Sharen, awalnya Sharen merasa dipaksa, lama-kelamaan Sharen mulai menikmati ciuman itu, begitu lembut dan terasa menggetarkan seluruh jiwa.
Sangat terlihat deru nafas mereka yang naik turun, sejenak Al melepaskan pagutan itu dan berbisik di telinga Sharen. "Aku akan memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku, Sharen!"
Seketika Sharen tersenyum saat Al berkata seperti itu, entah kenapa Sharen merasa mulai nyaman saat berada di dekat Al. Tapi, dalam sekejap bayangan perjanjiannya dengan Shanum membuat Sharen tidak bisa menyetujui permintaan Al.
Sharen menjauhi Al, Ia tampak menggelengkan kepalanya dan berkata. "Tidak, tidak Al! Aku tidak bisa. Lebih baik kamu pilih Adikku saja, maaf! Aku tidak bisa." setelah mengatakan itu Sharen pun segera pergi meninggalkan Al yang berdiri dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa dia tidak setuju?" batin Al yang tidak mengerti kenapa Sharen berbicara demikian.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1