I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 99


__ADS_3

"Gadis itu terlihat baik, dia sopan dan manis, bukan?" ujar Laras seraya mendekatkan posisi duduknya pada Ben di pinggir ranjang.


"Gadis yang mana?" tanya Ben sembari menatap Laras yang terlihat cantik dengan gaun putihnya.


"Guru les Daren," Laras terkikik.


"Mia? Hmm .. aku tidak tahu, aku tidak pernah memperhatikannya."


Laras mencebikkan bibirnya. Lalu menggelanyut manja di bahu Ben.


"Sudah saatnya, Ben."


"Sudah saatnya untuk apa?"


"Kau membuka kembali hatimu."


Ben menaikkan kedua alisnya. "Apa maksudmu, sayang?"


Laras mengelus pipi Ben lembut. Perempuan cantik itu tersenyum.


"Jangan aneh - aneh, Laras," ujar Ben seraya memegang kedua lengan Laras. "Ingat, aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa membuka hatiku untuk perempuan manapun." Ben menyentuhkan telapak tangan Laras ke dadanya.


.


.


Ben membuka matanya pelan. Dipandangnya sekeliling ranjang, tidak ada Laras di sana. Pria itu menghela nafas dalam - dalam. Kemudian menyibakkan selimut yang menutupi badannya dan melangkah keluar kamarnya.


Dapur adalah tujuan utamanya. Ben hendak mencari minuman segar untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Diraihnya satu botol bir dari lemari pendingin dan membuka tutup botolnya.


"Heii!" pekik Ben ketika botol bir yang hendak diminumnya telah berpindah ke tangan Marcus yang tiba - tiba muncul entah dari mana.


Marcus dengan muka tak bersalahnya segera menenggak botol birnya hingga habis setengah. Ben mendecak. Kemudian mengambil kembali botol yang lain dari lemari pendingin.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ben seraya menarik kursi bar yang ada di ruangan itu.


Marcus meringis. "Mencari Mia, dia ada di sini, bukan?" Pria itu melongokkan kepalanya keluar pintu dapur.


Ben menggeleng. "Dasar bodoh, ini hari kamis," gerutu Ben.


Marcus menepuk jidatnya. "Damn!" makinya.


"Kembali saja besok," ujar Ben seraya meneguk botol birnya.


Marcus menghela nafas kecewa.


"Kau tahu di mana dia tinggal?" tanya Marcus.


"Tidak!"


"Atau di mana dia kuliah? Kerja?" cecar Marcus.


"Dengar, brengsek, aku tidak tahu apapun tentang gadis itu, okay?"


"Seriously?"


Ben meletakkan botol bir di meja bar dengan kasar. Mulai kesal dengan sahabatnya yang tengil itu.


"Kau cari saja sendiri informasi tentangnya," ujarnya seraya beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Marcus.

__ADS_1


"Terimakasih, Ben, kau sangat membantu," sindir Marcus.


Ben hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh ke arah Marcus. Pria berambut kecoklatan itu menggeleng pelan.


***


Mia memasuki flatnya diikuti oleh Brandon yang tadi menjemputnya dari tempat kerjanya. Keduanya secara spontan menutup mata mereka begitu melihat pemandangan tidak senonoh yang ada di sofa. Ashley dan Will yang tengah bercumbu.


"Hi, Lammy, hi, Brand," sapa Ashley dengan muka tak berdosanya sembari sibuk membenarkan pakaiannya yang berantakan. Will hanya meringis. Sementara Brandon tergelak melihat kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu salah tingkah.


Mia memutar kedua bola matanya dan melewati keduanya melangkah menuju kamarnya. Tak lama kemudian gadis itu keluar dengan pakaian yang terlihat lebih santai. Dia dan Brandon berencana untuk makan malam di luar.


"Hei, kalian tahu siapa lelaki mata biru pujaan Lammy?" celetuk Ashley tiba - tiba.


"Oh, no, no, Ash .. not now!" seru Mia.


Brandon dan Will saling pandang.


"It's Benjamin Chevalier, guys," ujar Ashley dengan bangganya.


Mia memijit dahinya yang berdenyut tiba - tiba. Sementara Will membulatkan kedua matanya kemudian memandang Mia dan Brandon secara bergantian. Wajah Brandon seketika berubah muram.


"Oh, ****!" Ashley menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, begitu menyadari tidak seharusnya dia membocorkan semua itu di hadapan Brandon.


"Ayo, Brand ...." Mia menarik tangan Brandon keluar dari ruangan itu meninggalkan Ashley dan Will yang sepertinya tengah berdebat kecil.


.


.


"Brand, kau baik - baik saja? Dari tadi kau tidak berbicara apapun."


Mia menyentuh lengan Brandon pelan. Keduanya tengah berada di sebuah restauran kecil di daerah Brownsville, tak jauh dari apartemen Mia. Dilihatnya sahabatnya itu belum menyentuh makanan yang mereka pesan secuilpun. Dia hanya sibuk dengan ponsel di tangannya.


Mia tersenyum. Kemudian melanjutkan aktifitas makannya dengan lahap.


"Apa benar?" tanya Brandon.


"Huh?"


"Apa benar lagu yang kau tulis itu untuk Ben Chevalier?"


"Ah, not again," gerutu Mia.


Brandon terbahak. "Kau menyukainya?"


"Tidak seperti itu."


"Bagus kalau begitu."


"Huh?" Mia memandang Brandon seraya menyipitkan matanya.


"Akhirnya aku tahu kau bukan lesbian," celetuk Brandon.


"Sialan kau, Brand!" maki Mia kesal.


Brandon kembali terbahak. Air mukanya kini telah berubah sumringah. Pria itu melahap makanan di piringnya dengan antusias.


Mia mendesis. Memperhatikan wajah Brandon yang tengah serius menikmati makan malamnya.


"Hei," panggil Mia.

__ADS_1


"Hmm?" Brandon mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Mia.


"Aku juga tidak pernah melihatmu dekat dengan seorang wanita." Mia menaik - naikkan alisnya.


"I'm not gay!" sela Brandon.


"I didn't say that," kikik Mia.


"Siapa tahu kau berpikir begitu." Brandon mencebikkan bibirnya. "Aku sudah terlalu sibuk denganmu," ujarnya kemudian.


"What?" Mia menatap penuh curiga ke arah Brandon.


"Dengar, kalau aku punya kekasih, apa kau siap kalau aku tidak punya banyak waktu untukmu?" tanya Brandon.


"Yeah, kau benar. Sebaiknya kau tidak usah punya kekasih," sahut Mia dengan muka sedih yang dibuat - buatnya.


"See?"


Mia kembali meringis.


"I love you, Lamia," ucap Brandon.


"Huh?"


"Like a sister, you're like a sister to me," sahut Brandon dengan cepat.


"Owh." Mia terkekeh. Hampir saja dia berpikir macam - macam dengan perkataan Brandon barusan.


Brandon tersenyum kecut. Kemudian melanjutkan makan malamnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Sesekali diliriknya gadis manis di depannya itu sekilas. Pemuda itu menarik nafasnya berat.


***


"Ben, kau ingat road trip kita ke Pennsylvania?"


Laras menyandarkan kepalanya di bahu Ben.


"Uh - huh," sahut Ben.


"Kau ingat lagu apa yang kau mainkan untukku di sebuah bar, ketika ada seorang laki - laki tua menggangguku?"


"Emm .. Take This Bottle, Faith No More, I guess."


"Ya, itu dia, bisa kau mainkan lagi untukku sekarang?


Ben tersenyum. "Anything for you, My love."


Ben mengambil gitar akustiknya dan mulai memainkan lagu yang diminta oleh Laras.


I can wait to love in heaven


I can wait for you


Far away, I'll treat you better


Better than down here


Laras mengecup kening Ben dan membawa kepalanya ke arah dadanya. Mengelus rambut pirangnya dengan lembut.


"Bisa kau tetap di sini saja?" tanya Ben. Matanya terpejam menikmati sentuhan tangan Laras yang mampu menenangkan badai di dalam hatinya. Hembusan nafas Laras begitu halus menerpa puncak kepalanya.


"Sssttt .. tidurlah, Ben ...."

__ADS_1


***


__ADS_2