
Laras masih terbengong-bengong menatap layar ponselnya. Mengerenyitkan keningnya, mencoba menelaah kenapa sikap Ben berubah seketika. Apa dia marah karena mendengar Stephane menawarkan untuk mengantarnya pulang. Laras tersenyum tipis.
"Hey, senyum-senyum sendiri, kesambet lu ya!"
Laras terkejut mendengar suara Maya. Gadis itu telah berdiri di hadapannya dengan cengiran jahilnya.
"Yuk pulang," seru Laras sembari menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas meja.
Keduanya berjalan menelusuri trotoar yang lengang menuju ke stasiun kereta bawah tanah terdekat.
"Stephane kayaknya beneran suka sama kamu deh," celetuk Maya. Keduanya tengah menunggu kedatangan subway berikutnya yang akan membawa mereka pulang.
Laras menaikkan kedua alisnya. Lalu tergelak.
"Masa?"
"Iya loh, aku mergokin dia nyuri-nyuri pandang mulu sama kamu."
Laras hanya mengedikkan bahunya. Tak terlalu menanggapi ucapan Maya.
"Ganteng loh Ras." Maya terkekeh. "Berduit lagi," sambungnya.
"Tau ah."
Maya menyenggol bahu Laras. Berniat menggoda gadis itu.
"Udah sikat aja Ras, kamu masih jomblo kan?"
"Dihhh ...." Laras mendesis. Kemudian menarik tangan Maya masuk ke dalam subway yang berhenti di hadapan mereka.
Laras mengambil tempat duduk di dekat pintu. Diikuti oleh Maya. Suasana di dalam subway cukup lengang.
"Atau jangan-jangan udah punya cowok ya kamu," tebak Maya.
"Ihh, enggak, belum kok," tukas Laras sembari memukul ringan lengan Maya. Gadis itu terkekeh.
"Ya udah sama Stephane aja sih."
Laras mencibirkan bibirnya. Lalu memutar bola matanya. "Gak suka denger aksen Perancisnya." Laras tergelak. Namun segera menutup mulutnya ketika beberapa pasang mata memperhatikannya.
"Ihh, seksi tau," seloroh Maya.
"Bukan tipeku dia tuh," ujar Laras jujur.
__ADS_1
"Terus tipe kamu yang kaya gimana? Gitarist ya, yang gondrong selenge'an terus tattooan."
Maya terbahak. Laras mendelik ke arah Maya seraya mendorong pelan gadis itu.
"Ciee .. Benjamin nih kayaknya tipe kamu," ujar Maya membuat dada Laras berdesir mendengar nama itu disebut. Pipinya berubah warna menjadi merah merona. Laras hanya nyengir saja.
"Hati-hati loh suka sama seleb, makan ati," celetuk Maya. Laras membenarkan kata-kata Maya dalam hati.
"Udah ah, ngapain sih bahas cowok, lagi pusing nih mikirin tagihan sewa apartemen belum ngumpul," cerosos Laras sembari memanyunkan bibirnya.
Kereta berhenti di stasiun Tudor City. Laras berdiri dan mencium pipi Maya untuk berpamitan. Kemudian melangkah keluar melalui pintu otomatis.
Laras merapatkan jaketnya untuk menghindari hawa dingin menyeruak yang membuatnya menggigil. Langkahnya cepat menelusuri jalanan Tudor City yang cukup sepi. Laras menghentikan langkahnya ketika melewati taman yang dikelilingi gedung-gedung apartemen. Beberapa pasang muda-mudi tengah bersendau gurau di sana dan menghabiskan waktu bersama. Ingatan Laras melayang kepada Ben. Kursi panjang di bawah pohon mapple yang biasa diduduki mereka sambil menikmati bacon roll kesukaan lelaki itu tampak kosong. Laras menarik nafas dalam-dalam. Hatinya terasa sepi. Sesepi Manhattan tanpa kehadiran si casanova itu.
***
BLACKWELL HOTEL, CHICAGO.
Ben menghisap rokoknya dalam-dalam. Tangan kirinya memegang sebotol bir yang telah dihabiskannya setengah. Dari balkon tempatnya duduk, Chicago terlihat gemerlap.
Dari dalam kamar hotel, terdengar personel The Rebellion yang lain tengah mengobrol.
Sesekali Ben mendengar tawa mereka pecah.
Ponsel Ben bergetar. Ben meliriknya sekilas. Beberapa pesan dari Anita kembali masuk. Lelaki itu mendengus kasar. Enggan untuk membalasnya. Bukan pesan dari Anita yang dia harapkan. Tetapi rasanya mustahil mengharapkan gadis asia yang sekarang berada nun jauh di Manhattan itu menghubunginya terlebih dahulu.
"Where?" tanya Ben dengan polosnya. "Ah sorry, yeah .. in a minute." Ben mengacak rambutnya. Baru ingat malam ini ada interview di NBC Chicago. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan Laras hingga membuatnya tidak fokus.
Greg menaikkan alisnya. Ben terlihat seperti orang linglung di matanya. Membuatnya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengannya dan Laras. Ah mengingat gadis itu membuat hati Greg terasa nyeri.
"You okay?" tanya Greg pada akhirnya.
"Yeah." jawab Ben singkat. Kemudian menenggak isi botolnya yang mulai menipis.
"No, you don't look okay," timpal Greg.
Ben mengangkat bahunya. Meletakkan birnya di atas meja. Lalu mematikan puntung rokoknya dan berjalan melewati Greg yang menatapnya penuh tanya.
***
VIC THEATRE, THE REBELION REHEARSAL.
Resistance adalah band rock pendatang baru yang berbasis di Chicago beranggotakan empat orang lelaki dan satu vocalist perempuan, Hailey Smith.
__ADS_1
Haley, gadis dengan cat rambut biru serta dandanan ala emo yang cukup seksi, membuat Marcus terpana. Namun sudah bisa ditebak siapa di antara personel The Rebellion yang mampu menarik perhatian gadis itu. Ya, Ben.
Sepanjang rehearsal mata Hailey tak lepas memandangi Ben yang acuh tak acuh. Membuatnya semakin penasaran dengan sosok gitarist tampan itu.
"Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu secara langsung." Hailey menghampiri Ben di sela-sela break rehearsal mereka. Ben tengah sibuk membenahi peralatan gitarnya. Berjongkok dengan satu kaki menopang gitar yang masih dipegangnya. Ben menoleh ke arah gadis itu lalu tersenyum.
"I'm a fan of yours." ujar Hailey seraya duduk bersila di depan Ben.
"Thanks," jawab Ben singkat tanpa sedikitpun memperhatikan gadis cantik di hadapannya itu. Lelaki itu sibuk menyetem gitarnya,
mengembalikan kunci-kuncinya pada nada yang sesuai.
"Apa kau memang pendiam seperti ini?" Hailey masih mencoba memulai pembicaraan.
"Tidak juga."
"Beberapa kali aku menonton konser Rebellion dan aku suka sekali aksi panggungmu, gosh .. you're just so sexy," puji Hailey dan disambut oleh tawa Ben.
"Aku lebih senang jika kau menyukai musik kami, tanpa melihat penampilan fisik," sahut Ben.
"Tentu saja aku juga menyukai musik kalian, kita berada di genre yang sama," timpal Hailey.
"Ya, semacam itu," sahut Ben kembali.
Hailey menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya. Memperhatikan Ben yang masih berkutat dengan gitarnya.
"Are you seeing someone (Apakah kau sudah punya pacar)?" tanya Hailey tiba-tiba. Ben mengerenyitkan dahinya.
"Hailey, right? Your name?" Ben balik bertanya.
Gadis itu mengangguk dengan mantap.
"Kau gadis yang sangat cerewet ya!" ujar Ben.
Kemudian berdiri dan berlalu dari hadapan Hailey. Membuat gadis itu bersungut-sungut.
Marcus menghampiri Ben yang tengah mengambil botol air mineral yang telah disediakan di atas meja. Menyandarkan tubuhnya di dinding dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ben menaikkan alisnya ketika melihat Marcus yang menatapnya dengan tajam.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ben heran.
"That girl, Hailey .. I have a crush on her." Marcus menunjukkan ekspresi wajah kesalnya.
Ben terbahak. Meneguk air mineralnya kemudian menepuk-nepuk bahu Marcus pelan.
__ADS_1
"You can have her, aku tidak berminat," ujar Ben seraya mengedipkan sebelah matanya pada Marcus. Kemudian meninggalkan sang gitarist kedua The Rebellion itu.
***