
BIG APPLE APARTMENT, MANHATTAN.
Ben menghentikan petikan gitar elektriknya ketika seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu studio pribadinya. Wanita berambut pirang dan bertubuh ramping itu tersenyum ke arah Ben yang tampak sedikit terkejut dengan kehadirannya.
"Monica?" ujar Ben sembari meletakkan gitarnya sembarang. Matanya masih menatap wanita yang tak lain adalah Monica Chevalier, ibunya.
"Surprise!" seru Monica yang masih terlihat cantik dengan senyum lebarnya yang manis. Senyum yang diturunkan kepada anak semata wayangnya itu.
"Kenapa tidak menelpon terlebih dahulu? Kau mengejutkanku," kata Ben sembari memberi pelukan pada sang ibu.
"Apa aku juga harus membuat janji untuk bisa bertemu denganmu, Benji?" tanya Monica. Dibalasnya pelukan anaknya itu dengan erat.
"Apa yang kau lakukan di Manhattan?" Ben melepaskan pelukannya. Lalu menyuruh ibunya itu duduk di sebuah sofa yang terletak di pojok ruangan.
"Ada yang harus aku kerjakan di sini." Monica memandang keluar jendela kaca, gedung-gedung pencakar langit Manhattan menjadi pemandangan utamanya. "Hmm .. nice view," ujarnya.
"Bagaimana kabar Richard?" Ben menanyakan kabar ayahnya sembari menuangkan botol anggur ke gelas yang telah tersedia di atas meja. Lalu memberikannya kepada Monica.
"He's good," jawab Monica sembari menerima gelas dari tangan Ben kemudian meneguknya. Monica melirik Ben, sepertinya anak ini belum melupakan perseteruan silam dengan ayahnya.
"Great!" hanya itu yang keluar dari mulut Ben.
Monica tersenyum, lalu mengelus lengan Ben lembut.
"Bagaimana kabarmu, Benji? Aku membaca banyak berita tentangmu, sebagian besar tentang wanita." Monica terkekeh. "Anita Wallis, gadis asia, lalu vokalis wanita dari Chicago .. dan ah, aku juga membaca berita tentang perseteruanmu dengan salah satu personel bandmu, juga karena seorang wanita, wow .. Benji, kau seorang casanova sekarang rupanya."
Ben menggeleng pelan sambil tersenyum kikuk. "Kau tahu media selalu melebih-lebihkan berita, aku tidak seburuk itu."
Monica terbahak. " So, siapa gadis beruntung yang kau pilih?" tanyanya.
Ben memijit tengkuknya. Pertanda dia tengah kebingungan menjawab pertanyaan ibunya itu.
"Anita Wallis?" tanya Monica. " Gadis Chicago?"
Ben menggeleng. Monica semakin antusias mengorek keterangan dari anaknya itu. "Gadis asia?"
"Aku tidak harus menjawabmu, Monica," ujar Ben seraya meneguk gelas anggurnya. Monica melihat sekilas binar di mata Ben ketika dia menyebut gadis asia.
__ADS_1
"Her name's Laras."
"Uuuwf .. okay," goda Monica. Senyum lebarnya kembali terbit. Ben terlihat jengah.
"Hmmm .. aku pikir aku akan dapat menantu kulit putih, but well .. gadis asia tidak terlalu buruk," ujar Monica masih dengan senyum lebarnya.
Ben mendesis. " Kau kuno sekali, Monica!"
Monica kembali terbahak. Lalu mengelus pipi Ben dengan lembut.
" Well, enough about me, Mom .. how are you?" Ben mencoba mengalihkan pembicaraan.
"As you can see, I'm excelent .. but I miss my little boy so much," rengek Monica seraya menyandarkan kepalanya ke pundak Ben dengan manja.
"Di mana kau menginap?" tanya Ben.
"A hotel near Central Park."
" Sampai kapan kau berada di Manhattan?"
"Aku akan kembali ke Portland malam ini, tapi sebelumnya aku akan mengunjungi Rose."
"Apa kau ada rencana untuk mengunjungi kami di sana?" tanya Monica. Mata wanita itu memancarkan sebuah harapan. Harapan suami dan anaknya bisa akur kembali.
Ben menarik nafas dalam-dalam. Pandangannya lurus ke depan. Dia tahu maksud pertanyaan ibunya itu. Dan dia tahu benar ayahnya seorang yang sangat keras kepala. Bahkan Ben sudah membuktikan kesuksesannya sebagai seorang musisi saja tidak mampu membuat Richard luluh.
"I don't know yet, Mom." ucap Ben. Memandang wajah ibunya yang menyiratkan kekecewaan.
***
Laras merapatkan selimutnya ke seluruh tubuhnya. Gadis itu tenggelam di atas kasurnya, meringkuk dan menggigil. Penghangat ruangan tak mampu mengurangi rasa dingin yang menggerogotinya sampai ke tulang akibat demam yang melanda.
Suara ketukan pintu pelan terdengar. Rasanya Laras enggan beranjak dari pembaringannya. Namun suara ketukan itu tak berhenti. Dirapatkan sweater tebalnya dan dengan malas diseretnya langkah menuju pintu dan membukanya. Ben, dengan t-shirt putih dibalut jaket panjang dan celana jeans warna biru lusuhnya, lalu rambutnya yang diikat bagian atasnya, dan mata birunya yang sebiru lautan, berdiri menatapnya dengan tatapan yang mampu menyihir Laras menjadi patung.Oh tidak, kenapa dia datang sekarang?
"Laras .. kau sakit?" ujar Ben begitu melihat wajah pucat Laras dan sweater tebal yang dipakainya.
"Hi .. Ben," tenggorokan Laras tercekat. "Ya .. hanya sedikit demam." Laras membuka lebar pintunya dan mempersilahkan Ben masuk.
"Should I take you to doctor?" tanya Ben cemas.
__ADS_1
Laras terbatuk beberapa kali. " No, no .. it's okay. I'm gonna be okay."
Ben memegang kedua tangan Laras dan membimbingnya duduk di atas sofa. Dielusnya kepala gadis itu lembut. Laras menunduk dengan pipi yang telah memerah.
"Kenapa tidak menjawab telponku?" tanya Ben sembari memiringkan wajahnya mencoba memandang wajah Laras yang tertunduk.
"Emm .. aku ...." Laras mengutuki dirinya yang tidak mampu memberi alasan yang logis untuk pertanyaan Ben.
"Kau marah melihatku bersama Claire?"
Laras terkesiap. Membuatnya semakin tak mampu menjawab lagi.
"Laras ...." Perlahan Ben mengangkat dagu Laras dengan jemarinya. Lalu menyentuhkan bibirnya ke bibir gadis itu dengan lembut.
Laras tak kuasa menolak. Bahkan badannya yang tadinya menggigil karena demam kini berangsur-angsur normal. Berganti dengan keringat dingin yang mengalir sedikit demi sedikit membasahi seluruh tubuhnya.
Ben menghentikan ciumannya. Ditatapnya wajah gadis bermata hitam di hadapannya itu lekat-lekat.
"Laras .. je t'aime," ucap Ben dengan aksen perancis-amerikanya yang selalu membuat Laras gemas. Namun hati Laras berbunga-bunga mendengarnya.
"Moi aussi ...." Jantung Laras serasa berhenti ketika mengucapkannya. Namun senyum lebar Ben terbit. Direngkuhnya tubuh mungil Laras dan dibenamkannya ke dalam dadanya.
Diciuminya puncak kepala Laras tanpa henti.
Ben mendorong pelan tubuh Laras hingga terbaring di atas sofa, kemudian lelaki itu merangkak ke atas Laras dan mulai melu**t bibir gadis itu kembali.
Laras terbersin sekali membuat Ben sadar gadis yang tengah dicumbuinya ini sedang dalam keadaan sakit. Tawanya meledak. Dijatuhkannya dahi di pundak Laras dan membenamkan wajahnya di sana.
"I'm sorry, Laras," ucap Ben sembari membaringkan badannya di samping Laras.
Gadis itu hanya meringis. Dielusnya lengan Ben yang penuh tattoo itu lembut. Keduanya terdiam. Hanya sepasang mata mereka yang bertemu dan berbicara, mengungkapkan rasa masing-masing.
***
Catatan Penulis :
*je t'aime - l love you
Moi aussi - me too*
__ADS_1