I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 46


__ADS_3

Tudor City yang lengang. Udara awal musim semi begitu dingin. Dedaunan berserakan di sepanjang jalan yang mengelilingi gedung-gedung apartemen yang bergerombol membentuk satu kawasan, dengan sebuah taman yang ada di tengahnya.


"Apa kau akan turun?" tanya Laras pada Ben. Keduanya berada di dalam mobil yang terparkir di depan gedung apartemen yang dihuni Laras. Sebuah pertanyaan yang mungkin hanya basa-basi saja. Namun dalam hati Laras berharap lelaki itu akan mengiyakan. Ben melongok jam yang ada di dashboard mobilnya. Menunjukkan pukul 8.00 malam, dengan langit New York yang masih terang.


"Sepertinya aku masih punya waktu sedikit untuk sebotol anggur," ujar Ben. Senyumnya mengembang.


"Okay." Laras segera turun dari mobil diikuti dengan Ben. Laras berjalan mendahului Ben yang mengikutinya dari belakang. Kemudian keduanya hilang di balik pintu lift.


Pintu lift terbuka, Laras bergegas menuju pintunya. Namun langkahnya terhenti dan pandangan matanya tertuju pada sesosok lelaki berambut hitam yang tengah duduk di sofa yang terletak di antara dua pintu di tengah koridor. Ben yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.


Lelaki bermantel hitam itu tampak berbinar melihat Laras. Namun senyumnya luntur ketika menatap sosok Ben yang juga tengah menatapnya.


"James," ujar Laras dengan tenggorokan tercekat. Seakan tak percaya lelaki itu sekarang ini berada di hadapannya. Setelah pertengkaran epic mereka beberapa bulan yang lalu dan lelaki itu memilih hengkang dari apartemen yang mereka sewa bersama. Menggoreskan luka yang begitu dalam di hati Laras dan juga kesulitan finansial yang harus dialaminya.


"Laras, hi," sapa James dengan senyumnya yang belum terlalu bisa dilupakan Laras.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Hanya itu yang keluar dari bibir Laras.


James, lelaki itu, mantan kekasih Laras, bukannya langsung menjawab malah menatap Ben kembali. Tentu saja dia tahu siapa yang tengah berdiri di samping Laras itu. Benjamin Chevalier. Frontman The Rebellion yang terkenal itu. Lalu kenapa Laras bisa berakhir dengan dia? Apakah mereka menjalin hubungan? Bermacam pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya.


"Laras, siapa dia?" tanya Ben. Suara Ben memecah ketegangan di antara ketiganya.


"Ouh .. ini James, dia .. emm ...." Laras tak melanjutkan kata-katanya. Lidahnya mendadak kelu.


"Pacar Laras," aku James seraya mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Ben.


Laras terhenyak. Apa yang dikatakan James?


Ben menyambut uluran tangan James. Raut mukanya menunjukan rasa ketidaksukaan yang begitu kentara terhadap lelaki itu.


"Mantan pacar, tepatnya?" sindir Ben dengan senyum sinisnya.


James menarik tangannya dan membolak-balikan telapak tangannya. Memberi tanda "antara iya dan tidak" sebagai jawaban atas sindiran Ben.


Dering ponsel Ben kembali memecah ketegangan di antara ketiganya.


"Wait a second," ujar Ben seraya memberi isyarat kepada Laras dengan telunjuknya.

__ADS_1


Ben memeriksa ponselnya. Nama Jack sang menejer tertera di layar.


"Ya?" sapa Ben begitu telepon tersambung.


"Kau sudah ada di Manhattan?" Suara Jack terdengar samar.


"Uh-huh."


"Cepat ke studio, ada beberapa hal penting yang harus dibahas."


"Okay .. I'll be there soon." Ben menutup telponnya. Kemudian memandang ke arah Laras. Dilema melandanya.Dia tidak ingin meninggalkan Laras dengan mantan pacarnya itu. Namun urusan penting tengah menunggunya.


"Emm .. you're gonna be okay?" tanya Ben seraya melirik ke arah James.


"Ya, it's okay." jawab Laras. Hatinya mencelos, seperti tak ingin Ben pergi.


"Are you sure?" tanya Ben kembali. Memastikan Laras benar-benar akan baik-baik saja. Jika saja Laras memintanya untuk tidak pergi maka Ben akan memikirkan untuk mengesampingkan urusannya.


"Ya," jawab Laras pendek. Jangan pergi, Ben!


"Call me or text me if you need anything, Laras," kata Ben begitu dia melepaskan pelukannya pada gadis itu.


"I'm gonna miss you," ucap Ben seraya mengelus pipi Laras. Gadis itu membalasnya dengan genggaman tangan di telapak tangan Ben yang menyentuh pipi merahnya itu.


Laras menelan ludahnya dengan berat,


memandangi Ben yang tersenyum ke arahnya sampai pintu lift tertutup dan senyum yang begitu Laras sukai itu hilang.


"Laras," panggil James. Laras buru-buru membalikan badannya dan menghadap ke arah James. "Kau tidak mau menyuruhku masuk?" tanyanya kemudian.


Laras menghela nafas pelan. Melangkah ke arah pintu apartemennya. Membukanya dan mempersilahkan James masuk.


"Kau sedikit merubah dekorasinya?" ujar James sembari berjalan berkeliling ruangan sempit itu.


"Tidak, aku hanya merubah letak sofanya," jawab Laras sembari menunjuk sofa empuk berwarna cokelat itu.


"Kau terlihat lebih kurus, tapi masih terlihat cantik," puji James. Memiringkan wajahnya sembari menatap sayu ke arah Laras.

__ADS_1


"James, mau apa kau menemuiku lagi?" tanya Laras tanpa basa-basi.


"I miss you," jawab James membuat dada Laras berdesir.


"Why?" tanya Laras dingin. Yang benar saja, rindu setelah apa yang lelaki ini lakukan padanya, batin Laras.


"Aku tahu aku melakukan kesalahan, dulu aku hilang arah."


Laras tersenyum sinis.


"Apapun itu sudah tidak penting lagi, James," tukas Laras.


"Aku berniat untuk meminta ampunmu dan memperbaiki hubungan kita."


Laras terbelalak. Apa dia tidak salah dengar.


"Aku tahu, Laras, ini mengejutkanmu, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab sekarang, aku akan memberimu waktu untuk berpikir."


Laras benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Dengan mudahnya lelaki ini pergi dan muncul kembali seenak jidatnya.


Laras berjalan menuju pintu. "James, aku lelah, aku ingin beristirahat," ujar Laras sembari membuka pintunya, mengusir James dengan halus.


"Aku akan menunggumu Laras." James menyentuh lembut bahu Laras. Kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.


Laras menutup pintu kembali. Dihelanya nafas berkali-kali. Kenapa lelaki yang susah payah dilupakannya, dan menorehkan rasa trauma untuk kembali menjalin hubungan dengan lelaki lain, muncul kembali secara tiba-tiba begini, jeritnya dalam hati.


Laras melempar mantel yang masih membalut tubuhnya ke sembarang tempat. Dihempaskannya badan mungilnya ke atas kasur. Lalu memejamkan matanya dan berharap akan menuju ke alam mimpi dengan cepat.


Ponsel di saku celananya bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Segera saja Laras memeriksa layar ponselnya.


"Laras, is everything okay?"


Pesan dari Ben, lengkap dengan emotican wajah khawatirnya. Laras tersenyum.


Hatinya sudah dipenuhi perasaan anehnya terhadap sang gitarist flamboyan itu, tidak ada tempat lagi untuk orang lain, bahkan untuk cinta yang dahulu pernah dipujanya.


***

__ADS_1


__ADS_2