
"Anita?"
Ben terkejut melihat sosok mantan pacarnya itu. Penampilannya sedikit berantakan. Mata dan hidung wanita itu memerah entah karena habis menangis atau dalam pengaruh alkohol. Anita menghambur ke pelukan Ben yang kebingungan. Ragu-ragu lelaki itu menepuk-nepuk punggung Anita lembut. Benar saja, Ben mencium aroma whiskey bercampur dengan parfum mahal dari tubuh Anita.
"Ben .. I can't!" isak Anita yang semakin mempererat pelukannya. " I tried, but I can't!"
Ben membimbing Anita duduk, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan wanita itu. Mencondongkan badannya untuk melihat wajah Anita yang tertunduk. Bahunya terguncang karena isakan tangis. Ben menopang kedua siku lengannya di atas pahanya, dengan kedua telapak tangan dieratkan satu sama lain. Kemudian menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada wanita cantik di hadapannya ini.
"Look, Anita .. I didn't mean to hurt you but I'm seeing someone now, and .. emm .. damn it!" maki Ben pada dirinya sendiri yang tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"We loved each other, Ben .. how could you forget about that?" seru Anita seraya mengguncang bahu Ben.
"Itu sudah lama sekali, Anita .. dan aku tidak mau mengungkit apa yang sudah kau lakukan padaku, because I have moved on," sanggah Ben.
Anita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menyembunyikan wajah putus asanya yang dibanjiri air mata.
"Aku bangkrut, Ben .. aku tidak bisa lagi menopang kehidupanku di Hollywood, ini benar-benar menghancurkanku, you're my only hope."
Ben menyandarkan punggungnya di kursi, memandang Anita dengan perasaan iba.
"And I want you too .. I'm still in love with you, Ben, I swear to God!" isak Anita.
Ben menarik nafas dalam-dalam. Sungguh otaknya buntu memikirkan tindakan apa yang harus dilakukan pada Anita.
"Bisakah aku tinggal di apartemenmu beberapa hari, Ben? Aku butuh tempat untuk menenangkan diri, aku benar-benar depresi."
Ben terperangah mendengar permintaan Anita. Tapi bagaimana dia menolak tanpa menyinggung wanita itu.
"Please, Ben .. anggap saja kau menolong seorang teman lama," pinta Anita memelas.
Ben menghela nafas dalam-dalam. Kini dia sendiri yang frustrasi.
"Okay ....," ucap Ben dengan berat hati.
"Thank you, Ben." Anita memeluk Ben dengan eratnya. Senyum wanita itu kini mengembang.
__ADS_1
Binar matanya penuh harapan. Sementara Ben dalam hati menyesali ucapannya. Ini akan membuat hubungannya dengan Laras rumit. Tapi Ben merasa tidak tega menolak Anita yang tengah memerlukan bantuannya.
Semoga saja ini tidak akan berakhir kacau.
***
"Kau serius?"
Catherine membulatkan mata abu-abunya sembari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Laras tersenyum malu. "Aku senang sekali mendengarnya," ucap Catherine kemudian.
Keduanya tengah berada di apartemen Laras. Catherine mengunjungi sahabatnya yang sedang sakit itu dan membawakan beberapa botol bir untuk obat, yang tentu saja membuat Laras geleng-gelang kepala. Obat macam apa itu?
"Ini seperti mimpi, Cath .. tapi aku ketakutan," ujar Laras seraya meneguk gelas birnya.
"Apa lagi?"
"Aku takut semua akan berubah menjadi mimpi buruk, kau tahu, dia adalah Ben Chevalier, dan aku bukan siapa-siapa, hanya gadis acak yang kebetulan bertemu dengannya. Kenapa dia bisa menyukaiku, itu yang tidak kumengerti." Laras menggigit bibirnya pelan.
"Because you're different, Laras. You're special, you know that?" sanggah Catherine.
"If you say so." Laras terkekeh.
Laras kembali terkekeh. Catherine terdengar seperti seorang psikolog yang tengah memberikan terapi kepadanya.
"I'm deadly serious!"
"Okay, okay ...."
Catherine menuang bir ke dalam gelasnya. Lalu meneguknya beberapa kali.
"So you don't have to work again then? I guess Ben will support you financially," kata Catherine.
" Oh no, no .. he's just my boyfriend, not my husband," sanggah Laras.
"So what?"
__ADS_1
Laras menggeleng. "Akan aneh jika tiba-tiba aku berhenti bekerja dan menggantungkan hidupku pada Ben, murahan sekali."
"But he's rich," sahut Catherine.
Laras mengedikkan bahunya. "Okay, mungkin aku akan minta bantuannya sesekali dalam keadaan darurat."
Keduanya terbahak. Kemudian menghabiskan sisa bir dalam gelas mereka.
***
Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Laras membuka matanya ketika terdengar suara ketukan dari pintu apartemennya. Diperiksanya layar ponselnya, alisnya mengerenyit. Ada sekitar sepuluh panggilan tak terjawab dari Ben. Dan satu pesan berbunyi,
Laras, open the door.
Dengan menyeret langkahnya menuju pintu dan membukanya. Matanya yang berat kini terasa segar bugar begitu melihat senyuman Ben yang tersungging dari bibirnya.
"Sedang apa di sini?" tanya Laras dengan wajah herannya.
Ben masuk tanpa menunggu ijin dari Laras. Lalu menghempaskan badannya di sofa.
"Boleh aku menginap di sini? Aku terlalu lelah untuk mengemudikan mobilku sampai ke Big Apple," ujar Ben dengan santainya.
"Ohya?" Laras menaikkan alisnya. Big Apple hanya dua puluh menit dari sini, dasar pembohong!
"Please," pinta Ben memasang muka memelasnya.
Laras duduk di sebelah Ben yang tengah meletakkan ponselnya di atas meja. Menoleh ke arah Ben yang masih saja menyunggingkan senyumnya itu. Apartemen Laras sempit, jika dibandingkan dengan tempat tinggal Ben pastilah seperti bumi dan langit. Laras tak habis pikir.
"Terserah kau saja," ujar Laras pasrah.
"Well, jika kau ijinkan aku ingin menggunakan kamar mandimu." Ben beranjak dari duduknya. Lalu tanpa menunggu jawaban Laras lelaki itu melenggang masuk ke dalam kamar. Laras mendesis pelan. Lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Menunggu Ben selesai melakukan aktifitasnya di kamar mandi.
Ponsel Ben bergetar. Laras melongok sekilas tanpa memperhatikan siapa yang menelpon, kemudian diacuhkannya. Beberapa saat kemudian ponsel Ben kembali bergetar. Kali ini Laras penasaran siapa yang menelpon Ben dini hari begini. Nama Anita tertera di layar. Dada Laras berdesir. Namun dibiarkannya saja hingga panggilan masuk berganti menjadi tak terjawab.
Satu pesan masuk dari Anita muncul di layar. Tanpa sengaja Laras membacanya.
__ADS_1
Ben, kau di mana? Kenapa kau belum pulang? Aku menunggumu, aku ingin berbicara denganmu, aku kacau.
***