I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 117


__ADS_3

Mau menonton film nanti malam?


Mia tersenyum membaca pesan dari Brandon di layar ponselnya. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk menekan bel pintu rumah Ben Chevalier, lalu memutuskan untuk duduk di tangga di depan pintu, dan berniat untuk membalas pesan Brandon terlebih dahulu.


Kau tidak berkencan dengan pacarmu malam ini?


Mia mengirim pesan balasan pada Brandon, yang dibalas oleh sahabatnya itu beberapa menit kemudian.


No, I don't. So?


Mia mengutak - atik ponselnya sebentar untuk mencari nomer Brandon dan menelponnya.


"Aku harus mengajar biola dulu," ujarnya begitu suara Brandon terdengar di seberang sana.


"Owh, you're in Manhattan."


"Yeah .. aku selesai mengajar jam 8 malam."


"Kau mau aku menjemputmu?"


"No need, Brand. I'll meet you at the cinema."


"Alphine Cinema?"


"Good idea."


"Well, see you soon."


Mia menutup telponnya dan menyimpannya kembali ke dalam tasnya. Gadis itu segera beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat ke pintu utama lalu menekan bel beberapa kali.


Jackelyn yang membukakan pintu. Wanita keturunan afro - amerika itu mempersilahkan Mia masuk. Dan mengantarkannya ke ruang bermain Daren.


Daren yang tengah sibuk dengan jigsaw puzzle kesayangannya seperti biasa tersenyum senang melihat kedatangan Mia.


"Hi, Handsome." Mia menyapa Daren sembari meletakkan tas biola yang di gendongnya ke atas sofa. "Ouwh, you almost finish your jigsaw puzzle, how great, Daren," puji Mia seraya duduk bersimpuh di samping bocah lucu itu. Memperhatikan permainan bergambar tokoh Disney Winnie The Pooh dan teman - temannya itu.


"Yeah, I almosthh finishhh ith," sahut Daren dengan suara cadelnya.


"That's awesome, Daren." Mia mengelus kepala Daren lembut.


"Mia, Daddy issh prepallring dinner," ucap Daren. Membuat Mia mengerenyitkan keningnya. "Daddy ish cookingh dinner." Daren menambahkan.


"Ohya? Nice. Are you gonna have special dinner with your Daddy?"


"Nooo, he wanth to haaave dinner with yyou. I heard him talkingh with Penelope."


Mia membulatkan kedua matanya. Terkejut dengan kata - kata bocah berumur tiga tahun itu. Gadis itu hendak mengorek keterangan lebih lanjut darinya namun dilihatnya Daren telah beranjak dari duduknya dan mengambil biola mininya.


"I wanth a new songh, Mia."


"O - okay. Emm .. let me choose a song for you."


Mia berpikir sejenak. Mencoba memilih lagu yang diingatnya untuk diajarkan pada Daren. Namun kata - kata bocah itu benar - benar mengacaukan konsentrasinya.

__ADS_1


Sial!


.


.


"P, bisa kau bawa makanannya ke taman


belakang?" tanya Ben pada asisten rumah tangganya, Penelope.


"Sure." sahutnya seraya mengambil nampan berisi dua piring besar makanan khas New York, Pastrami And Corned Beef Sandwich, dan dua buah gelas kosong berkaki panjang.


"Akan kubawa botol anggurnya." Ben menyambar sebotol anggur di atas meja makan dan melangkah menuju ke taman belakang. Di mana telah dia siapkan sebuah meja bundar dengan dua kursi saling berhadapan. Di atas meja terdapat sebuah tempat lilin berbentuk mangkuk berwarna hitam, dengan satu lilin tebal yang menyala di tengahnya.


Penelope meletakkan kedua piring dan gelas yang di bawanya ke atas meja dan ditatanya sedemikian rupa. Merapikannya sekali lagi sebelum berpamitan pada Ben.


"P, kau beri tahu aku kalau Mia sudah selesai mengajar Daren, okay?"


Penelope mengangguk. Lalu berlalu meninggalkan majikannya itu sendiri.


Ben merapikan kemeja abu - abu yang dikenakannya, kemudian duduk di salah satu kursi. Udara dingin menerpa wajahnya. Pria itu tersenyum sembari memijit keningnya.


Makan malam outdoor di musim dingin, okay Ben, ini ide yang buruk.


Ben menggeleng pelan. Senyumnya masih tersungging di bibirnya. Diraihnya pembuka botol di sampingnya dan membuka tutup botol anggur merahnya. Lalu menuang isinya ke dalam gelasnya.


"Ben, Mia sudah selesai." Penelope melongok dari pintu belakang.


"Owh, okay." Ben menelan beberapa teguk anggurnya, untuk kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


.


.


Mia mencium sekilas pipi Daren. Bocah itu telah digandeng Jackelyn sang baby sitter. Daren melambai pada Mia seraya mengikuti Jackelyn keluar dari ruang bermainnya.


Mia merapikan biola beserta peralatannya dan memasukannya ke dalam tasnya. Kata - kata Daren kembali terngiang di kepalanya. Gadis itu menggeleng. Pastilah Daren salah dengar. Mia mengutuki diri sendiri yang berharap Ben tiba - tiba muncul dan mengajaknya makan malam.


"Lamia ...."


Mia terperanjat mendengar suara berat yang sangat dikenalnya itu. Dengan dada yang berdegup kencang gadis itu menoleh ke arah pintu.


Damn!


"Aku ingin mengajakmu makan malam di taman belakang. Emm .. yeah, sebagai tanda terima kasih kau telah mengajar Daren biola dengan baik."


"Ouwh .. emm .. aku, emm .. okay." Mia mengiyakan begitu saja ajakan Ben. Namun sejurus kemudian dia teringat janji nonton filmnya dengan Brandon.


Ah, Brandon bisa menunggu. Dia tidak akan keberatan.


"Come," kata Ben. Kemudian berbalik dan melangkah menuju taman belakang. Mia pun mengikutinya pelan.


Ben menarik kursi untuk Mia dan mempersilahkan gadis itu untuk mendudukinya.

__ADS_1


"Emm .. kubuatkan kau Pastrami And Corned Beef Sandwich, khas New York." Ben terkekeh.


"Terlihat enak." Mia menyahut pelan. Entahlah, dia selalu saja gugup jika berhadapan dengan frontman The Rebellion ini.


Beberapa saat keduanya hanya terdiam menikmati makan malam dalam sunyi. Mia benar - benar tidak punya bahan pembicaraan. Membuat suasana terasa begitu canggung untuknya.


"Terimakasih untuk mengajar Daren dengan baik." Ben memulai pembicaraan.


"Ouwh, no need to thank me, Daren anak yang pintar."


Ben tersenyum. Lalu meneguk gelas anggurnya.


"Bagaimana perkembangan bandmu, Lamia?"


"Kami baru saja selesai merekam lagu."


"Aku lihat gitarismu emm .. pacarmu, cukup berbakat." Ben teringat sosok pria yang dia lihat bersama Mia di Linden Center. Mereka terlihat dekat. "Siapa namanya?"


"Brandon, he's my best friend."


Ben mengangguk - angguk. "Kalian sudah siap tampil di Meadow?"


"Yeah, kami harus siap. Meadow Music And Art Festival adalah impian para musisi baru untuk bisa tampil di sana."


"Kau benar. Rebellion juga pernah berada di posisi itu. Mencari panggung - panggung bergengsi agar bisa dikenal banyak orang." Ben terbahak.


Mia tersenyum sembari memperhatikan Ben yang terlihat santai. Dalam cahaya yang remang wajahnya terlihat lebih tampan berkali - kali lipat dari biasanya.


"Kau juga seorang penulis lagu ya?" tanya Ben.


Mia meringis. "Hanya penulis amatir."


"It's not true. Your song, Behind Blue Eyes has good lyric."


Mia menelan ludahnya. Dia mengingatnya. Bagaimana mungkin.


"Waktu aku mendengarmu menyanyikannya di Bar Belly, aku merasa lagu itu seperti ditujukan padaku. You know, I have blue eyes and I'm also miserable." Ben tergelak.


Mia hampir saja tersedak anggur yang baru saja hendak diteguknya. Lagu itu memang aku tulis untukmu.


"By the way ...." ujar Ben. "Kau sudah dengar lagu baru yang ku kirim?"


"Aku sudah mendengarnya. Bagus sekali. Sangat berbeda dengan lagu Rebellion yang lain. Terkesan lebih depressive, namun menenangkan dalam waktu yang bersamaan. Jika menambahkan biola di dalam lagunya, akan terdengar sangat klasik. Dan liriknya, aku tidak punya cukup kata untuk mendeskripsikannya. Keseluruhan lagunya, Gosh, kau sungguh jenius." Pujian - pujian itu meluncur begitu saja dari mulut Mia tanpa bisa dibendung.


Ben tertegun. Baru kali ini dia mendapati Mia berbicara cukup banyak dan lancar.


"Dan vokalmu, kenapa kau memilih untuk bernyanyi dengan teknik growl?"


"Ouwh, ya, aku ingin mencoba suasana baru. So ...."


Obrolan keduanya mengalir begitu saja. Diselingi dengan tawa - tawa kecil sesekali. Sebotol sauvignon rouge (red wine) yang mereka nikmati menambah suasana terasa semakin menghangat.


Mia tak menyadari ponselnya bergetar berkali - kali pertanda ada banyak panggilan masuk. Fokusnya hanya tertuju pada Ben yang malam itu terlihat begitu mempesonanya.

__ADS_1


***


__ADS_2