I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 85


__ADS_3


CONEY ISLAND BEACH, BROOKLYN, NEW YORK CITY (SABTU, 4 JULI 2020, HARI KEMERDEKAAN AMERIKA SERIKAT).


Laras mencoba menghubungi Ben seharian namun tidak ada respon sama sekali. Meskipun kesal, gadis itu mencoba berpikir positif, bahwa Ben mungkin sedang sangat sibuk. Teringat beberapa hari lalu kekasihnya itu mengatakan bahwa The Rebellion tengah mempersiapkan tour album mereka ke Eropa minggu ini.


Hari ini adalah hari lengangnya kota New York. Hari kemerdekaan Amerika yang ke 244 dan hampir semua penduduknya menikmati libur mereka.


Akhirnya Laras mengiyakan saja ajakan Catherine untuk berlibur ke pantai. Coney Island yang berada di Brooklyn dan berjarak kurang lebih tiga puluh menit dari Manhattan menggunakan mobil Catherine.


Di sinilah Laras menikmati harinya bersama sahabatnya itu, bersantai di atas kursi pantai sembari minum beberapa gelas cocktail segar. Sembari sesekali memandang beberapa pasangan kekasih yang tengah bermesraan dengan romantisnya.


"Hmmm .. what a beautiful day," gumam Catherine seraya memejamkan matanya, menikmati berjemur di bawah sinar matahari, dengan bikini two pieces yang membalut tubuhnya.


"Yeah," sahut Laras, yang sebenarnya tidak terlalu suka berjemur. Dia berasal dari negara tropis. Sinar matahari bukanlah sesuatu yang mewah baginya.


Laras meneguk gelas cocktailnya dan menghela nafas dalam-dalam. Pikirannya tidak bisa lepas dari Ben. Sudah tiga hari ini Laras tidak bertemu dengannya. Hanya berbicara lewat telepon sesekali. Dan hari ini ponselnya tidak aktif, kemana si menyebalkan itu?


"Kau mau melihat pertunjukan kembang api nanti malam di East River?" tanya Catherine, masih dengan mata terpejam.


"Hmmm .. I don't think so."


"Why?" tanya Catherine sembari mendongakkan dagunya.


"Entahlah, aku akan tidur cepat mungkin malam ini."


Catherine mengedikkan bahunya, lalu kembali menelungkupkan kepalanya di atas kursi pantai. Laras memeriksa ponselnya, namun tak ada pesan atau telpon apapun dari Ben. Kesal, Laras pun mematikan ponselnya.

__ADS_1


***


Jam sembilan malam Laras keluar dari apartemennya untuk membeli cemilan di swalayan terdekat. Langkahnya gontai menelusuri trotoar di antara gedung-gedung Tudor City. Dari jauh terdengar suara kembang api yang menggelegar bersahut-sahutan.


Masuk ke swalayan Laras segera membeli segala macam cemilan yang akan dimakannya malam ini untuk menemaninya nonton film atau membaca buku. Setelah membayar ke kasir Laras segera keluar dari swalayan dan melangkah kembali menuju apartemennya. Mendekati gedung apartemennya, Laras menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok lelaki berambut panjang tengah berdiri menghadang jalannya.


"Kau menyebalkan sekali!" makinya seraya mendekat dan memukul dada Ben pelan. Menumpahkan kekesalan yang dirasakannya . "Aku tidak bisa menghubungimu seharian."


"I'm sorry, baby," Ben memeluk Laras dengan erat. "Hari ini aku tidak sempat memegang ponsel, jadwalku benar-benar padat, aku menyempatkan untuk menemuimu malam ini untuk berpamitan, besok aku berangkat," ujar Ben sembari menciumi puncak kepala Laras dengan gemas. Laras hanya mengangguk. Lalu menggandeng tangan Ben masuk ke dalam apartemennya.


"Kau akan memakan semua ini?" tanya Ben sembari mengintip isi tote bag Laras yang berisi berbagai macam cemilan.


Laras meringis. "Aku berniat menonton film atau membaca buku semalaman, jika kau tidak muncul malam ini."


Ben terkekeh. "I'm sorry, Laras."


Ben merengkuh tubuh Laras, menciumi bibirnya lembut. "I love you," ucapnya.


"I know," sahut Laras, melepaskan pelukan Ben kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


"Kau akan berangkat besok pagi," gumam Laras, wajahnya terlihat murung.


Ben duduk di sebelah Laras, memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Laras yang setengah tertunduk.


"Hei, sayangku .. kau mau melihat kembang api di East River?" tawar Ben. Laras menggeleng. Gadis itu menghambur ke pelukan Ben, yang dipeluk menyambutnya dengan tangan terbuka.


"I miss you already," rajuk Laras, mendusalkan kepalanya di dada Ben. "Jangan terpikat dengan wanita Eropa ya."

__ADS_1


Ben tergelak. Menangkup wajah Laras dengan kedua telapak tangannya, kemudian menggesekkan hidung mancungnya ke hidung mungil Laras.


"Tidak ada wanita yang mampu mengacaukan duniaku kecuali kau," ujar Ben, membuat Laras tersipu malu. Kemudian membenamkan kembali wajahnya ke dada kekasihnya itu.


***


"Laras, I gotta go." Ben mengelus pipi Laras lembut. Gadis itu masih meringkuk di dalam selimutnya. Perlahan dibukanya mata dan mendapati Ben tengah duduk di sisi ranjangnya.


"Sepagi ini?" tanya Laras dengan suara serak bangun tidurnya.


"Aku harus mengambil barang-barangku dulu di Big Apple."


Laras menyibakkan selimutnya, kemudian duduk di samping Ben. Menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu.


"Jadi kita akan bertemu satu bulan lagi," ujar Laras cemberut.


"Atau kau mau ikut?" tawar Ben. Laras mendecak, dipukulnya bahu Ben pelan.


"Dan mengekorimu kemana-mana? Tidak, terima kasih." Laras terkekeh. "Aku akan menunggumu di sini."


Ben mengecup bibir Laras lembut. Kemudian memeluk gadis itu dengan erat. Beberapa saat kemudian keduanya beranjak dari sisi ranjang. Laras mengantarkan Ben ke pintu.


Lalu memeluk Ben kembali, cukup lama, hingga akhirnya Ben berpamitan untuk segera pulang ke Big Apple.


Laras menutup pintu apartemennya setelah punggung Ben menghilang di balik pintu lift. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Menarik nafas dalam-dalam sembari menengadahkan wajahnya.


Ah, Manhattan akan terasa kembali sepi tanpamu, Ben.

__ADS_1


***


__ADS_2