I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 77


__ADS_3

Laras membuka matanya ketika dirasakannya pesawat berguncang sedikit karena turbulance kecil. Dilihatnya Ben tengah menonton film dari layar berukuran sedang di depannya sembari memegang gelas berisi wine.


"Hei, sudah bangun," ucap Ben dengan wajah berseri-seri. "Do you want some wine?" tawarnya.


"Orange juice, please," sahut Laras sembari melirik sekotak sedang jus jeruk yang dari kemasannya tampak terlihat segar.


"Okay ...." Ben menuangkan cairan segar jus jeruk itu ke dalam gelas yang telah disiapkan.


Laras tersenyum sembari mengucapkan terimakasih kepada kekasihnya itu. Kemudian segera membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


"Ben .. sepertinya aku tidak bisa menunggu sampai Portland untuk mendengar ceritamu," kata Laras.


Ben menarik nafas dalam-dalam, lalu menggenggam telapak tangan Laras erat.


"Tapi berjanjilah padaku kau tidak akan marah dan menuduhku macam-macam, okay?"


Laras mengerenyitkan dahinya. Kini dadanya berdebar kencang. "Apakah sesuatu yang buruk?"


Ben menggeleng. "Listen, baby ...." Ben kemudian menceritakan dengan detail kejadian di Chicago bersama Hailey.


"Jadi kau tidur dengannya?" pekik Laras seraya menarik kasar telapak tangannya dari genggaman Ben. Wajah gadis itu memerah seketika menahan kemarahan.


"Tidak, sayang .. maksudku iya, tapi tidur dalam arti yang sesungguhnya, bukan tidur seperti itu." Ben memainkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya membuat seperti tanda kutip.


"Bagaimana kau bisa yakin kau tidak TIDUR dengannya? Kau mabuk!" sungut Laras menekankan kata "tidur" tepat di depan wajah Ben.


" I swear, I mean .. I'm one hundred percent sure!"


Laras mendesis. Lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dilipatnya kedua tangan ke depan dadanya.


"I'm so sorry, Laras .. baby, please don't get mad," bujuk Ben seraya mengelus lengan Laras lembut. Namun gadis itu menepisnya segera.


"Laras .. please," ucap Ben frustasi. Namun gadis itu tak bergeming. "Baby, please talk to me." Disentuhnya kembali lengan Laras namun gadis itu kembali menepisnya.


"Leave me alone!" seru Laras sembari menatap Ben dengan sorot mata penuh amarah yang membuat Ben bergidik ngeri.


Pada akhirnya Ben membiarkan kekasihnya itu tenggelam dengan rasa marahnya. Memberinya waktu untuk mendinginkan kepalanya kembali.


***



PORTLAND INTERNATIONAL AIRPORT, PORTLAND, OREGON.


Ben berusaha meraih tangan Laras yang berjalan beberapa langkah di belakangnya namun gadis itu menolaknya. Wajahnya masih ditekuk pertanda rasa marah masih menguasai dirinya.


"Kemari, jalan di sampingku," ujar Ben sembari menghentikan langkahnya menuju pintu keluar bandara.

__ADS_1


"Kau jalan duluan saja," tolak Laras dingin.


Ben mengacak rambutnya frustasi. Kemudian menatap Laras dengan tatapan memohon.


"Aku bilang kau jalan duluan saja!" bentak Laras.


"Okay, okay .. tapi jangan menghilang ya." Ben memperingatkan. Laras mendecak. Dasar menyebalkan!


Lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke pintu keluar bandara. Di sana telah menunggu sebuah mobil mercy mewah berwarna hitam dengan sopir yang berdiri di sampingnya, mengangguk hormat begitu melihat kedatangan Ben, yang disusul Laras beberapa langkah di belakangnya.


"Good evening Mr. Chevalier," sapa sang sopir yang dari penampilan fisiknya sepertinya telah berumur lima puluhan. Dia adalah salah satu sopir pribadi keluarga Chevalier.


Lelaki itu membukakan pintu belakang mobil untuk Ben.


"Hi, Brian." Ben menyambut sapaan lelaki bernama Brian itu. Ben mempersilahkan Laras untuk masuk terlebih dahulu.


"Good evening, Miss," sapa Brian kepada Laras. Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil, disusul Ben.


Brian menutup pintu mobil lalu berjalan memutar menuju ke kursi kemudinya.


"Kau ingin aku mengantarmu langsung ke Sherwood?" tanya Brian yang telah duduk di belakang kemudi.


"Yes, Brian, thank you," jawab Ben.


Mobilpun melaju. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, namun matahari masih terang. Membuat Laras leluasa menikmati pemandangan musim semi sepanjang jalan dari bandara menuju pusat kota Portland.


"Kau masih tidak ingin bicara denganku?" tanya Ben yang memaksa gadis itu menoleh ke arahnya sekilas. Laras mengedikkan bahunya. Kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah jendela mobil.


***



WEST LYNN, SHERWOOD, OREGON.


Laras memandang takjub dengan keindahan yang disuguhkan di depan matanya itu. Sebuah rumah besar berhalaman luas dengan rerumputan hijau yang membentang sepanjangnya. Dan yang paling membuatnya tertarik adalah, rumah besar itu berdiri di samping sebuah danau berair biru yang dikelilingi oleh pepohonan rindang.


"Ini rumah keluargamu?" tanya Laras tak mampu menahan rasa penasarannya, hingga gadis itu lupa kalau dirinya sedang berperang dingin dengan kekasihnya itu.


"No, ini rumah Rose," jawab Ben. Senyumnya mengembang. Ah, gadis ini telah melunak.


Ben mencoba menggandeng tangan Laras dan hendak mengajaknya masuk, namun rasa kesalnya kembali muncul dan membuatnya sadar untuk segera menjaga jarak dengan lelaki tampan tapi menyebalkan itu.


"Aku bisa jalan sendiri!" ujarnya ketus.


"Baiklah, Nona." Ben mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Keduanya masuk ke dalam rumah bercat cokelat muda itu. Laras kembali terkagum-kagum dengan interior rumah yang terlihat elegan. Di dinding ruang tamu tertempel sebuah lukisan seorang wanita muda berambut pirang dengan gaya pin-up yang terlihat begitu cantik. Dari garis wajahnya Laras dapat menebak kalau wanita di dalam lukisan itu adalah Madame Rose sewaktu muda.

__ADS_1


"Let me show you our room," ujar Ben membuyarkan lamunan Laras. Gadis itu mengerenyitkan dahinya.


"Our room? You're kidding, I need my own room," timpal Laras dengan wajah dinginnya.


"Please, baby .. sampai kapan kau akan marah padaku?" tanya Ben dengan muka memelasnya.


"I don't know .. sampai aku puas, mungkin."


Ben menghela nafas panjang berkali-kali. Menyibakkan rambut panjangnya ke belakang kepalanya.


"Aku jauh-jauh mengajakmu ke sini untuk berlibur, kita seharusnya menikmati saat-saat bersama seperti ini."


"Seharusnya kau pikirkan itu sebelum melakukan hal-hal bodoh dengan gadis itu, seharusnya kau bisa mengendalikan dirimu, seharusnya .. seharusnya .. kau hindari saja gadis itu .. aaaarghh .. kau menyebalkan sekali, kau tahu?" Laras menghembuskan nafasnya lega. Amarah yang ditahannya sejak di dalam pesawat akhirnya meledak juga.


"I know, I know .. I'm sorry, Laras .. please, forgive me, baby." Ben menggenggam tangan Laras kemudian menciuminya. Laras memalingkan mukanya.


"Berikan aku kamar sendiri."


"Laras, please."


"Berikan aku kamar sendiri, atau aku pulang ke New York sekarang juga," ancam Laras dengan wajah serius.


"Okay, okay, aku akan memberimu kamar sendiri, ikut aku." Ben melangkah menaiki tangga, Laras mengikutinya dari belakang.


Ben membuka pintu sebuah kamar yang cukup luas dengan dominan warna krem. Jendela kamar tepat menghadap ke arah danau.


"Ini kamarmu .. emm .. aku akan berada di kamar sebelah, jika kau butuh sesuatu." Ben mendekat ke arah Laras, hendak merengkuhnya namun gadis itu segera menghindar.


"I'm tired, Ben," ucap Laras pelan.


"Okay, just call me if you need me." Ben menatap sayu kekasihnya itu. Laras hanya mengangguk.


***


Ben menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan menghela nafas berkali-kali. Diraihnya ponsel yang dia letakkan di atas nakas lalu mengutak-atiknya sebentar.


"Mom ...." Ben menempelkan ponsel ke telinganya.


"Hei, Benji .. aku senang kau menelponku," sahut Monica di seberang sana.


"Aku sedang ada di Portland."


"Ow wow .. benarkah? Di mana kau sekarang?"


"Aku ada di rumah Rose, dan aku butuh bantuanmu ...."


***

__ADS_1



Laras, yakin nih mau lama-lama ngambeknya sama Benji? Ya udah, Benji buat aku aja yaa, asyeek 😁😁


__ADS_2