
ALPHINE CINEMA, BROOKLYN.
Brandon mencecak rokoknya di atas beton sidewalks di depan gedung bioskop yang mulai sepi oleh pengunjung. Entah sudah berapa batang rokok yang disulutnya. Pria itu berjalan mondar mandir dengan gelisah. Diperiksanya layar ponsel. Jam menunjukkan pukul 9.30. Artinya sudah satu setengah jam dia menunggu kedatangan Mia.
Berkali - kali menelpon gadis itu namun tidak ada jawaban. Dia kesal, bercampur cemas.
Pria itu berjalan ke arah mobilnya terparkir, membuka pintu dan duduk bersandar di belakang kemudi. Ponsel di tangannya dia lempar sembarang ke kursi belakang mobil. Sejurus kemudian Brandon keluar dan kembali berjalan mondar - mandir di sidewalks. Satu batang rokok kembali disulutnya. Dipandanginya sekeliling, Mia belum juga muncul.
Setengah jam kembali berlalu. Brandon memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu, ketika tiba - tiba seseorang berlarian ke arahnya dengan wajah terlihat panik.
"I'm so sorry, Brand, oh Gosh," pekiknya dengan suara yang sarat akan perasaan bersalah.
Brandon menghela nafas dalam - dalam. "Aku menunggumu selama dua jam, Lammy. Setidaknya kau bisa mengabariku, kau bahkan tidak mengangkat telponku."
"Aku tahu. Aku sungguh minta maaf. Ben mengajakku makan malam, kami terlibat obrolan yang panjang. Aku benar - benar lupa aku punya janji denganmu. Aku menelponmu beberapa saat yang lalu tapi kau tidak mengangkatnya."
Brandon mengepalkan kedua tangannya begitu mendengar alasan Mia mengabaikan janji nonton mereka. Ingin sekali dihantamnya kaca mobilnya demi meluapkan rasa kesal di dalam dadanya.
"Sudahlah, lagi pula kita hanya akan menonton film, bukan sesuatu yang terlalu penting." Brandon menghela nafas berkali - kali, berusaha mengendalikan dirinya.
"Brand, maafkan aku." Dengan wajah memelas Mia memeluk Brandon yang terlihat muram. Pria itu tak membalas pelukannya. Perlahan dilepaskannya tangan Mia yang mengapit punggungnya.
"Aku mencemaskanmu, itu saja."
"Brand ...." Mia masih memasang wajah bersalahnya.
Brandon melipat kedua tangannya ke depan dadanya. Wajahnya dia palingkan ke arah lain. Dia benar - benar kesal saat ini.
"Jangan marah," rengek Mia. "Kita buat janji lagi untuk besok, bagaimana?"
"Aku tidak bisa." Brandon menggeleng. "Okay, Lamia, I gotta go."
"Brand, kau tidak ingin mengajakku pergi ke tempat lain, malam belum terlalu larut."
"I don't think so, Lamia, I'm tired."
Mia menunduk. "Aku tahu itu. Kau menungguku selama dua jam."
"Aku tidak masalah menunggumu berjam - jam, Lamia." Suara Brandon sedikit meninggi. "Hanya saja .. hanya saja ...." Brandon mengibaskan tangannya. "Sudahlah. "
__ADS_1
Aku benci mendengarmu bersama Ben Chevalier.
Brandon membuka pintu mobilnya dengan sedikit kasar. Kemudian masuk dan segera mengemudikannya meninggalkan Mia yang berdiri mematung memandang kepergiannya dengan perasaan yang sedikit hancur.
***
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
Mia melangkahkan kakinya dengan gontai sembari mendorong troli makanan yang akan dia antarkan ke kamar Madame Rose. Wajah gadis itu terlihat murung. Perasaan bersalahnya terhadap Brandon semalam benar - benar membuatnya tak bersemangat hari ini. Bayangan wajah muram sahabatnya itu memenuhi kepalanya.
"Thanks, Mia." Madame Rose meraih piring yang telah terisi menu makan siang dari tangan Mia.
Wanita itu memandangnya dengan heran. "Ada apa, Mia? Kau terlihat murung."
Mia yang masih saja melamun terkesiap. Buru - buru disunggingkannya senyum manisnya pada wanita itu.
"I'm okay."
"Benarkah? Ayo duduk di sini, ceritakan masalahmu."
"Rose, aku tidak apa - apa." Mia menyentuh lengan Madame Rose lembut. Kemudian berpamitan pada wanita itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
Mia berjalan gontai keluar dari kamar Madame Rose. Langkahnya pelan menelusuri koridor yang lengang. Sesampainya di ruang dapur, dihampirinya Chante yang tengah menikmati makan siangnya. Mia terduduk di hadapan wanita keturunan Afro - Amerika itu dengan lesu.
"Hei, kau tidak makan siang?" tanya Chante membuyarkan lamunannya.
"Hmm? Owh, aku belum terlalu lapar." Mia masih menopang dagu dengan telapak tangannya. Chante hanya mengedikkan bahunya.
Mia menarik nafas dalam - dalam. Sungguh tidak biasanya dia seperti ini. Merasa galau karena Brandon. Bahkan acara makan malam dan mengobrolnya dengan Ben tak lagi begitu membuatnya berbunga - bunga.
Dirabanya saku baju seragamnya dan diraihnya ponselnya. Gadis itu memandangi layar ponselnya sejenak dan mencari nomer Brandon di daftar kontaknya. Mia benar - benar ingin mendengar suara Brandon.
Namun usahanya menelpon sahabatnya itu tak membuahkan hasil. Brandon tidak mengangkat telponnya. Beberapa kali dihubungi, tak juga ada jawaban darinya.
"Kau gelisah sekali, Mia." Chante menyeletuk.
"Huh?" Mia terkesiap. Kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. "I'm alright." Mia tersenyum kecut.
"Ada masalah dengan pacarmu?" Chante menunjuk ke ponsel yang masih berada di tangan Mia.
__ADS_1
"Ouwh, bukan .. dia sahabatku, aku sedang merasa bersalah padanya. Dan dia tidak mau menjawab telponku."
Untuk apa aku mengatakannya pada Chante!
"Temui saja dia," ujar Chante.
"Hmm .. yeah, maybe."
Mia membenarkan ide Chante. Mungkin nanti sore selesai bekerja, dia akan menemui Brandon di tempat kerjanya, atau di apartemennya.
Aku berharap Sarah sedang tidak bersamanya.
***
Mia berdiri mematung di depan sebuah swalayan besar berpapan nama CTown, di mana Brandon bekerja. Jam menunjukkan pukul 21.15. Seharusnya sahabatnya itu sudah selesai bekerja.
Benar dugaannya. Brandon dengan mantel tebal dan topi rajut musim dingin di kepalanya, melangkah keluar dari pintu utama swalayan. Pria itu tertegun sejenak melihat Mia yang tengah berdiri tak jauh darinya.
"Lamia?" ujarnya seraya mendekati gadis itu. "What are you doing here?"
"Emm .. Brand, aku benar - benar ingin minta maaf padamu." Wajah Mia tertunduk.
"Hey, it's okay, aku sudah melupakannya." Brandon membelai pipi Mia lembut. Gadis itu tersenyum. Hatinya mulai menghangat.
"Kau ada acara setelah ini?" tanya Mia.
"Emm ...." Brandon menoleh ke belakangnya. Sarah tengah berjalan ke arahnya. "Aku akan menginap di tempat Sarah malam ini."
"Owh, okay."
Mia tersenyum kecut. Lalu melambai ke arah Sarah yang menyapanya dengan wajah heran.
"Hai, Lamia, sedang apa di sini?" tanyanya penuh selidik.
"Emm .. ada sedikit keperluan dengan Brandon, tapi lain kali saja."
Sarah hanya mengangguk kecil. "Let's go, Baby." Wanita itu menggandeng lengan Brandon dengan mesra. "Bye, Lamia."
"I'll call you." Brandon berbisik tanpa suara sembari jemarinya memperagakan sebuah ponsel yang ditempel ke telinganya.
__ADS_1
Kembali Mia tersenyum kecut memandang punggung keduanya yang perlahan menjauh.
***