I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 32


__ADS_3

"Maaf Miss Wallis, Mr Chevalier belum bangun!"


Seorang pelayan perempuan di apartemen Ben mencegah Anita untuk memasuki kamar yang berada di lantai dua itu. Wanita cantik bertubuh semampai itu mendecak kesal dan melotot ke arah pelayan perempuan itu.


"Kau tahu siapa aku, bukan?" tanya Anita.


Pelayan itu mengangguk.


"Minggir!" perintah Anita dengan garangnya.


Pelayan itu menggeser tubuhnya dari pintu kamar Ben. Anita memandangnya sinis kamudian melangkah masuk.


Dilihatnya Ben yang masih tertelungkup di atas ranjangnya dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Anita tersenyum. Mendekati Ben yang masih terlelap dan mengelus punggungnya yang penuh tattoo itu.


"Hey .. wake up sleepyhead," bisik Anita seraya mengecup pipi Ben lembut.


Lelaki berambut pirang itu perlahan membuka matanya. Terkejut melihat wajah Anita yang berada beberapa centi saja dengan wajahnya.


"Anita .. kau ada di sini?" tanya Ben dengan suara paraunya. Kemudian membalikkan badannya dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Aku sudah bilang aku akan menghabiskan akhir pekan di Manhattan, kau bilang kau mau menemaniku," sahut Anita manja seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Ben.


Ben merasa sedikit risih dengan perlakuan Anita hingga tangannya berusaha melepaskan lengan wanita itu dari lehernya pelan.


"Aku baru saja bangun, Anita .. sebaiknya kau biarkan aku membersihkan diri dulu," ujar Ben seraya bangkit dari ranjangnya. Kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Anita menghempaskan tubuhnya di ranjang Ben yang empuk. Hatinya merasa sangat berbunga-bunga. Tak dia sangka Ben akan membuatnya kembali jatuh cinta seperti ini.


Tak henti-hentinya wanita itu mengulum senyum manisnya. Dia sangat yakin Ben akan jatuh kembali dalam pelukannya.


Mata Anita tertuju kepada sebuah tabloid yang berada di atas meja di samping ranjang. Wanita itu mengerenyitkan keningnya.

__ADS_1


Seorang selebriti tidak akan membeli tabloid atau majalah kecuali ada berita tentang dirinya sendiri. Anita memeriksa tabloid itu dan mendapati berita tentang insiden Ben dan personel The Rebellion lainnya yang bernama Greg. Dada Anita berdebar ketika membaca penyebab insiden itu terjadi adalah seorang wanita. Apa Ben sedang menyukai seseorang?batin Anita bertanya-tanya.


Anita segera mengembalikan tabloid itu ke tempat semula ketika mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Ben dengan rambut basahnya keluar hanya dengan melilitkan handuknya sebatas pinggang. Lelaki itu melemparkan senyum manisnya kepada Anita.


"Aku ingin makan makanan Perancis, apa kau punya rekomendasi restauran yang bagus?"


tanya Anita.


Ben berpikir sejenak, kemudian mengangguk.


"Boucherie," ujarnya seraya memakai kemeja hitamnya kemudian menggulung bagian lengannya.


"Okay, take me there," kata Anita seraya bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah Ben yang tengah merapikan tali sepatunya.


Anita merangkul pundak Ben mesra kemudian mengecup pipi lelaki itu.


"Aku senang sekali bisa bersamamu lagi, Ben," ucap Anita. Kemudian menyandarkan kepala nya di bahu Ben. Lelaki itu menoleh ke arah wanita berambut kecokelatan itu. Dadanya tidak berdesir sama sekali, tidak seperti ketika bersama Laras. Ah Laras, batinnya berucap. Rasa rindu tiba-tiba menyeruak ke dalam dadanya. Senyum gadis sederhana itu menari-nari dalam benaknya.


***


RESTAURAN BOUCHERIE, NEW YORK.


Laras tengah sibuk merapikan piring yang baru selesai dicucinya. Sesekali disekanya keringat yang mengalir di keningnya.


Walaupun badannya masih sedikit demam. Namun hatinya begitu berbunga-bunga saat mengingat kembali malam dimana dia tidur dengan nyenyaknya di pelukan Ben. Lelaki itu sama sekali tidak kurang ajar padanya. Dia membiarkan Laras dengan nyamannya menikmati pelukannya yang hangat.


"Ras, gantiin aku bentar, aku mau makan siang dulu." Suara Maya mengagetkannya.


"Ah, oke May," kata Laras sembari memasukkan piring terakhir ke dalam rak.


Laras segera menuju ke bagian makanan yang siap diantar ke pengunjung. Di sana ada Stephane yang menatapnya sembari tersenyum. Laras merasa risih. Memang lelaki ini tampan dengan wajah maskulin khas eropanya, namun sorot matanya terkesan nakal bagi Laras. Sehingga gadis itu sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Stephane.


"Laras, kau antar pesanan ke meja nomer

__ADS_1


211 di luar sana ya," kata Stephane sembari mengerlingkan matanya. "Ah ya, jangan sampai melakukan kesalahan ya, mereka selebriti," Stephane memperingatkan seraya mengelus lengan Laras lembut.


Laras hanya mengangguk. Kemudian segera membawa nampan berisi makanan dan pesanan pengunjung menuju ke meja yang di tunjuk Stephane.


Sesampainya di luar Laras terperanjat melihat Ben yang tengah duduk di meja nomer 211 bersama dengan seorang wanita berambut kecokelatan yang tentu saja Laras ketahui sebagai Anita Wallis. Seketika dadanya terasa pilu. Namun gadis itu berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.


Ben tak kalah terkejutnya melihat waitress yang mengantarkan makanannya ternyata adalah Laras.


"Laras, kau bekerja di sini?" tanya Ben. Membuat Anita yang duduk di hadapannya memasang wajah heran. Kemudian memandang ke arah Laras dengan tatapan sinis.


"Ah, iya," jawab Laras gugup tanpa memandang Ben. "Permisi," ujarnya kemudian begitu menyelesaikan tugasnya menaruh makanan di atas meja. Ben hendak memanggil Laras namun Anita tiba-tiba mengelus lengannya.


"Kau mengenal seorang pelayan resaturan, Ben?" tanya Anita penuh selidik.


"Dia .. pernah bekerja di tempat nenekku," jawab Ben.


Anita menyeruput citron presse nya. Menatap Ben lekat-lekat. Dia merasakan perubahan raut muka Ben setelah melihat pelayan itu.


"Kau yakin?" Anita tidak puas dengan jawaban Ben.


"Dia satu kampus denganku," terang Ben.


"Kenapa raut wajah kalian berubah


tegang tadi? Apa kau pernah menidurinya,


Ben?" desak Anita.


Ben tergelak. Lalu menggeleng.Raut muka Anita berubah kecut. Lalu menoleh ke dalam ruangan, ke arah Laras yang juga tengah melihat ke arahnya. Gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya.


Anita terdiam. Menatap mata Ben yang begitu sayu. Seperti menyimpan kegundahan yang mendalam. Anita teringat berita di tabloid yang dia temukan di kamar Ben. Apakah wanita yang diperebutkan Ben dan Greg adalah gadis pelayan itu? Batinnya bertanya.


***

__ADS_1


__ADS_2