
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
Mia tengah menyuapi dirinya dengan sesendok mashed potato, ketika dilihatnya Chante, rekan kerjanya terbengong - bengong sembari menatap ke arah pintu dapur. Gadis itu mengalihkan pandangannya searah dengan apa yang dilihat oleh Chante. Dadanya berdegup kencang. Sosok berambut panjang pirang dan berantakan tengah tersenyum seraya melambai ke arahnya.
"Ada yang bisa kami bantu, Mr. Chevalier?" tanya Chante yang tak kalah gugupnya. Ben menggeleng. Sementara lidah Mia terasa kelu. Hanya senyuman di bibirnya yang mampu dia sunggingkan demi membalas lambaian tangan Ben.
"Emm .. Rose sedang .. berjalan - jalan di taman belakang dengan .. emm .. seorang perawat." Mia berusaha mengendalikan dirinya.
"Aku mencarimu, Mia."
Mia dan Chante saling pandang.
Ben terkekeh. "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Emm .. tapi kulihat kau sedang makan siang. Jadi, sebaiknya kau selesaikan dulu. Aku akan menunggumu di cafe."
Setelah mengatakan semua itu, Ben kembali menyunggingkan senyumnya dan berlalu dari tempat itu.
"Hmmm ...." gumam Chante. Memandang Mia dengan tatatan mata jahil.
"Pasti ada hubungannya dengan musik." Mia menyela.
"Or something else," seloroh Chante sembari menyenggol bahu Mia.
"Tidak mungkin." ujar Mia seraya menghabiskan makanannya dengan cepat.
Setelah piringnya kosong, gadis itu berpamitan pada Chante dan bergerak menuju sebuah cafe outdoor yang berada di sebelah gedung utama.
Suasana di sana cukup lengang. Mia memutar pandangannya mencari sosok Ben. Dilihatnya pria itu telah berada di sana, di meja yang ada di bawah pohon oak sembari memainkan ponselnya.
Mia berdiri mematung memandangi sosok yang mampu membuat dadanya berdebar itu. Ben menyadari kehadiran Mia dan mengerenyitkan dahinya heran. Gadis itu hanya berdiri saja dan tidak menyapanya.
"Mia, are you alright?" tanya Ben.
Mia terkesiap. Lalu meringis malu. Kemudian segera melangkah mendekati Ben dan duduk di hadapan pria itu.
"Hi, Mr. Chevalier," sapa Mia gugup.
Ben tertawa kecil. Lalu memandang Mia dengan tatapan miring. "Aku merasa terlalu tua dan formal kalau kau memanggilku seperti itu. Panggil Ben saja."
Mia terkejut mendengar perkataan Ben. Namun sejurus kemudian senyumnya terbit. Perasaan hangat tiba - tiba menjalar dalam dadanya. Mata birunya. Oh I can't!
"Mau pesan sesuatu?" tawar Ben.
"Ah, tidak usah, Mr. Chevalier .. emm .. maksudku, Ben." Memanggil nama depannya membuatnya merinding. Dadanya tiba - tiba terasa sesak.
"Well, Mia, Rebellion sedang menggarap album ke empat, kami ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Aku ingin menambahkan satu instrumen dalam satu atau dua lagu. Dan Greg, basis kami, mengusulkan untuk memakai biola saja. Aku pikir itu akan menjadi sebuah perpaduan unik. Apa kau bersedia membantu kami?"
Mia menelan ludahnya. Gadis itu tidak bisa berkonsentrasi dengan apapun yang keluar dari mulut Ben. Senyuman manis di sela - sela gerakan bibirnya benar - benar membuat Mia terhipnotis.
__ADS_1
"Mia, are you listening?" Ben mengerenyitkan dahinya, melihat Mia terbengong - bengong.
"Ouh, ya, maafkan aku." Mia menyadarkan dirinya sendiri. Dalam hati dia ingin menampar wajahnya berkali - kali. "Tadi kau menanyakan apa aku bersedia membantu? Kau menawariku berkolaborasi dengan Rebellion?" ujarnya ketika kata - kata Ben mulai masuk ke dalam otaknya. Dan hal itu membuatnya bertambah gugup.
"Yeah."
"Itu .. seperti mimpi, emm .. apa kau serius?" tanya Mia tak percaya.
"Aku serius. Kau violinist yang bagus. Aku pernah bilang padamu aku pernah melihatmu tampil di Bar Belly, bukan?"
Mia mengangguk.
"Biolamu dan heavy rock blues? Itu keren." Ben memuji, membuat Mia seakan terbang tinggi ke angkasa. Gadis itu berusaha memijakkan kaki kembali ke bumi.
Dia mengingatnya, dia benar - benar mengingatnya.
"Aku .. bersedia," ujarnya terbata.
Mata biru Ben berbinar. "Senang sekali mendengarnya. Okay, kau bisa datang ke studio sabtu dan minggu." Pria itu berpikir sebentar. "Kau bisa memberiku nomer ponselmu? Nanti aku akan mengabarimu jam berapa kau bisa datang ke studio." Ben menyerahkan ponselnya pada Mia untuk gadis itu mencatatkan nomer teleponnya.
"Nice," ucap Ben setelah gadis itu selesai mencatatkan nomer di layar ponsel. "Well okay, then .. I gotta go, see you again, soon?"
"Sampai jumpa lagi, Mr. Chevalier .. emm .. Ben."
Rasanya aneh memanggilnya dengan nama depannya.
***
"Brand, kau tidak akan percaya ini."
Mia menyeruput cokelat panasnya, berceloteh dengan antusias pada Brandon yang duduk di hadapannya, di sebuah cafe favorit keduanya di dekat Brownsville, Brooklyn.
"Apa itu? Cepat katakanlah."
Mia meringis senang. "Ben Chevalier menawariku berkolaborasi di beberapa lagu The Rebellion."
"Ohya?" Brandon tersenyum, getir. "Selamat, Lammy."
"Gosh, I feel like this is a dream." Mia bersorak.
"Kau senang karena bisa berkolaborasi dengan Rebellion atau karena kau bisa dekat dengan Ben Chevalier?" tanya Brandon menggoda Mia.
Bibir gadis itu manyun. Mia enggan menjawab.
"So happy for you, lil sis." Brandon menepuk - nepuk punggung tangan Mia lembut. "Kuharap kau bisa mendapatkan pria pujaanmu itu."
Mia mendecak. "Hei, aku senang karena bisa berkolaborasi dengan Rebellion tentunya, kau ini selalu saja menggodaku," gerutunya.
__ADS_1
Brandon terkekeh. Kau cantik sekali kalau sedang menggerutu. Lamia, aku tidak sanggup.
"Kau tahu? Jangan jadi pengecut seperti aku."
"Pengecut?" Mia mengerenyitkan keningnya.
"Ya, tidak berani mengatakan perasaanmu pada orang yang kau sukai."
Mia menghela nafas dalam - dalam.
"Tidak seperti itu, Brand, aku .. emm .. dia ...." Mia tergagap. "Lagipula, kau tahu bukan siapa dia, dan siapa aku?"
"You'll never know unless you try."
"Katakan itu juga pada dirimu sendiri!" hardik Mia setengah gusar.
"Okay." Brandon menatap lekat mata Mia, membuat gadis itu heran, sekaligus jengah. "Lamia, kau harus tahu, selama ini aku memendam perasaanku padamu. Tapi sekarang aku tidak bisa menahannya lagi, aku mencintaimu."
"What?"
"I love you, Lammy."
"Tolong jangan bercanda, Brand!"
Tawa Brandon meledak. Lalu menunjuk - nunjuk wajah Mia yang merah padam.
"Aku sedang memberimu kursus, Lammy. Begitu caranya mengungkapkan perasaanmu pada seseorang yang sudah lama kau sukai."
"Geez, Brand, it's not funny!" Mia memutar bola matanya sebal.
"Lihat dirimu, ekspresimu sungguh lucu."
"I really hate you, Brandon Boyd!" desis Mia.
Tawa Brandon masih saja berderai. Sesekali disekanya air mata yang merembas di sudut matanya. Mia mendengus kesal.
"Come on, I'll walk you home," ujar Brandon seraya menaruh beberapa lembar pecahan satu dollar di atas meja. Mia masih bersungut - sungut menahan kekesalannya.
"Ayo, Lammy."
Brandon menyambar lengan Mia dan menariknya hingga gadis itu terpaksa beranjak dari duduknya dan mengikuti Brandon keluar dari cafe.
"Maaf, aku hanya bercanda. Jangan marah."
Brandon merangkul pundak Mia dari samping. Gadis itu menoleh sekilas ke arah sahabatnya itu. Kini pikirannya dipenuhi dengan kata - kata Brandon beberapa saat lalu. Benarkah dia hanya membuat lelucon?
No, no, please, Brand, don't!
__ADS_1
***