I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 31


__ADS_3

Jack, menejer The Rebellion berjalan mondar mandir di ruang studio. Di hadapannya ada Ben dan Greg yang tengah duduk di sofa dengan wajah dingin mereka. Sementara wajah Ben tampak memar akibat pukulan Greg semalam.


"Ini tidak bagus," ujar Jack sembari memegang belakang kepalanya. Tentu saja lelaki berkulit pucat itu tengah membicarakan kejadian semalam antara Ben dan Greg. Dan sekarang telah menjadi hot issue di berbagai media.


"Seriously, what were you guys thinking!" Jack tampak kesal. Ben dan Greg seperti dua anak sekolah bandel yang tengah dimarahi gurunya akibat saling berkelahi.


"Jangan sampai masalah pribadi kalian mempengaruhi mananjemen band." Jack memperingatkan keduanya. Raut mukanya begitu serius.


"Kita akan menggelar tour album satu bulan lagi, tolong fokuslah pada rehearsal kalian, aku tidak mau disalahkan oleh pihak EMI karena ketidakprofesionalan kalian yang bisa saja terjadi karena masalah pribadi yang belum selesai," terang Jack. Menyambar botol birnya lalu menenggaknya. "Apapun masalah di antara kalian, aku mohon, selesaikan sebelum tour dimulai," sambungnya.


"Sorry, Jack, it won't happen again," ucap Greg. Melirik Ben yang tak bergeming.


"I really hope so," ujar Jack. "Ben?"


"Fine, kita akan segera menyelesaikannya,"


sahut Ben dengan malas.


"That sounds better, boys!" Jack tersenyum puas.Lelaki itu menepuk pundak keduanya.


Kemudian berlalu dari tempat itu.


Ben dan Greg saling diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Sorry for last night, Ben," ucap Greg memecah keheningan. Ben menoleh ke arah sahabatnya itu. Lalu tersenyum tipis.


"I understand," sahut Ben.


"Kau dan Anita? Apakah kalian ...?" tanya Greg sembari memutar-mutar telapak tangannya.


"Kau tahu bagaimana perasaanku pada


Anita dari dulu, aku shock saat dia datang malam itu beberapa hari yang lalu. Aku sedikit bingung dengan perasaanku sendiri." Ben menghela nafas sesaat. "Dan di sisi lain, aku punya perasaan khusus untuk Laras, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya," lanjutnya.


"Laras is a good girl, just please don't hurt her," ucap Greg seraya meraih sebatang rokok, menyalakan kemudian menghisapnya.


Ben tak menyahut. Diteguknya botol birnya,


kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa.


***

__ADS_1


"Ben, Ben, bisa kau jelaskan kejadian malam itu dengan Greg?"


"Apa yang terjadi di antara kalian? Apa benar karena kalian berebut seorang wanita?"


"Bagaimana nasib The Rebellion selanjutnya, bukankah kalian akan mengadakan tour?"


Beberapa orang asisten The Rebellion menghalangi para wartawan untuk mengejar Ben yang baru keluar dari gedung apartemen tempat studio berada.


"Ben, lalu bagaimana hubunganmu dengan Anita Wallis, bukankah kalian kembali bersama?"


Para wartawan infotainment ini pantang menyerah. Mereka terus mengejar Ben.


Sebelum membuka pintu mobilnya Ben menoleh ke arah mereka. Membenarkan letak kacamata hitamnya dan tersenyum tipis.


"I don't have any comment for all of your questions specifically, I just wanna say that Greg and I are good now, okay, thanks," ujarnya seraya masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mengemudikannya meninggalkan tempat itu.


Ben mengemudikan mobilnya ke arah Tudor City. Ke apartemen Laras. Dia ingin menemui gadis itu. Atau sekedar melihatnya. Entahlah,


dadanya berkecamuk. Berada di dekat Laras membuatnya merasa nyaman. Ben merasa sangat lelah dan penat oleh kesibukannya akhir-akhir ini dengan rehearsal, jadwal konser, dan juga persiapan tour.


Ben mengetuk pintu bertuliskan nomor 659 itu pelan. Satu menit berlalu tidak ada jawaban. Lelaki berparas tampan itu kembali mengetuk pintu untuk kedua kalinya.


Pintu terbuka perlahan. Wajah Laras tersembul di baliknya. Lesu dan pucat. Namun ada binar bahagia terpercik di bola matanya ketika melihat lelaki berambut panjang perak yang diikat asal itu.


Ben terkekeh. Selalu saja kata-kata itu yang gadis ini tanyakan ketika sedang terkejut melihatnya.


"Hey, apa kau sakit?" Ben balik bertanya sembari memegang kening Laras. Panas.


Gadis ini sedang demam. Laras merapatkan sweater tebalnya. Kemudian terbatuk beberapa kali.


"A little," jawab Laras. "Kau mau masuk?"


"Kalau kau mengijinkan," ujar Ben.


Laras membuka lebar pintu apartemennya.


Mempersilahkan Ben masuk. Lampu di dalam ruangan yang terang membuat memar di sekitar hidung Ben terlihat.


"Kau punya memar di wajahmu," kata Laras seraya memeriksa wajah Ben.


"It's nothing," ujar Ben. "Kau yang sedang sakit Laras,apa kau mau aku bawa ke dokter?"

__ADS_1


Laras mengibaskan tangannya. Pertanda bahwa dia tidak serius menanggapi tawaran Ben.


"Kau mau anggur?" tawar Laras.


"Sure," sahut Ben sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


Satu menit kemudian Laras meghampiri Ben dengan membawa sebotol anggur dan dua buah gelas. Kemudian duduk di samping Ben dengan jarak setengah meter. Gadis itu kembali merapatkan sweaternya.


Ben membuka tutup botol anggurnya segera. Lalu menuangkan ke gelasnya dan juga gelas Laras.


"Kau dan Greg .. apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Laras sedikit cemas. Tentu gadis itu sudah melihat pemberitaan tentang insiden waktu itu.


"Yeah, we're good," jawab Ben sembari meneguk isi gelasnya.


"Thanks God .. aku sempat merasa bersalah telah menjadi penyebab perselisihan kalian berdua," kata Laras.


Ben tergelak. Dipandanginya wajah Laras.


Ekspresi muka gadis itu sungguh lucu. Hati Ben menghangat seketika.


Laras meneguk isi gelasnya. Kemudian menaikkan kakinya ke atas sofa dan merapatkannya ke dadanya. Ben menatap gadis itu sayu.


"I'm sorry Laras," ucapnya kemudian.


"Sorry for what?" Dada Laras berdesir tiba-tiba.


"For everything."


Laras mendecak. Lelaki ini selalu saja


minta maaf untuk hal-hal yang tidak


spesifik, gumamnya dalam hati.


Gadis itu terkesiap ketika tiba-tiba wajah


Ben mendekat ke arahnya. Cukup lama keduanya saling tatap dengan jarak yang begitu dekat. Ben mengelus pipi Laras. Membelai rambutnya lembut. Membuat Laras yang sedang demam seketika mengeluarkan keringat dingin.


Perlahan bibir Ben memagut bibir Laras dengan lembut. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya. Hembusan nafasnya terasa panas menerpa wajahnya. Lelaki itu menghentikan ciumannya. Lalu menarik pelan tubuh Laras ke dalam pelukannya. Dikecupnya puncak kepala gadis itu sembari mengelus punggungnya. Laras terlihat pasrah. Gadis itu meringkuk di pelukan lelaki yang digandrungi banyak wanita itu. Nyaman sekali. Seketika segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya hilang. Berganti dengan rasa hangat yang menyeruak memenuhi relung hatinya. Laras membalas pelukan Ben erat. Seperti mimpi saja rasanya berada dalam pelukan seorang Benjamin Chevalier. Entah dia adalah gadis yang beruntung atau ini adalah awal dari malapetaka yang akan menimpanya. Laras tidak peduli. Setidaknya malam ini, Laras ingin melepaskan kerinduannya terhadap lelaki menyebalkan ini.


Laras semakin mempererat pelukannya, begitu juga dengan Ben. Ruangan begitu hening tanpa sepatah katapun mereka ucapkan. Laras tertidur dalam pelukan Ben.

__ADS_1


***


__ADS_2