I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 103


__ADS_3

CONEY ISLAND, BROOKLYN.


"Ah, pantai jauh lebih enak di musim dingin," ujar Mia seraya merebahkan tubuhnya di atas hamparan pasir putih.


Brandon terkekeh. "Gadis aneh! Semua orang berlibur ke pantai di musim panas, mereka ingin berjemur."


"Aku lahir dan besar di negara tropis, sinar matahari bukan hal yang istimewa bagiku," cibir Mia sembari bangkit dari rebahnya, duduk menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang. Gadis itu menyapu pandangan berkeliling. Sepi, hanya ada satu dua orang yang tengah berjalan - jalan dengan anjing mereka.


"Brand," panggil Mia.


"Hmmm?"


"Thank you." ucap Mia seraya menoleh pada pria berambut hitam di sampingnya itu.


"Thank you for what?" tanya Brandon keheranan.


Mia tersenyum tipis. "Untuk semua bantuanmu selama ini."


Brandon terbahak. "Aku ingat waktu pertama kali bertemu denganmu di toko pamanmu itu. Gadis Asia yang sangat kurus dan pendek, bekerja melayani pembeli dengan canggung dan malu - malu."


Mia memanyunkan bibirnya. "Aku terlihat menyedihkan ya?"


"No, you looked so fragile," kikik Brandon. "Membuat siapa pun ingin melindungimu."


"Hei, aku wanita tangguh, kau tahu?" gerutu Mia seraya melemparkan segenggam pasir ke arah Brandon, membuat pria itu secara reflek melindungi wajahnya.


Mia tertawa puas. Kemudian memandang lurus ke depan dan menghela nafasnya pelan.


"Brand," panggil Mia.


"Ya?"


"Apakah kau pernah menyukai seseorang secara diam - diam?" tanya Mia.


Suara deburan ombak tak sebanding dengan gemuruh yang ada di hati Brandon saat ini.


"Hmm, yeah." jawabnya.


"Lalu apa yang kau lakukan? Menyimpan perasaanmu rapat - rapat? Atau kau berhasil mengungkapkannya?"


Brandon menghela nafasnya dengan berat. "Aku menyimpannya untuk diriku sendiri."


"Why?"


"Karena aku merasa dia tidak punya perasaan yang sama padaku."


"How do you know?"


"Karena ... emm .. dia menganggapku sebagai sahabat, tidak lebih."


Mia mengangguk - angguk. "Kasihan sekali kau?" godanya.


"Ya, sungguh kasihan." Brandon menggaruk - garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "But it's okay, bisa dekat dengannya saja sudah cukup."


"By the way, siapa dia?" tanya Mia membuat pria bermata hazel itu tercekat.


"Just a girl from .. eemm .. high school," ucapnya terbata.


"I see."


Brandon berdehem beberapa kali untuk melicinkan tenggorokannya yang terasa kering.


"Kau tidak merasa dingin? Ayo kita cari minuman hangat," ujar Brandon seraya menunjuk ke arah sebuah cafe yang berjarak sekitar lima ratus meter dari tempat mereka duduk.

__ADS_1


"Agree!" sahut Mia seraya bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Brandon. Pria itu tersenyum dan menyambut uluran tangan dari gadis manis yang mungkin tidak akan pernah tahu perasaannya yang sebenarnya itu.


***


Ashley mengetuk pintu kamar Mia pelan. Kemudian membuka pintu perlahan. Dilihatnya gadis itu tengah meringkuk dalam selimut tebalnya.


"Kau sakit?" tanya Ashley seraya membuka selimut yang menutupi sebagian kepala Mia.


"Sedikit, sepertinya udara pantai tidak cocok untukku," kekeh Mia.


Ashley menghela nafasnya pelan. "Kenapa harus pergi ke pantai di cuaca yang dingin seperti ini?" gerutunya.


Mia meringis. "Refreshing."


"Lammy, besok waktunya bayar sewa flat, apa kau sudah punya uangnya?" tanya Ashley.


"Oh, sial!" maki Mia sembari menepuk dahinya pelan.


Gaji dari Linden Center diberikan setiap akhir bulan, sementara ini masih pertengahan bulan. Uangnya saat ini hanya cukup untuk makan saja.


Minta bantuan Brandon? Ah, aku sudah cukup banyak merepotkannya.


Om Surya? Aku tidak tahan dengan makian Tante Merry dan Debby.


Apa aku minta gajiku pada Mr. Chevalier?


Apa tidak terlalu memalukan?


Mungkin dia juga akan menggajiku di akhir bulan.


"Keuanganku sedang buruk bulan ini, aku tidak bisa menutupi bagianmu terlebih dahulu," ujar Ashley membuyarkan lamunan Mia.


Mia menyibakkan selimutnya lalu duduk menyandar ke kepala ranjang. "Tenang Ash, besok aku bayar bagianku."


Ashley memandang ke arah sahabatnya itu dengan mata sendu. "Maaf tidak bisa membantumu seperti biasa."


Mia kembali menyandarkan punggungnya di kepala ranjangnya. Menghela nafasnya dalam - dalam.


New York memang keras.


***


GREENWICH VILLAGE, MANHATTAN.


Mia menekan bel rumah mewah bercat merah muda itu beberapa kali. Seorang wanita setengah baya berseragam asisten rumah tangga muncul membukakan pintu untuknya.


"Silahkan masuk, Miss Kusuma," ujarnya ramah.


"Terimakasih, Penelope," ucap Mia pada wanita bernama Penelope itu.


Mia mengangguk. Lalu melangkah masuk mengikuti wanita itu.


"Bukankah hari ini bukan jadwal latihan Daren?" tanya wanita itu heran. "Jackelyn sedang mengajaknya keluar." sambungnya.


"Emm .. sebenarnya aku .. ingin menemui Mr. Chevalier," jawab Mia ragu - ragu.


Penelope mengangguk - angguk. "Mr. Chevalier sedang berada di studio." Penelope menunjuk ke arah sebuah pintu berwarna hitam di ujung koridor. "Kau mau aku memanggilnya atau ...."


"Aku akan menunggunya sampai dia selesai," potong Mia segera.


"Okay, kau bisa menunggunya di dapur atau ruang bermain Daren."


"Aku akan menunggunya di dapur saja."

__ADS_1


Penelope mengantarkan Mia ke arah dapur. Lalu meninggalkannya di ruangan yang berdesain chic itu setelah membuatkan secangkir cokelat panas untuknya. Mia menarik kursi makan dan duduk di atasnya. Disapunya pandangan berkeliling ruangan. Sebuah ruangan dapur yang luas, bahkan jauh lebih luas dari flatnya. Ada mini bar lengkap dengan kursinya di tengah ruangan. Dan satu rak panjang menempel di dinding yang berisi berbagai macam merk botol minuman mahal.


Mia merapatkan mantel tebalnya. Penghangat ruangan rupanya tak begitu mampu menghalau rasa dingin yang dirasanya akibat demam yang belum juga hilang sejak kemarin.


.


Satu jam telah berlalu, Mia masih menunggu di dapur sembari memainkan ponselnya. Suara lengkingan gitar masih terdengar sayup - sayup dari studio milik Ben di ujung sana. Mia menghela nafas pelan. Badannya terasa letih akibat demam yang melanda. Gadis itu memandang sekeliling. Penelope pun entah kemana.


Mia menelungkupkan kepalanya ke atas meja dan tertidur.


***


"Ben, ada Mia sejak tadi menunggumu, aku meninggalkannya di dapur karena ada yang harus ku kerjakan, ini sudah hampir tiga jam dia menunggu," ujar Penelope pada Ben yang baru saja keluar dari studionya. Wajah wanita paruh baya itu terlihat cemas.


Ben mendecak kesal. "Kenapa kau tidak memanggilku?" tanya Ben.


"Dia bilang akan menunggumu sampai selesai, aku kira kau tidak akan lama, maafkan aku, Ben," ucap Penelope lirih.


Ben segera melangkah menuju dapur dan mendapati Mia yang tengah menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Tarikan nafas gadis itu terdengar halus. Pertanda bahwa dia tengah tertidur.


"Mia?" panggil Ben pelan seraya menyentuh lengan Mia.


"Jesus Christ!" pekik Mia kaget. Kursinya terdorong ke belakang dan hampir saja dia terjatuh. Namun Mia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dan langsung berdiri. "I'm sorry, Mr. Chevalier," ucapnya gugup.


Ben tersenyum. "Maaf membuatmu menunggu lama, ada yang bisa kubantu?" tanya Ben sembari mempersilahkan Mia untuk duduk kembali.


"Emm .. aku ...." Mia memijit tengkuknya pelan. Lidahnya tiba - tiba menjadi kelu.


Ben menaikkan alisnya. "Ya?"


"Emm .. Mr. Chevalier, aku minta maaf sebelumnya, hari ini aku harus membayar sewa apartemen, sepertinya aku membutuhkan gajiku lebih awal, kalau kau tidak keberatan," ujar Mia dengan hati - hati.


Ben terbahak mendengar perkataan Mia. "Aku kira ada masalah penting. Tentu saja kau bisa ambil gajimu kapan saja. Tunggu sebentar."


Ben berbalik dan meninggalkan Mia yang tampak lega. Gadis itu tersenyum tipis. Walaupun merasa sangat tidak enak pada pria itu, namun setidaknya dia tidak akan dipusingkan lagi tentang uang sewa bulan ini.


Tak lama Ben muncul kembali dengan selembar kertas cek bertuliskan JP Morgan - Chase, salah satu Bank terbesar di Amerika, kemudian menyerahkannya pada Mia.


Mata gadis itu membulat sempurna ketika membaca angka yang tertulis di kertas persegi panjang itu.


"6000 dollars? Mr. Chevalier, apa kau tidak salah tulis?" tanya Mia seraya memandang Ben tak percaya.


"Anggap saja itu sebagai tambahan karena kau menemani Daren ke kebun binatang," ujar Ben dengan tenang.


"Tapi, aku senang bisa menemani Daren."


Ben tersenyum. "Terima saja, aku tahu kau membutuhkannya."


Entah apa yang dirasakan Mia saat itu. Terharu, mungkin. Matanya terasa mengembun.


"Terimakasih, Mr. Chevalier," ucap Mia.


"My pleasure."


"Sekali lagi terimakasih," ucap Mia kembali. "Kalau begitu aku pamit dulu, sampai jumpa, Mr. Chevalier."


Mia membungkuk kecil. Ben memabalasnya dengan anggukan kepala.


Ben memandang punggung mungil Mia yang menghilang di balik pintu. Pria itu menghela nafas dalam - dalam. Diacaknya rambut panjangnya pelan. Kemudian disapunya wajah dengan telapak tangannya.


Kenapa semua seperti terulang kembali?


Kenapa Laras?

__ADS_1


Laras?


***


__ADS_2