
Laras memencet-mencet tombol remote tvnya secara acak, tak begitu memperhatikan acara yang disajikan di layar persegi panjang itu. Gadis itu bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah rak anggur mininya dan mengambil sebotol. Berniat menghabiskan malam dengan menghangatkan dirinya, dan hatinya yang terasa sepi.
Dituangnya anggur ke dalam gelasnya, kemudian diteguknya sedikit demi sedikit. Rasa hangat menjalar ke sekujur tubuhnya. Laras menyandarkan punggungnya di sofa. Ditekannya kembali remote tvnya. Mengganti-ganti channel satu persatu.
Mata Laras membulat ketika saluran tv jatuh pada channel E! News yang memperlihatkan seorang presenter wanita yang tengah bercuap-cuap dan menyebut nama Benjamin Chevalier. Laras mencoba memperhatikan sebuah foto yang tertera di belakang presenter itu. Gadis itu mengucek matanya memastikan kalau dia tidak salah lihat.
Foto Ben tengah makan berdua dengan seorang wanita. Dada Laras berdesir.
Laras mendengarkan dengan seksama
apa yang diucapkan presenter E! News itu.
Yep, Ben tengah dekat dengan seorang wanita bernama Hailey. Vocalist band pendatang baru, Resistance.
"Wow!" ucap Laras tanpa sadar.
"Unbelievable." Laras tersenyum pahit.
"Brengsek banget jadi cowok ya," maki Laras sembari meneguk gelas anggurnya. Air matanya tak terasa mengalir.
"Setengah mati nahan sepi di sini, dia malah seneng-seneng di sana?"
"Udah ngasih harapan, kirain serius, ternyata begini lagi, dipatahin lagi, dipatahin lagi!"
Laras meracau sendiri. Menuang kembali gelasnya, meneguknya, lagi dan lagi. Hingga botol anggurnya menjadi kosong. Sambil sesenggukan dan sesekali mengelap ingusnya dengan lengan sweaternya. Rupanya pengaruh alkohol membuat emosinya meluap. Laras menelungkupkan wajahnya ke atas meja dan menangis tersedu-sedu.
Laras terkejut ketika ponselnya bergetar. Dengan mata menyipit diperiksanya layar benda segi empat itu.
"Ngapain sih telpon-telpon!" sungut Laras melihat nama Ben yang tertera. Laras hanya memperhatikan ponselnya tanpa berniat mengangkatnya, hingga getarnya berhenti.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar kembali. Dengan malas digesernya tombol bergambar telepon itu ke kanan. Lalu menyalakan tombol loud speakernya.
"What?" bentak Laras, namun yang keluar adalah suara paraunya. Disambarnya tisyu di atas meja, kemudian mengeluarkan isi hidungnya yang membuatnya sedikit susah nafas.
"Hey, Laras, are you okay? You sound so weird, are you crying? What's wrong? Are you hurt?" Suara panik Ben dari seberang sana terdengar.
"Ben!" bentak Laras. "Tidak usah berpura-pura perhatian denganku!"
"Ada apa Laras? Aku salah apa?"
Salah apa? Batin Laras. Tangis Laras pecah kembali. Ingin rasanya memukuli lelaki menyebalkan ini kalau saja dia berada di dekatnya.
"For god's sake, Laras .. tell me what's wrong with you?" teriak Ben. Kali ini dia benar-benar panik.
"I hate you Ben, I don't wanna see you anymore, I hate you, I just hate you!"
Masih terisak-isak, Laras membaringkan tubuhnya di sofa. Beberapa menit gadis itu menangis hingga akhirnya tertidur pulas.
Empat puluh menit berlalu, sebuah ketukan cukup keras membuat Laras terbangun. Kepalanya terasa cukup berat. Namun kesadarannya mulai pulih.
Laras menyeret langkahnya menuju pintu. Kemudian membukanya sedikit tanpa melepas grendel pintunya. Dilihatnya seorang lelaki kulit putih berumur sekitar 40an tahun dan berpakaian rapi dengan jas hitamnya tersenyum ke arahnya.
"Nona Soetodjo?" tanya lelaki itu.
"Ya?" jawab Laras. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Boleh saya masuk?" tanya lelaki itu dengan ramah.
Laras dengan ragu-ragu membuka grendel pintunya dan mempersilahkan lelaki itu masuk. Gadis itu tidak langsung menutupnya kembali, melainkan berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Berjaga-jaga kalau kalau lelaki itu adalah orang jahat.
"Mr Chevalier menyuruh saya untuk memeriksa keadaanmu, dia sangat khawatir, ponselmu tidak bisa dihubungi."
Laras menutup mulutnya. Sial, baru diingatnya sebelum tidur dia memaki-maki Ben sambil menangis. Lalu mematikan ponselnya dan membuangnya entah kemana.
"Emh .. aku baik-baik saja, Mister ...." Laras menyipitkan matanya.
"Panggil Pablo saja," ujar lelaki bernama Pablo itu memotong ucapan Laras.
"Ah ya, Pablo, I'm okay, I was a little .. you know, drunk," kata Laras dengan muka merah menahan malu.
"Ah I see .. well alright then, I'll tell Mr Chevalier that you're in a good shape."
"Thanks Pablo, maaf sudah merepotkanmu,"
ucap Laras lirih.
Lelaki itu membungkuk hormat kemudian berpamitan. Laras menutup pintu lalu terduduk di sofa.
"Duhhh, malu-maluin!" Laras mengutuki diri sendiri. Memukul-mukul kepalanya dengan gemas. Dilihatnya ponsel yang dia lempar tergeletak di pojok sofa dan segera diraihnya kemudian menghidupkannya.
Puluhan misscall dari Ben muncul dan juga beberapa pesan. Geez, lelaki itu panik sekali, batin Laras. Terbersit rasa bersalah di hatinya. Tak seharusnya Laras bersikap berlebihan seperti itu. Mungkin wanita bernama Hailey itu hanya sekedar menemani makan.
Laras menarik nafas dalam-dalam.
"Ngapain juga aku marah-marah ya, Ben kan bukan siapa-siapaku," gumam Laras sembari mentertawakan diri sendiri.
***
__ADS_1