
BOUCHERIE WEST VILLAGE, MANHATTAN.
Restauran Perancis ini tempat kerja baru Laras diakhir pekan, atas bantuan Maya yang juga bekerja di sana. Pengalamannya bekerja sebagai waitress membuat Laras dengan mudah menyesuaikan diri.
Menejer restauran adalah seorang lelaki berumur tigapuluhan bernama Stephane Jourdain. Seorang keturunan Perancis yang cukup tampan dengan rambut kecokelatan dan mata abu-abu. Aksen american-inggrisnya terdengar lucu di telinga Laras. Dia cukup baik walaupun sedikit perfeksionis.
Jam kerja Laras dari pukul 10 pagi hingga 5 sore. Cukup melelahkan, namun hari pertama Laras bekerja berjalan cukup mulus. Melayani tamu, bersih-bersih dan hal semacamnya.
Sembari merapikan syal di lehernya Laras melangkah keluar restauran setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya terlebih dahulu. Sembari menunggu Maya yang sedang mengurus sesuatu, Laras duduk di antara kursi-kursi kosong bagian luar restauran, memainkan ponselnya.
Satu pesan masuk ke layar ponselnya. Dari Catherine.
Aku akan menjemputmu jam 7, berdandanlah dengan seksi, kita akan bersenang-senang malam ini.
Laras terbahak pelan membaca pesan dari sahabatnya itu. Menonton konser musik rock dengan dandanan seksi? Ada-ada saja gadis itu.
Bayangan wajah Ben terlintas. Hatinya menghangat. Laras suka sekali melihat Ben dengan gitarnya di atas panggung. Terlihat Ugal-ugalan tapi mempesona. Skill bermain gitarnya pun sangat mumpuni. Pantas saja dia masuk ke dalam 100 gitaris terbaik versi Rolling Stone. Ya, Laras mengetahuinya ketika suatu waktu dia mencoba mencari tahu riwayat seorang Benjamin Chevalier lewat google. Banyak sekali pemberitaan tentang lelaki itu. Termasuk mantan pacarnya seorang aktris Hollywood bernama Anita Wallis. Foto lama keduanya pun banyak sekali tersebar di internet.
"Menunggu seseorang?"
Laras tersadar dari lamunannya mendengar suara seseorang menyapanya. Stephane Jourdain, lelaki bernata abu-abu itu menarik kursi di hadapannya kemudian duduk.
"Ah ya, Mr Jourdain .. aku sedang menunggu Maya menyelesaikan pekerjaannya," jawab Laras.
Stephane tersenyum. "You worked well today, not bad for your first day," ujarnya dengan aksen perancisnya yang cukup kental.
"Terimakasih," ucap Laras.
__ADS_1
Tak lama Maya muncul dan tersenyum ke arah keduanya. Sedikit jahil matanya mengerling kepada Laras.
"Yuk, Ras!" serunya sembari mengenakan mantelnya. "See you tomorrow, Mr Jourdain,"
ucapnya pada Stephane.
"A demain, les filles," sahutnya menggunakan bahasa Perancis.
Keduanya melambaikan tangan ke arah Stephane dan melangkah menelusuri trotoar, menuju stasiun subway yang terdekat.
"Kayaknya Stephane naksir kamu deh Ras," ujar Maya sembari terkikik. Keduanya tengah menyeberang jalan raya.
"Ngaco ah," sahut Laras.
"Eh beneran .. aku perhatiin dari tadi siang loh, nyuri-nyuri pandang mulu ke kamu."
Laras tergelak. "Bodo ah," timpal Laras.
"Ihh .. ganteng juga kali," celetuk Maya sembari menempelkan kartu metronya ke palang pintu mini.
"Buat kamu aja sana," kata Laras.
"Seleraku tetep cowok indonesia lah." Maya menimpali. Laras terkekeh. "Jangan-jangan udah punya cowok lagi nih kamu," kata Maya penuh curiga. Gadis itu tentu tahu dulu Laras berpacaran dengan James.
"Hah .. enggak, gak ada waktu kali buat pacaran," sanggah Laras.
Kereta bawah tanah pun berhenti di hadapan mereka. Kedua gadis itu masuk dan menghambur dengan penumpang lainnya.
***
__ADS_1
Laras yang telah rapi dengan kaos hitam lengan pendek dan celana jeans birunya tengah duduk di sofa menunggu Catherine menjemputnya. Riasan wajahnya sedikit berbeda malam itu. Eye shadow berwarna hitam membuat kesan gothic yang cukup kentara. Itu adalah ide Catherine, tentu saja.
Laras hanya mengiyakan saja agar sahabatnya itu tidak usah mencerewetinya.
Terdengar suara pintu diketuk. Laras bergegas membukanya. Sosok Catherine muncul dengan senyumnya. Membawa dua botol bir di tangannya. Dandanannya cukup mencolok dengan gaya emonya.
Catherine meletakkan dua botol birnya di atas meja. Dan membukanya dengan tutup botol yang tak jauh dari sana. Keduanya akan menghabiskan masing-masing satu botol sebelum berangkat menonton konser The Rebellion.
"Cheers!" Catherine dan Laras mengadu botol bir mereka.
"Kau sudah siap melihat Ben?" goda Catherine.
Laras tergelak. "Aku akan fokus kepada musiknya saja, aku tidak mau menjadi groupiesnya," terang Laras.
"Haahh Laras sudahlah, akui saja," timpal Catherine.
Laras menyenggol bahu Catherine dengan bahunya sembari memanyunkan bibirnya.
Bagaimana mengakuinya, sedangkan Ben saja tidak pernah mengatakan secara langsung kalau dia menyukainya. Dan ketakutan Laras, meskipun berkali-kali berucap kepada diri sendiri untuk santai sedikit saja, namun gadis itu merasa tengah bermain-main dengan api, yang bisa membakarnya kapan saja. Ya, memupuk perasaan terhadap seorang Benjamin Chevalier adalah hal yang sangat beresiko.
"Let's go!"
Seruan Catherine membuat Laras terkesiap.
Gadis itu mengangguk. Dikenakannya mantel tebalnya kemudian mengikuti sahabatnya itu keluar dari apartemen sempitnya.
***
Catatan:
__ADS_1
Au demain, les filles - see you tomorrow, girls (in french)