
"Sampai kapan kita akan membawakan lagu orang lain terus menerus, apa tidak terbersit dalam pikiran kalian untuk menciptakan lagu kita sendiri?"
Mia duduk bersandar di kursi empuk di rumah Will, yang merangkap sebagai basecamp dan studio Funeralopolis. Band kecil yang dibentuk oleh Mia dan Brandon setahun yang lalu, dan disusul dengan Will dan Graham yang baru empat bulan bergabung.
Keempatnya baru saja menyelesaikan latihan mingguan mereka.
"Mungkin sudah saatnya." Brandon, si tampan berambut hitam panjang menyahut, disapunya pandangan ke arah Mia, Will dan juga Graham.
"Kau punya liriknya?" tanya Will, mengarah pada Mia.
"Yep."
Mia melangkah ke arah sebuah upright piano yang berada di pojok ruangan. Kemudian duduk di depannya. Disentuhnya satu tuts di nada D minor. Kemudian jemari gadis itu dengan lihai memainkan beberapa nada yang mengurut pada nada pertama yang dia tekan tadi.
"Something like that," ujarnya menghentikan permainan pianonya. "Aku akan membawa liriknya lain kali."
"Wow, gloomy," puji Brandon. Diikuti anggukkan kepala Will dan Graham.
Mia tersenyum. Lalu beranjak dari duduknya dan menyambar tas selempangnya yang terletak di atas meja. Meraih biola yang telah terbungkus dengan softcase berwarna hitam kemudian menyampirkannya di punggung mungilnya.
"I gotta go, guys .. see you next week," ujar Mia sembari melambai kepada ketiga sahabatnya itu.
"Mia, biar kuantar kau pulang," seru Brandon seraya mengikuti langkah gadis itu keluar dari rumah Will.
"Apa tidak akan merepotkanmu? Bukankah rumahmu berlawanan arah dengan apartemenku?" Mia mengerenyitkan dahinya.
"Not at all," jawab Brandon seraya membuka pintu mobil ford tuanya yang terparkir di pinggir jalan.
"Okay." Mia segera masuk ke dalam mobil dan Brandon yang telah berada di belakang setir, menyalakan mesin dan juga wiper untuk menyingkirkan salju tipis yang menutupi kaca depan mobil, kemudian mulai mengemudi keluar dari area itu.
***
"Bagaimana badanmu, Rose .. kau sudah merasa lebih baik?"
Mia mendorong kursi roda Madame Rose menelusuri taman panti. Pemandangan musim dingin sungguh memukau, dengan pepohonan yang tertutup salju.
"Ya, aku sudah merasa lebih baik," jawab Madame Rose.
Mia menghentikan kursi roda Madame Rose yang didorongnya, kemudian berjalan ke depan wanita itu dan membenarkan letak syalnya yang sedikit terbuka.
"Thanks, Mia," ujar Madame Rose sembari mengelus punggung tangan gadis itu.
__ADS_1
Mia mengangguk. Kemudian kembali mendorong kursi roda dan melanjutkan jalan-jalan mereka.
"Mia, kau mengingatkanku pada seseorang," ucap Madame Rose.
"Owh, siapa dia?"
Madame Rose menarik nafas dalam-dalam. Memandang kosong ke depan.
"Seseorang yang sangat berarti dalam hidup cucuku .. wanita yang sangat baik."
Ingatan Mia melayang pada pria berambut pirang panjang yang dilihatnya beberapa hari lalu mengunjungi Madame Rose. Pria dengan wajah yang familiar namun Mia gagal untuk mengingatnya.
"Ah, Mia .. apa kau juga bekerja di tempat lain selain di sini?"
"Yeah, aku mengisi musik reguler di cafe-cafe di Brooklyn dan sekitarnya bersama bandku."
Mata Madame Rose membulat. "Kau seorang musisi?"
"Musisi amatir." Mia terkekeh.
"Wow .. what instrument do you play, Mia?"
"Emm .. I play violin, and also piano, and a little bit of guitar, but mostly I play violin in my band and sing."
Mia terbahak. "Aku sangat mencintai musik, tapi untuk bertahan hidup di New York, musik saja tidak akan cukup memberimu makan, jadi aku terpaksa bekerja di sini. Dan pada saat yang bersamaan aku mencoba meniti karirku di dunia musik. Begitulah ...."
Madame Rose mengangguk-angguk.
"Kau tahu, cucuku, yang kau lihat beberapa hari yang lalu, juga seorang musisi."
"Benarkah?"
"Ya, dia seorang gitaris yang hebat."
"How nice."
Wajah pria itu kembali terbayang. Wajah tampan dan dinginnya. Dan mata birunya yang mengisyaratkan kepedihan di sana.
"Aku akan memperkenalkanmu dengannya suatu saat," ujar Madame Rose.
Ada suatu perasaan yang menyeruak dalam dada Mia, namun gadis itu tidak tahu perasaan macam apa itu.
__ADS_1
"It's getting cold, Rose, I'll take you to your room."
***
Mia menekan bel di sebuah toko kelontong di daerah 6th avenue yang berpapan nama Warung Indonesia itu. Toko itu telah tutup. Terlihat dari papan kecil bertuliskan closed yang tergantung di kaca.
Beberapa saat menunggu, seorang lelaki paruh baya berwajah asia tenggara muncul membukakan pintu.
"Hallo om," sapa Mia pada lelaki itu.
"Mia, ayo masuk," ujar lelaki itu dengan wajah sumringahnya.
Mia mengikuti lelaki itu naik ke lantai atas. Di sana, di meja makan, nampak seorang wanita paruh baya dan seorang gadis berambut pendek telah menunggu.
"Hi, Tante, Debby, happy Thanksgiving." Mia meletakkan kotak kue brownis yang dibawanya ke atas meja yang telah penuh dengan hidangan makanan, kemudian memeluk keduanya secara bergiliran.
"Dateng juga kamu," ujar wanita paruh baya itu dingin. Sementara si gadis berambut pendek tersenyum sinis.
Mia menghela nafas pelan, keluarga pamannya ini memang tidak begitu menyukainya.
Dua tahun tinggal di negeri orang mencoba meniti karir musiknya. Satu setengah tahun menumpang di rumah pamannya, Om Surya yang telah menjadi imigran selama bertahun-tahun di negara ini. Hingga akhirnya lima bulan yang lalu Mia memutuskan untuk tinggal sendiri dan berjuang sendiri. Hati Mia sudah tidak kuat menerima perlakuan istri pamannya, Tante Merry dan saudara sepupunya, Debby, yang secara terang-terangan tidak menyukai kehadirannya, yang dianggap sebagai beban.
"Ayo, Mia .. isi piringmu, kita makan malam dengan tenang ya." Om Surya yang merasakan ketegangan di antara ketiga wanita itu berusaha mencairkan suasana.
"Udah kerja sekarang?" tanya Tante Merry masih dengan sikap dinginnya.
"Udah, Tante, di Linden Center, ngurus lansia,"
jawab Mia sembari mengisi piringnya dengan potongan daging kalkun dan sayur.
"Wah, bagus dong, udah gak ngerepotin papa lagi," sindir Debby sembari melirik ayahnya. Dia dan ibunya tahu, diam-diam Om Surya masih sesekali mentransferinya uang untuk membantu Mia memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Debby!" seru Om Surya pada anak semata wayangnya. Gadis itu tersenyum sinis.
Tenggorokan Mia terasa kering, hingga makanan yang dikunyahnya terasa sulit untuk ditelan.
"Perkembangan musikmu bagaimana, Nak?" tanya Om Surya mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan, Om .. aku ngisi reguler di beberapa cafe di Brooklyn dan sekitarnya setiap akhir pekan."
"Bagus banget, Mia," sahut Om Surya.
__ADS_1
Mia tersenyum. Diliriknya Tante Merry dan Debby yang acuh tak acuh. Suasana makan malam terasa berjalan lambat dalam pikiran Mia. Gadis itu benar-benar tidak merasa nyaman. Jika saja bukan karena undangan dari pamannya ini, Mia akan berpikir seribu kali untuk datang ke rumah ini lagi.
***