I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 65


__ADS_3

"See you, Larry."


Laras berpamitan dengan bosnya. Lelaki paruh baya itu melambaikan tangannya. Laras merapatkan mantel tebalnya, bersiap menangkal hawa dingin yang akan menerpanya begitu keluar dari McFadden's Saloon.


Gadis itu memandang sekeliling. Di luar bar, jalanan tampak lengang. Hanya ada satu atau dua mobil yang melintas. Dia berharap ada satu mobil yang tiba-tiba berhenti di hadapannya dan pengemudinya mengekorinya berjalan sampai ke apartemennya, berdalih hanya kebetulan lewat dan melihat Laras.


Laras tersenyum simpul. Ditariknya nafas dalam-dalam. Empat minggu setelah kepulangannya dari Wichita menemui Ben, lelaki itu hanya menelponnya sekali. Itu saja pembicaraan mereka begitu canggung seperti biasa, tanpa berusaha untuk saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


Laras pun tidak ingin mengganggu Ben karena lelaki itu terlihat begitu sibuk dengan tournya. Terlihat dari aktifitasnya di vlog bersama bandnya, yang sesekali Laras tonton di channel youtube mereka. Terakhir yang Laras tahu mereka sedang berada di Los Angeles.


Laras mempercepat langkahnya menjauh dari McFadden's Saloon, melewati trotoar luas di depan gedung-gedung Tudor City yang menjulang tinggi.


"Buru-buru sekali, Nona?"


Laras terkesiap. Menghentikan langkahnya. Namun tak segera menoleh ke arah asal suara. Apakah otaknya sudah eror, hingga dia berhalusinasi mendengar suara yang dirindukannya itu.


"Kau buru-buru sekali, Nona?"


Laras menoleh ke belakang. Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, memastikannya tidak salah lihat. Memastikan apa yang ada dihadapannya nyata dan bukan halusinasi.


Sosok di hadapannya itu tersenyum sembari menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan, entah ingin menyadarkan Laras atau hanya sebuah lambaian kecil. Rambut pirang panjangnya menyembul dari dalam hoodienya. Menari-nari tertiup angin malam yang dingin.


"Kau .. ada di Manhattan?" ucap Laras terbata.


Ben mengangkat tangannya, memajukan bibir bawahnya. "I guess so ...." Lalu senyum lebarnya yang menggemaskan pun terbit.


"Sejak kapan?" tanya Laras. Dalam hati ingin ditepuknya jidat berkali-kali. Kenapa tidak menghambur saja dan dipeluknya lelaki yang tengah berdiri dua mater di hadapannya ini.


"Kau tidak akan memberikan pelukan sambutan untuk kepulanganku ke Manhattan? Dari pada berdiri saja di situ seperti sedang melihat hantu." kata Ben membuat Laras tersipu.


Dengan langkah pelan Laras berjalan mendekat ke arah Ben dan dengan canggung memeluk lelaki itu. Laras memejamkan matanya. Menikmati aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa nyeri menahan rindu selama beberapa minggu ini lenyap seketika.


Laras melepaskan pelukannya. Lalu memandang Ben tajam. "Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba seperti ini!" seru Laras sembari menukul dada Ben pelan.


"Ekspresi terkejutmu terlalu berharga untuk dilewatkan."

__ADS_1


Laras mendecak. "Aku bahkan tidak mendengar kau memarkir mobil," ujar Laras seraya memandang ke arah mobil Ben yang terparkir di pinggir jalan tak jauh dari mereka.


"Because I'm a ninja." Ben terkekeh.


"Wow .. mengagumkan sekali," sindir Laras.


"Aku antar ya," tawar Ben.


Laras menunjuk ke arah gedung apartemennya, yang sudah mulai terlihat di balik gedung-gedung yang lain.


"Sudah dekat," bisiknya.


Ben meringis. "Mungkin saja kau mau mengundangku untuk minum anggur atau .. berbicara semalaman .. atau .. mmm ...." Ben mengerlingkan matanya seraya memutar-mutar jemari tangannya.


"Minum anggur dan bicara semalaman ide yang bagus," potong Laras sembari menaikkan alisnya.


"Deal .. come on."


Ben menarik tangan Laras dan membawa gadis itu berjalan melewati gedung-gedung dan taman Tudor City yang lengang. Laras tak henti-hentinya mengulum senyumnya. Sesekali diliriknya Ben yang tanpa sengaja juga tengah menoleh ke arahnya. Laras meringis saja mencoba terlihat senormal mungkin. Akan terlihat bodoh jika Ben melihatnya tersenyum sendiri.


***


"Kenapa berdiri saja di situ?" tanya Ben yang heran melihat Laras berdiri mematung di depan pintu kamarnya, memandang ke arah Ben tanpa kata-kata.


" Owh .. sorry," Laras segera berjalan ke arah Ben dan duduk di sampingnya memberi jarak setengah meter.


"It's good to see you again, Laras," ujar Ben seraya meneguk gelas anggurnya.


" Me too," jawab Laras lirih.


Ben menyalakan rokoknya. Melirik Laras sembari memasang senyum menggodanya.


"How was your tour?" tanya Laras, mencoba mengurangi rasa canggungnya.


"It was great ...."

__ADS_1


Laras mengangguk-angguk. Mengambil gelas anggurnya lalu membasahi tenggorokannya yang kering.


"Emh .. Laras, boleh aku menginap di sini?" tanya Ben, membuat Laras terbatuk karena ada sedikit cairan anggur yang membuatnya tersedak. "You okay?" tanya Ben sembari menepuk punggung Laras pelan. Laras mengangkat telapak tangannya memberi tanda dia baik-baik saja.


"Tapi aku hanya punya satu kamar .. kalau kau tidak keberatan tidur di sofa," ujar Laras. Dadanya berdesir. Apa yang direncanakan Ben?


"Aku tidak keberatan," sahut Ben sembari menyunggingkan senyum yang entah apa artinya. "Aku juga tidak keberatan kalau kau mau menawariku untuk berbagi ranj..."


"Owh Ben .. apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan memeriksa isi kulkasku." potong Laras seraya bangkit dari duduknya. Dadanya berdegup dengan kencang. Ben hanya melongo melihat gerak-gerik Laras yang tampang gugup dan canggung.


"Sial! Hanya ada beberapa potong pizza sisa makan siang tadi." Laras berdiri mematung sembari memegang pintu lemari pendinginnya yang terbuka. Gadis itu menghela nafas beberapa kali.


"I'm not hungry, Laras .. come here," Ben terkekeh dari balik sofa. Mengintip Laras yang kini tengah berjalan mondar mandir di dapur.


"Okay," sahut Laras segera. Lalu berjalan dengan hati berdebar dan kembali duduk di sebelah Ben yang tersenyum dengan absurdnya. Lelaki itu membuka jaket hoodienya, tinggalah t-shirt putih yang membalut tubuh bertattoonya itu. Laras menelan ludahnya dengan susah payah. Badannya terasa panas dingin seperti disiram air es kemudian disambar api secara bersamaan.


Ben berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. " Emm .. Laras, don't get me wrong, I know you're not ready for .. emm .. you know ...." Ben memutar-mutat telapak tangannya, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada Laras. Namun gagal. "Aku akan menunggu ...." ucap Ben pada akhirnya.


Laras kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Kini tenggorokannya benar-benar kering. Dia membutuhkan segelas anggur untuk membasahinya.


I really really really want you, Ben. Laras menutup mulutnya dengan cepat.


"Come here ...." Ben membuka kedua tangannya. Bersiap untuk menampung tubuh Laras di dalam pelukannya. Dengan ragu gadis itu mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada Ben.


Laras memejamkan matanya. Seperti mendapat sandaran untuk melepaskan segala beban dalam hidupnya. Seketika gadis itu merasa bahwa kehidupan di New York tidak lagi terasa berat untuk dijalani.


"Ben ...."


"Yes?"


"Kau membiarkan mobilmu begitu saja di pinggir jalan .. kalau hilang bagaimana?"


Ben menarik nafas dalam-dalam.


"Biarkan saja."

__ADS_1


***


__ADS_2