I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 109


__ADS_3

Brandon menyelimuti tubuh Mia yang meringkuk di atas kasurnya. Lalu menarik kursi yang terletak tak jauh darinya dan duduk memperhatikan wajah gadis manis di hadapannya itu, yang tertidur dengan pulasnya. Pria itu membungkuk menopang dagunya dengan tangannya, lalu tersenyum getir.


Diraihnya gitar akustik milik Mia yang berada di sebelah nakas. Pria itu tak perlu menyetemnya karena sepertinya Mia sering menainkannya dan kunci - kuncinya masih tetap pada nada yang sesuai.


I could stay awake just to hear you breathing


Watch you smile while you are sleeping


While you're far away and dreaming


I could spend my life in this sweet surrender


I could stay lost in this moment forever


Every moment spent with you is a moment I treasure


Don't want to close my eyes


I don't want to fall asleep


'Cause I'd miss you baby


And I don't want to miss a thing


'Cause even when I dream of you


The sweetest dream will never do


I'd still miss you baby


And I don't want to miss a thing


I Don't Wanna Miss A Thing dari Aerosmith meluncur begitu saja dari petikan gitarnya.


Brandon menggeleng pelan sembari mentertawakan dirinya sendiri. Dilihatnya Mia menggeliat dan melenguh pelan. Sedikit membuka matanya dan tersenyum melihat sosok Brandon yang terlihat samar di hadapannya.


"Kau masih di sini?" tanya Mia dengan suara sedikit menggumam.


"Hanya memastikan kau baik - baik saja."


"Baiklah, Kakakku yang tampan," ucap Mia pelan, lalu memejamkan matanya. Hembusan nafasnya teratur, menandakan kalau gadis itu telah terlelap kembali.


Brandon terkekeh.


"Lagunya romantis sekali, Brand." Mia bergumam. Brandon menaikkan dua alisnya, rupanya tadi dia menyimak.


Brandon berlutut di sisi ranjang. Memandangi Mia yang masih memejamkan matanya.


"Aku mencintaimu, Lamia."


"Huh?"


"Aku mencintaimu, bukan sebagai sahabat, bukan sebagi adik perempuan, aku mencintaimu, seperti seorang pria pada seorang wanita. Apa kau mengerti itu?"


"Hmmm? What did you say?" tanya Mia masih dengan suara menggumam.


Brandon menghela nafas pelan. "Bukan apa - apa, lupakan saja."


Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, meluruskan kakinya ke atas ranjang, lalu memjamkan matanya.


.


.


Ashley menutup mulutnya ketika melihat Brandon keluar dari kamar Mia. Kemudian memandang pria itu dengan tatapan mata penuh selidik.


"Kau menginap di sini?" tanya Ashley. Matanya menyipit.


"Yeah?"

__ADS_1


"Kau dan Lammy ...."


"She's drunk," sahut Brandon menyela ucapan Ashley. Kemudian melangkah ke arah pintu apartemen dan meninggalkan Ashley yang terbengong - bengong.


Gadis itu menghambur ke dalam kamar Mia dan mendapati teman serumahnya itu masih meringkuk di balik selimut tebalnya.


"Lammy, hei, wake up .. Lamia!" Ashley mengguncang tubuh Mia keras. Disambut dengan gerutuan sebal yang meluncur dari mulut gadis itu seraya menepis lengan Ashley.


"Go away!" usirnya.


"Aku sungguh tidak mengerti, aku pikir kau menyukai Ben Chevalier. Tapi kenapa kau tidur dengan Brandon?"


Mia mendesis. "Siapa yang tidur dengannya?"


"Semalam Brandon menginap di kamarmu."


"Dia hanya menjagaku. Semalam aku mabuk."


"Sejak kapan kau suka minum?"


Mia menarik kembali selimutnya, tak berniat untuk menanggapi perkataan Ashley.


"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Ben Chevalier?" cecar Ashley.


"Kau ini cerewet sekali ya? Aku tidak ada hubungan apa - apa dengannya. Lagi pula sepertinya dia sudah punya pacar."


Mata Ashley membulat. "Darimana kau tahu?"


Mia menyibakkan kain selimutnya. Menatap wajah penasaran Ashley. "Ada seorang wanita yang datang ke rumahnya, dan mereka pergi bersama."


Ashley tergelak. "Apa karena itu kau mabuk?"


Mia mengacak rambutnya frustasi. Ashley membuat kepalanya semakin berdenyut saja.


"Aku haus," ujarnya seraya beranjak dari kasurnya dan melangkah keluar dari kamarnya.


***


"Cemburu?"


Laras mengangguk.


"Cemburu dengan siapa?"


"Liat dirimu, kau terlihat muram."


"Aku?" Ben tertawa. "Aku baik - baik saja."


Laras mengelus rambut pirang Ben yang dibiarkannya berantakan.


"Semua akan baik - baik saja."


.


.


TIME WARNER, STUDIO THE REBELLION, MANHATTAN.


"Icarus With you."


Greg membaca secarik kertas yang disodorkan Ben padanya. Sebuah lirik yang ditulisnya.


And now I fly closer


In night is going on for closer


And million miles ahead and I keep falling, all over


The day slides like an orange glow in hell

__ADS_1


But I can't tell


And you're near now, I want this, near me in my life


But we can't take this for answers and tomorrow


For me and her to say: "We're in heaven now"


We're in heaven now


Falling from above, we're in heaven now


My wings will carry you away


Together but alone, we're in in heaven now


Everything is gone, we're in heaven now


We're in heaven now


Golden feathers fade away


We didn't even try, we're gonna wake up stay


We didn't even try, before the night gets on it's way


Coloured eyes again


We're in heaven now, everything is gone


We're in heaven now


We're in heaven now, golden feathers fade away


"Hmm .. romantic." Greg bergumam.


"Misery, more like dying inside." Ben menoleh ke arah Greg yang masih berkutat dengan kertas di tangannya. "Aku ingin menambahkan satu instrumen di intro, melody, bahkan sepanjang lagu."


"Biola. Sepertinya akan terdengar lebih klasik. Stoner dengan biola, stoner - doom."


Ben menaikkan alisnya. "Biola?"


"Ya, seperti Celestial Season di album Solar Lovers. mereka memakai biola di setiap lagunya. Perpaduan antara klasik, doom, stoner .. benar - benar epic dan brilliant," kata Greg dengan antusias.


Ingatan Ben melayang pada saat melihat penampilan Mia dan bandnya di Bar Belly. Mereka menyelipkan biola di dalam musik heavy rock blues mereka. Memang unik.


"Okay." sahut Ben.


"Apa permainan biola Mia cukup bagus?" tanya Greg tiba - tiba.


"What? Mia? Ah, ya, she's good, she's .. really good." Kata - kata Ben meluncur begitu saja dari mulutnya.


Greg tersenyum. Lalu menepuk pundak Ben pelan. "Ambil dia saja." ujarnya.


"Mia? Seriously?" tanya Ben mencoba meyakinkan Greg.


"Yeah, why not?"


Greg menatap Ben dengan mengerenyitkan dahinya.


"Aku dengar nama Mia disebut, ada apa ini?" sela Marcus yang tiba - tiba muncul diikuti dengan Liam.


Greg terkekeh. "Aku dan Ben baru saja dapat ide untuk memakai Mia sebagai pengisi biola di lagu baru."


Mata Marcus membulat. "Brilliant!" pekiknya dengan senyum lebarnya. "Biar aku yang bicara padanya."


"Jangan, dia tidak akan menganggapmu serius, Marc." Greg menyela. "Kau saja yang bicara padanya, Ben," ujar Greg pada Ben.


"Okay." Ben mengangguk. Sementara Marcus mendecak sebal. Dan Liam hanya tertawa saja melihat wajah sahabatnya itu berubah masam.

__ADS_1


***


__ADS_2