I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 128 (End)


__ADS_3

Part 128


"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Mia yang sedari tadi tertidur di dalam mobil, dan ketika terbangun mendapati Ben menghentikan mobilnya di depan rumahnya di Greenwich Village.


"You stay with me tonight." Ben tersenyum sembari membuka pintu mobilnya, lalu keluar dan memutar langkah ke samping membukakan pintu untuk Mia.


Gadis itu turun perlahan dengan sedikit sempoyongan. Ben segera memapahnya dan keduanya memasuki rumah bercat merah muda itu.


Ben membuka pintu kamarnya. Sementara Mia masih mematung di belakangnya.


"Come on in." Ben menarik lengannya dan membawanya memasuki kamar yang luas dan berdesign klasik minimalis itu.


"Are you alright, Lamia?" tanya Ben seraya mengelus kepala Mia dan menyelipkan anak rambut gadis itu ke belakang telinganya.


Mia mengangguk pelan. Walaupun sebenarnya kepalanya sedikit berdenyut. Dan badannya terasa lemas.


Ben membawa Mia untuk duduk di tepian ranjang.


"Kau cantik sekali malam ini."


Ben meraih dagu Mia dan membawanya mendekat pada bibirnya. Namun Mia pelan menundukkan wajahnya. Hingga membuat Ben mengurungkan niatnya untuk mengulum bibir mungil itu.


Ben menghela nafas pelan. Diambilnya sebotol anggur yang isinya telah habis sebagian di atas nakas. Tanpa gelas, diteguknya cairan merah itu dengan pelan.


"Lamia," panggil Ben yang kini telah bersandar pada kepala ranjang. Mia masih saja terpekur di tempatnya duduk. Tanpa menyahut atau menoleh ke arah Ben.


"Aku rasa aku mulai jatuh cinta padamu." Ben terkekeh. "Tidak, aku tidak akan membandingkanmu dengan Laras lagi. It's done," sambungnya kemudian.


Mia terperanjat. Lalu memandang ke arah Ben dengan tatapan penuh selidik. Ben meletakkan botol anggurnya kembali ke atas nakas. Lalu bergerak mendekati Mia yang masih menatapnya.


Ben melepas sepatunya lalu melemparnya sembarang. Kemudian berlutut dan melepas flat shoes milik Mia. Dielusnya kaki mungil gadis itu yang berbalut stocking hitam dari ujung hingga terus naik ke atas. Meraih ujung sweater rajutnya kemudian dengan pelan membukanya. Kini tubuh Mia hanya berbalut tank top tipis yang memperlihatkan belahan dadanya yang berukuran mini.


"May I?" tanya Ben seraya menyentuh tali tank top Mia. Meminta izin gadis itu untuk membukanya.


Tubuh Mia seakan membeku. Bahkan untuk menelan ludah saja gadis itu harus bersusah payah. Lidahnya pun terasa kelu.


Ben mendorong pelan tubuh Mia hingga gadis itu terbaring terlentang. Dielusnya lembut kepala Mia dengan posisi siku kirinya menopang badannya. Bibir keduanya pun berpagut.


Entah apa yang harus Mia lakukan saat ini. Dia benar - benar berada di puncak kebingungan yang luar biasa. Pesona pria yang berada satu inci di atasnya ini benar - benar sangat sulit untuk ditolak.


Mia hendak merengkuh punggung kokoh Ben ketika sudut matanya menangkap satu bingkai foto yang terpasang di dinding. Foto pernikahan Ben dan Laras. Senyum bahagia keduanya yang terukir di sana. Mia memejamkan matanya. Bayangan wajah Brandon dengan senyum manisnya, mengulurkan tangan padanya, lalu berbisik,


Lamia, aku menunggumu.


"Ben, I can't!" Mia menahan dada Ben dengan telapak tangannya. Air matanya telah mengalir membasahi wajahnya. Gadis itu terisak.


"Ada apa, Lamia? Apa aku menyakitimu?" tanya Ben heran, sekaligus cemas.


Mia menggeleng. Lalu duduk bersimpuh di atas ranjang. Tangisnya semakin menjadi.


"Hey, hey, Lamia, please don't cry." Ben menangkup wajah Mia dengan kedua telapak tangannya. "Aku bisa mengerti kalau kau belum siap melakukannya."

__ADS_1


"Ben ...." ucap Lamia di sela - sela isakan tangisnya. "I can't do it, I'm so sorry."


Ben menarik nafas dalam - dalam. Lalu mengusap rambutnya dan membawanya ke belakang. Namun anak rambutnya kembali jatuh di keningnya.


"I've fallen in love with someone else." Mia menatap Ben dengan mata sembabnya.


"I see ...." Ben berucap getir. Kemudian membenarkan tank top Mia yang berantakan. Lalu meraih sweater rajut dan memakaikannya pada gadis itu.


"Aku mengerti." Ben menggenggam jemari Mia dengan erat. "Akan kuantar kau padanya."


Ben tak melepaskan genggaman tangannya dan menarik Mia melangkah keluar dari kamar itu.


.


.


Ben menghentikan mobilnya di area gedung apartemen berlantai lima yang lengang. Mia yang berada di sampingnya segera merapikan penampilannya dan menyeka sisa air mata yang menempel di pipinya dengan punggung tangannya.


"Thanks, Ben," ucapnya.


"Come here," sahut Ben seraya merentangkan kedua tangannya dan bersiap memberikan pelukan pada Mia.


Dipeluknya frontman The Rebellion itu dengan erat. Membenamkan kepalanya di dada Ben sesaat.


"Go get your love!" serunya sembari menepuk - nepuk punggung Mia pelan.


Gadis itu melepaskan pelukannya. "Thank you." Diciumnya pipi Ben sekilas. Lalu bergegas keluar dari mobil.


.


.


Mia menaiki anak tangga menuju lantai tiga dengan perasaan tidak menentu. Walaupun pengaruh alkohol sudah sedikit menghilang namun tubuhnya masih terasa lemas dan sempoyongan.


Mia mengetuk pintu nomer 211 itu pelan. Beberapa menit menunggu tak ada tanda - tanda pintu akan dibuka dari dalam. Terdengar sayup - sayup suara seorang wanita yang sedang berteriak - teriak, memaki dan bersumpah serapah.


Mia kembali mengetuk pintu. Kali ini dengan keras. Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu dari dalam. Sarah.


"Apa yang kau lakukan di sini, huh? Apa maumu?" teriak Sarah dengan muka merah padam karena amarah.


Mia tercekat. Dilihatnya Brandon berdiri mematung di dalam ruangan. Terkejut dengan kehadirannya.


"Brand ...."


Mia tak mempedulikan Sarah yang dengan garang menghalanginya masuk. Gadis itu mendorong tubuh ramping wanita itu dan menghambur ke pelukan Brandon. Tangisnya kembali pecah.


"Lamia, are you okay?" tanya Brandon sembari merengkuh tubuh mungil Mia dan menciumi puncak kepalanya.


Mia mendongakkan kepalanya dan tanpa aba - aba melahap bibir tipis Brandon dengan rakusnya. Membuat pria tampan itu terkejut namun sejurus kemudian senyumannya terbit dan membalas ******* bibir Mia dengan tak kalah rakusnya.


"Wow .. amazing, you guys are amazing." Sarah yang tak sanggup lagi membendung amarahnya berjalan mendekati Brandon dan Mia yang segera mengakhiri ciuman mereka.

__ADS_1


"Dasar kau gadis breng**k!"


Sarah meraih rambut Mia dan menjambaknya sekuat tenaga. Hingga gadis itu terjatuh ke lantai.


"Sarah, what are you doing?"


Brandon menahan Sarah yang hedak kembali melakukan sesuatu untuk menyakiti Mia.


"Let me go! I'm gonna kill her, I'm gonna fu**ing kill kill her, Brandon!" seru Sarah dengan buasnya.


"Stop it, you're being stupid right now," ujar Brandon seraya memegang kedua lengan Sarah dengan kencang. Wanita itu meronta. Namun Brandon tak berniat untuk melepaskannya.


Sarah menangis dan membenamkan wajahnya di dada Brandon. "I love you, Brand, you know that, right?" isaknya.


"I'm so sorry, Sarah." Brandon mengusap punggung Sarah lembut. "Aku tidak bisa membohongi diriku lagi."


"Aku harus bagaimana? Ini sungguh menyakitkan."


"You're a good woman, and you're beautiful. Go find your happiness." Brandon menyeka air mata yang membasahi wajah cantik Sarah dengan punggung tangannya. "I don't wanna lose her anymore." Brandon menunjuk Mia yang masih bersimpuh di lantai sembari memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


Sarah menarik nafas dalam - dalam. Lalu terdiam beberapa saat.


"Okay, I understand. I wish you guys happiness," ucapnya. "And you ...." Sarah menatap tajam ke arah Mia. "Geez, I hate to say this to you." Sarah mendongakkan kepalanya demi menghalau air mata nya agar tidak terjatuh. "Kau gadis yang sangat beruntung!"


Disambarnya tas miliknya yang tergeletak di atas sofa dan dengan perasaan hancur lebur Sarah berlalu dari tempat itu.


Brandon membantu Mia untuk berdiri. Lalu mengajaknya untuk duduk di sofa. Dielusnya kepala Mia pelan.


"Hey, you okay?" tanyanya.


"It's nothing."


Brandon tersenyum. "What was that?" tanyanya seraya menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya. Mia terbahak mendengarnya. Gadis itu hanya tertunduk malu.


"Itu ciuman persahabatan," ujar Mia pelan.


"Owh, benarkah? Kalau begitu aku juga akan memberimu "ciuman persahabatan" ini, lagi, dan lagi."


Brandon memiringkan wajahnya dan menggigit bibir Mia perlahan. Kemudian memagutnya dengan sangat sangat lembut.


Dari jendela, terlihat salju tipis mulai turun menyelimuti Brooklyn. Udara dingin tak membuat kehangatan cinta yang baru saja dibangun itu pudar.


An American Man, Indonesian girl, dan New York di musim dingin.


***


***


***


*Thank You, everyone.

__ADS_1


Novel baru berjudul The Guy Next Door sudah tayang. Silahkan jika berkenan untuk membaca*.


__ADS_2