I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 84


__ADS_3

Laras melangkahkan kakinya keluar dari sebuah toko kelontong Asia yang berada di daerah Tudor City tempatnya tinggal. Satu tote bag besar berisi bahan-bahan makanan dijinjingnya dengan satu tangannya. Gadis itu membenarkan letak syal di lehernya kemudian melanjutkan langkahnya menelusuri trotoar luas yang lengang.


Satu rangkulan tangan mengagetkannya hingga gadis itu menghentikan langkahnya.


"Geez, Cath!" serunya. Melotot ke arah Catherine yang tengah tertawa dengan lebarnya.


"Laras, kau menghilang beberapa hari ini, kau juga tidak pernah mengangkat telponku, dasar brengsek!" maki Catherine seraya mengacak rambut Laras. "Apakah kehangatan tubuh Ben Chevalier membuatmu lupa pada sahabatmu ini, huh?"


Laras mendecak. "Bukan begitu, aku hanya ...."


"Tidak perlu beralasan panjang lebar." Catherine melongok ke arah barang belanjaan Laras. "Aku akan memaafkanmu kalau kau mengundangku makan siang dan membuatkanku masakan Indonesia."


Laras menghela nafas. "Okay, cerewet."


"Yes!" Catherine berseru kegirangan. Kemudian mengikuti langkah Laras menuju gedung apartemen gadis itu.


***


"Hmmm .. yummy," gumam Catherine ketika Laras menyodorkan semangkuk bakso panas lengkap dengan racikannya.


"Laras .. kemana saja kau?" tanya Catherine seraya meniup-niup potongan bakso di sendoknya.


"Portland," jawab Laras, senyumnya melebar.


"Ohya? Ben mengajakmu ke Portland?" tanya Catherine seraya mengunyah baksonya.


Laras mengangguk. Bibirnya masih menyunggingkan senyum.


"Aku berkenalan dengan kedua orang tua Ben."


Catherine terperangah. "Seserius itukah dia?"


"Mungkin."


"Lucky b**ch!" maki Catherine. Laras terkekeh mendengar makian sahabatnya itu.


"Cath ...," panggil Laras. "Ben memintaku untuk tinggal bersama."


"And?"


"Aku menolaknya."


Catherine mendesis. "Stupid girl!"


Laras menghela nafas dalam-dalam. "Entahlah, semua ini terlalu cepat. Lagi pula aku masih merasa nyaman di apartemen ini, aku masih nyaman dengan hidupku."


"Kau gila, pacarmu itu kaya raya, Laras, pacarmu itu Ben Chevalier, apa kau masih mau bekerja di bar atau menjadi pelayan di restauran?" ujar Catherine gusar.


"So what?" bantah Laras. "Apa berpacaran dengan Ben Chevalier harus mengubah hidupku?" Laras menaikkan kedua alisnya. "Lagi pula aku tidak berencana untuk bekerja di bar atau menjadi pelayan restauran selamanya, nanti setelah aku lulus aku akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang aku ambil."


"Terserah kau saja," ujar Catherine sebal.


Laras meringis. Memperhatikan sahabatnya itu yang dengan lahapnya menikmati bakso yang buatannya.


***


MCFADDEN'S SALOON, TUDOR CITY, MANHATTAN.


Laras kebagian tugas melayani tamu di meja bar menggantikan Tobey, rekan kerjanya yang tidak masuk kerja malam itu. Gadis itu sibuk mengisi gelas-gelas kosong dari para pengunjung yang duduk di kursi-kursi bar di hadapannya.


"Hei, Laras .. ada mantan pacarmu," ujar Meghan, rekan kerjanya seraya menyenggol bahu Laras. Gadis itu melayangkan pandangannya ke arah pintu masuk, dilihatnya James tengah melangkah menuju ke arahnya.


"Hi, Laras," sapanya seraya duduk di kursi kosong di sebelah seorang lelaki tua yang tengah menikmati minumannya.


"Hi James, what can I get you to drink?" Laras tersenyum.

__ADS_1


"Hmmm .. scotch, please," jawab James tanpa mengalihkan pandangannya pada Laras.


"Ice?" tanya Laras kembali.


"Yes, please."


Laras segera mengambil botol whiskey dari rak minuman di belakangnya. Membuka tutup botolnya dan menuangkan ke dalam gelas. Kemudian mencelupkan dua balok es batu ke dalamnya.


"Berhati-hatilah dengan resiko cinta lama bersemi kembali," goda Meghan setengah berbisik. Laras langsung memelototi gadis itu. James yang sempat mendengarnya tersenyum simpul.


"Thanks, Laras," ucap James ketika Laras menyodorkan gelas ke arahnya. Gadis itu hanya melayangkan senyumnya.


"How are you?" tanya James sembari mencicipi isi gelasnya.


Laras yang tengah menuangkan minuman ke gelas lelaki tua di sebelah James, menoleh ke arah lelaki berambut hitam itu.


"Good," jawabnya singkat.


"Yeah? Apa kau bahagia?"


Laras mengerenyitkan dahinya. "Kenapa bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin memastikan saja."


"Tidak ada alasan untuk tidak berbahagia, bukan?"


"Kau benar."


Laras mengangkat botol whiskey di tangannya. "Kau mau aku mengisi gelasmu lagi?"


"Yeah, sure."


Laras kembali menuangkan cairan berwarna kuning kecokelatan itu ke dalam gelas James. Kemudian bergeser ke hadapan pengunjung yang lain untuk menuangkan pesanan mereka. Setelah selesai, Laras kembali melangkah ke hadapan James yang memintanya untuk kembali mengisi gelasnya.


"Kau sengaja datang ke sini?" tanya Laras.


"Okay."


"Dan aku juga ingin melihatmu."


"Ow come on, James." Laras memutar kedua bola matanya jengah.


"Tidak ada larangan untuk sekedar melihat atau berbicara denganmu, bukan? Apa pacarmu keberatan jika kau mengobrol dengan teman lama?" kekeh James sembari menggerakan kedua ibu jarinya membentuk tanda kutip.


Laras menggeleng pelan, kemudian meninggalkan James begitu saja. Melangkah menuju ke hadapan pengunjung yang lain yang sedari tadi melambai memanggilnya.


***


Laras merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah berjam-jam berdiri melayani pengunjung bar yang datang silih berganti. Dilihatnya James masih duduk di depan meja bar, menikmati satu gelas terakhirnya.


"James, kami sudah tutup," ujar Laras sembari membantu Meghan dan beberapa rekan kerja yang lain menaikkan kursi-kursi ke atas meja.


"Aku akan menunggumu sampai selesai," sahut James dengan senyumnya. Pandangan matanya sayu.


Laras menghela nafas dalam-dalam. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Laras kemudian masuk ke dalam ruang karyawan tanpa mempedulikan James. Beberapa saat kemudian gadis itu keluar dengan jaket tebal yang membungkus tubuhnya dan tas selempang di bahunya.


"See you tomorrow, guys," ujarnya berpamitan dengan Meghan dan yang lainnya. Kemudian melangkah keluar bar, diikuti oleh James.


"What do you want, james?" tanya Laras ketika telah berada di luar bar.


"Walk you home, that's all," jawab James sembari mengangkat kedua tangannya.


"Tidak perlu, aku ...." Laras tak melanjutkan kata-katanya ketika tersadar ada seseorang yang tengah berdiri menyandarkan tubuhnya di mobil seraya menatap tajam ke arah mereka. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya.


"Ben," ujar Laras. Sementara James mendengus kesal.

__ADS_1


Ben mendekat ke arah Laras, memandang ke arah James dengan tatapan sinisnya.


"Lets go, baby." Ben meraih tangan Laras dan menggandengnya masuk ke dalam mobil.


"F**k!!" maki James sembari mengepalkan kedua telapak tangannya. Memandang tajam mobil Ben yang bergerak menjauh.


***


Ben membawa Laras ke apartemennya di Big Apple tanpa bisa gadis itu tolak. Sepertinya mood Ben sedang tidak bagus malam itu, terlihat dari wajahnya yang tampak tegang.


Laras tidak mau berdebat, selain karena kelelahan, dia juga tidak ingin menambah runyam suasana.


"Selamat malam, Mr. Chevalier, Nona," sapa Rosita, asisten rumah tangga Ben ketika membukakan pintu. Laras tersenyum dan mengangguk. Sementara Ben tak menyahut dan melenggang naik menuju kamarnya.


Ben membuka pakaiannya dan langsung masuk ke dalam selimut tanpa mempedulikan Laras. Laras menghela nafas pelan, kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebentar.


Laras kebingungan sendiri karena tidak membawa pakaian ganti, akhirnya diambilnya sembarang pakaian yang ada di ruang baju Ben untuk dipakainya. Sebuah t-shirt putih polos yang tampak kebesaran di badannya.


Laras ikut masuk ke dalam selimut, posisi Ben membelakanginya. Tangan Laras bergerak ingin menyentuh punggung Ben namun dia mengurungkan niatnya.


"Ben," panggil Laras.


"Hmmm ...."


"Apa .. ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Laras hati-hati.


Ben membalikkan badannya menghadap Laras. Kemudian menopang kepalanya dengan kepalan tangannya.


"Kenapa mantan pacarmu ada di sana?" tanya Ben.


"Minum, seperti pengunjung yang lain di McFadden."


"Dan menunggu sampai kau selesai kerja?" Ben menaikkan kedua alisnya.


"Kau tanyakan saja sendiri padanya, Ben," kekeh Laras.


Ben menggerakkan badannya. Kini posisinya menghadap ke langit-langit kamar, dengan meletakkan kedua tangan di bawah kepalanya.


"Kau tahu, Ben .. jika hal ini membuatmu marah padaku, itu adalah sesuatu yang sangat konyol."


"Ya, ya .. aku tahu, tidak seharusnya aku marah padamu .. lain kali aku akan langsung menghajarnya saja."


"Dan membuat Jack kerepotan lagi," sahut Laras sembari memicingkan kedua matanya.


Ben terbahak. Diraihnya kepala Laras dan diacak-acaknya rambut panjang gadis itu dengan gemasnya.


"Kau harus dihukum," ujar Ben seraya memposisikan tubuhnya di atas Laras. Mencekal kedua tangan Laras hingga tidak bisa berontak.


"Hei, apa-apaan ini? Dihukum atas dasar apa?" Laras memalingkan wajahnya ketika Ben hendak mel**mat bibirnya.


"For making me so jealous."


"What?" pekik Laras.


Ben menyunggingkan senyum liciknya, lalu dengan paksa melepaskan t-shirt yang membalut tubuh Laras tanpa mempedulikan jeritan protes gadis itu.


"Ben, stop it!" seru Laras. Namun Ben berpura-pura tak mendengarnya.


"Ben, aku bilang berhenti!" seru Laras kembali. Ben sama sekali tak berniat menghentikan aktifitasnya itu.


"Dasar kaum patriarki sialan!" maki Laras.


***


__ADS_1


Aku lagi kangen The Rebellion manggung 😁


__ADS_2