
Laras memasuki telephone booth yang ada
di sebuah gas station. Sekitar tiga jam jaraknya dari Philadelphia. Sementara Ben tengah mengisi bahan bakar mobilnya beberapa meter darinya. Menekan tombol angka yang dihapalnya milik Catherine.
Dia baru ingat sahabatnya ini pasti kelimpungan mencarinya karena hampir setiap hari di jam kuliah mereka selalu bertemu. Sudah hampir tiga hari Laras dibawa lari oleh Ben dengan ide road trip mendadak lelaki itu, pastinya Catherine mengkhawatirkannya.
Dering telepon tanda tersambung disambut sapaan hallo dari seberang.
"Cathy, ini aku, Laras."
Pekikan Catherine membuat telinga Laras berdengung. Selanjutnya mencecar gadis itu dengan banyak pertanyaan.
"Tenanglah Cath, aku baik-baik saja. Maaf aku tidak mengabarimu, semua ini karena ...." Laras menceritakan perihal road trip dadakan Ben ini dan ide lets get lost nya Ben yang membuatnya mematikan ponselnya, dan juga ponsel Ben tentunya.
Terdengar Catherine memekik kembali. Namun kali ini sepertinya karena kegirangan. "Ah syukurlah, Laras, aku hampir saja akan melapor kepada polisi bahwa kau hilang," ujarnya dengan suara yang terdengar lega.
Laras terkekeh. "I'm sorry, Cathy sweety."
"Sooo?" pancing Catherine. Suaranya terdengar jahil.
"So what?" sahut Laras.
"Apa kalian pacaran sekarang?"
"Tidak, belum, entahlah," ujar Laras. "Okay Cath, I gotta hang up now, I'll see you when I get back to Manhattan." Laras menutup telponnya sebelum dicecar pertanyaan-pertanyaan aneh dari sahabatnya itu.
Laras keluar dari ruangan kecil itu dan mendapati Ben telah selesai mengisi bahan bakar dan tengah berdiri bersandar di pintu mobilnya. Memandang Laras dengan lengan terlipat dan senyuman manisnya.
"Sudah bicara dengan temanmu?" tanya Ben.
Pandangannya mengikuti langkah Laras yang kini telah berdiri di sampingnya.
"Uh-huh," jawab Laras, kikuk diperhatikan Ben sedemikian rupa.
"Ayo masuk," ujar Ben seraya membuka pintu mobil yang tadi dia pakai bersandar untuk Laras. Gadis itu tersenyum sebagai ucapan terimakasih. Kemudian naik ke atas mobil.
__ADS_1
Lagu Autumn Leavesnya Nat King Cole mengalun. Namun kali ini adalah versi bahasa perancisnya Les Feuilles Mortes oleh Yves Montand. Menambah suasana di dalam mobil mewah Ben yang nyaman itu bertambah syahdu.
Laras menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Menatap lurus ke arah jalanan sepi yang diterangi lampu penerangan jalan umum. Suasana di dalam mobil lengang. Hanya di-backsound-i oleh lagu sendu dari tahun 50an itu.
Mata Laras menangkap sebuah papan nama yang tersorot lampu mobil Ben bertuliskan Welcome To Lancester County di pinggir jalan.
"Di sebelah sana itu pemukiman komunitas Amish, kau pernah dengar?" tanya Ben layaknya seorang tour guide. Menunjuk beberapa rumah pertanian tua yang lampunya berkelap-kelip kecil. Laras menoleh ke luar jendela dan memperhatikan dengan seksama.
"Ya, aku pernah dengar, mereka hebat, mengisolasi diri dari godaan peradaban manusia yang berkembang pesat," jawab Laras.
"Aku sempat ingin hidup seperti mereka."
Laras menoleh ke arah Ben yang memasang muka datar. Gadis itu menatapnya tak percaya.
"Kau?" tanya Laras.
Ben terkekeh. "Sempat, Laras .. hanya sempat punya pikiran seperti itu."
"Yeah .. itu hal yang tidak mungkin. Hidupmu terlalu enak untuk ditinggalkan," celetuk Laras.
Laras mencibirkan bibirnya. Kemudian mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Ngomong-ngomong tentang wartawan,
sepertinya perjalanan darat kita ini belum pernah bersinggungan dengan mereka ya," kata Laras.
Ben mengedikkan bahunya. "Mungkin mereka punya pekerjaan yang lebih penting, menguntit Donald Trump, misalnya," gurau Ben.
Laras terbahak. Si menyebalkan ini lucu juga, batinnya.
"What to do in Philadelphia?" tanya Laras seperti tengah mencari informasi di mesin pencarian google.
"Kita akan lihat sesampainya di sana," jawab Ben. Menoleh ke arah Laras sekilas. Gadis itu telah menyandarkan punggungnya kembali.
"Terserah kau sajalah," gumam Laras seraya memejamkan matanya. Pasrah lelaki ini hendak membawanya kemana. Laras menguap beberapa kali. Membuat matanya berair.
__ADS_1
"Tidur saja, nanti kubangunkan kalau sudah sampai," ujar Ben.
Laras hanya melenguh pelan. Memposisikan badannya menyamping menghadap ke arah Ben yang tengah fokus menyetir. Ah lelaki ini, hampir lupa kalau dia adalah Benjamin Chevalier dari The Rebellion. Sikap Ben benar-benar manis selama pengembaraan mereka ini. Apa yang istimewa dari seorang Laras, hingga Ben memperlakukannya spesial begini, batinnya. Miskin, tidak cantik-cantik amat jika dibandingkan dengan Anita Wallis atau teman-teman kencan Ben yang lain.
Tunggu, Laras berseru dalam hati. Spesial?
Jangan ge-er dulu Laras.
Laras terkikik pelan, mungkin Ben tak mendengarnya.
"What's so funny?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Laras terkesiap.
"Oh tidak, hanya memikirkan sesuatu yang lucu," ujar Laras. Kemudian membenarkan posisi badannya.
"Si pria Perancis genit itu?" goda Ben. Hah, masih ingat saja dia, gumam Laras.
"Ishh," desis Laras. "Membayangkanmu memakai pakaian Amish dan mencangkul di ladang." sambung Laras sekenanya. Ben ikut terkikik. Mengerlingkan mata birunya yang terlihat gelap.
"Dan kau memasak di dapur, sementara itu anak-anak kita yang berjumlah sepuluh orang berlarian di halaman rumah," timpal Ben.
Membuat mata Laras yang tadinya setengah tertutup kini terbelalak lebar.
"Wah keluarga bahagia, terimakasih Ben," kata-kata Laras terdengar sarkastik.
Ben menoleh ke arah Laras dengan sisa tawanya. Wajah Laras merengut.
"Sepuluh anak ya," kata Ben masih dengan gelak tawanya.
"Dalam mimpimu!" seru Laras sembari merapatkan sweaternya dan memejamkan matanya kembali. Kali ini benar-benar hendak tidur.
***
__ADS_1