Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 47 HTA


__ADS_3

Nayla tertunduk dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... Aku sangat mencintai Abang, dan Abang pun juga mencintai Nay, kami berdua saling mencintai." Moza tersenyum dan memegang tangan Nayla.


"Kamu mencintai Gerald dan Gerald mencintaimu. Ya nggak apa-apa dong! Lagian kalian bukan saudara kandung, kan! Lalu kenapa kamu bersedih?" Moza melihat kesedihan pada wajah Nayla, meskipun kesedihan yang ada dalam dirinya lebih memilukan tapi setidaknya kehadiran Nayla membuat Moza sedikit terhibur.


"Oma tidak menyetujui hubungan kami, Oma menentang hubungan kami berdua, karena Oma tidak mau melihat Abang berhubungan dengan gadis seperti Aku, yang ternyata anak dari seorang ...." Nayla tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia begitu berat untuk mengatakan hal itu di depan Nurmala.


Seketika Nurmala menyahuti, "Anak pelaacur maksud mu?"


Nayla menatap wajah sang Ibu dan menggelengkan kepalanya, Nurmala tersenyum dan memaklumi kenapa sang Oma bisa bersikap seperti itu kepada Nayla.


"Mama minta maaf, gara-gara Mama kamu harus menerima hinaan seperti ini, semua ini memang salah Mama, Mama Ibu yang bodoh, Mama sudah menyia-nyiakan putri kandung Mama sendiri, mungkin Mama tidak pantas mendapatkan maaf darimu, Nak! Tapi izinkan Mama memperbaiki kesalahan-kesalahan Mama terhadap mu, Mama akan membuat Oma mu mau merestui hubungan kalian, siapa namanya? Setahu Mama dulu Pak Sudarsono hanya tinggal bersama istri dan seorang anaknya, Beliau tidak pernah mengajak tinggal Ibu kandungnya, jadi Mama tidak tahu siapa sebenarnya Ibu Pak Sudarsono." tanya Nurmala penasaran.


"Oma Hera! Nama lengkapnya Herawati, sebelum Papa dan Mama meninggal, Oma Hera tinggal di luar kota, dan sesekali datang ke rumah kami, tapi sekarang, Oma Hera memutuskan untuk tinggal di rumah dengan alasan Ia ingin menjodohkan Abang dengan wanita lain yang ternyata wanita itu adalah Mbak Moza!"


Seketika Moza membelalakkan matanya saat mendengar pengakuan dari Nayla, pun sama Nurmala juga sangat terkejut mendengar pengakuan Nayla, jika sang Oma ternyata adalah wanita yang akan berbesan dengan nya.


"Apa? Aku mau di jodohkan sama Gerald? Apa-apaan ini? Mama! Apa yang dikatakan Nayla itu benar?" Moza berkata sembari menatap wajah sang Mama.


"Mama juga baru mengerti, ternyata Nyonya Hera adalah Ibu kandung Pak Sudarsono, sungguh Mama benar-benar tidak tahu jika Nyonya Hera adalah Oma kamu, Nay!" sesal Nurmala yang hampir saja menjodohkan Moza dengan pria yang dicintai oleh Nayla.

__ADS_1


"Astaga! Mana mungkin Aku menikah dengan Gerald, Aku hanya menganggap nya sebagai teman saja, Ma! Tidak lebih." balas Moza yang menyesalkan perjodohan ini.


Setelah mengetahui kebenaran nya, Moza pun berusaha menghibur Nayla dan berkata, "Aku tahu perasaan mu, Nay! Kamu yang sabar, ya! Aku yakin suatu saat Oma Kalian akan menyetujui nya, lagipula mana mungkin Aku menikah dengan Gerald, apalagi sekarang Aku tahu jika kalian saling mencintai, akan sangat menyakitkan jika kita mencintai seseorang kemudian berpisah begitu saja, tapi kalian sangat beruntung, cinta kalian bukan lah cinta terlarang, cinta kalian begitu suci, pertahankan Gerald! Aku akan membantu mu untuk mendapatkan restu Oma Hera, percayalah!" ucapnya sembari menitikkan air mata, betapa hati Moza begitu tersentuh, seketika Ia mengingat cinta terlarang nya kepada sang Ayah, yang membawa nya pada kehancuran dirinya. Kini Moza hanya bisa menyesali nasibnya dan berusaha tersenyum meskipun dalam hatinya begitu tercabik-cabik.


"Terima kasih Mbak Moza! Ternyata Mbak Moza sangat baik, Nay yakin suatu hari nanti Mbak Moza pasti mendapatkan laki-laki yang baik dan tulus dan benar-benar mencintai Mbak Moza, secara Mbak Moza sangat cantik sekali." ucap Nayla sembari memuji kecantikan Moza.


"Entahlah, Nay! Apa masih ada laki-laki yang mau dengan wanita seperti ku, hidupku sudah hancur di tangan Ayah kandung ku sendiri, rasanya Aku ingin pergi jauh dari tempat ini, Aku ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang laki-laki itu." batin Moza.


*


*


*


Sekarang tinggal waktunya mengesahkan pernikahannya dengan Nayla secara hukum. Gerald tidak memperdulikan tentang rencana sang Oma yang sudah menyiapkan jodoh untuknya, tentunya sekarang Gerald memantapkan hati untuk menjadikan Nayla sebagai Nyonya Gerald tanpa harus sembunyi-sembunyi.


"Nayla! Abang punya kejutan untuk mu, setelah kamu lulus sekolah, Abang akan langsung menikahimu secara resmi, dan hubungan kita akan jelas di mata hukum, bahwa kita bukanlah saudara kandung, ah ... Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan mu, Sayang!" ucap Gerald kegirangan sembari melajukan mobilnya pulang ke rumah.


Setibanya di rumah, Gerald yang berwajah ceria, langsung naik ke atas kamar tanpa memperdulikan Hera yang saat itu sedang menunggunya di ruang tengah.

__ADS_1


"Gerald! Kamu mau kemana? Kamu nggak makan malam dulu?" seru Hera sembari memperhatikan cucu kesayangan nya sedang naik ke lantai atas.


"Sebentar Oma! Nanti Gerald pasti turun!" jawabnya yang tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri tercinta.


Sesampainya di depan pintu kamar Nayla, Gerald langsung membuka pintu kamar dan Ia tidak menemukan Nayla berada di dalam kamarnya.


"Nay! Abang sudah pulang! Abang bawa kabar bahagia untuk mu, Nay! Kamu dimana, Sayang!" Gerald terus memanggil dan mencari keberadaan Nayla, tapi nyatanya Nayla tidak ada di dalam kamarnya. Gerald pun mencari nya sampai di kamar mandi, Tapi nihil, Gerald tidak juga menemukan Nayla.


Sejenak Ia melihat secarik kertas yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur Nayla.


"Apa itu?" Gerald mengambil kertas itu dan membacanya.


"Maafkan Nay, Bang! Nay tidak ingin mempermalukan mu, Nay tahu diri, Nay bukan siapa-siapa di rumah ini, semoga kamu bisa menerima keputusan ku."


Setelah membaca surat itu, wajah Gerald seketika memerah dan tangannya merremas kertas itu penuh amarah.


"Nayla! Kamu tidak bisa pergi meninggalkan ku seperti ini, Naylaaaaaaa ... !!!!!!!"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2