
Laras menarik selimut tebalnya. Meringkuk di atas ranjangnya dan berusaha memejamkan matanya namun sepertinya isi kepalanya tidak mau berkompromi. Gadis itu mengacak rambutnya kasar. Mencoba menepis semua pikiran-pikiran tentang Ben yang mulai menguasainya.
Ben tidak bisa hidup dengan satu wanita, kau hanya akan menyakiti diri sendiri.
Ucapan Gregory terus saja terngiang dalam pikirannya. Menimbulkan rasa nyeri menyeruak dalam hatinya. Gadis itu kemudian bangkit dari pembaringannya dan duduk di pinggir ranjang.
"Ada apa sih denganku," gumamnya. "Sadar Laras, sadar!" serunya seraya menepuk pipinya sedikit keras.
Laras menarik nafas panjang dan berat,
ditatapnya langit-langit kamarnya. Ingatannya melayang kepada mantan kekasihnya, James.
Luka yang ditinggalkannya bahkan belum sepenuhnya sembuh. Apakah Laras nekat menambahnya dengan luka baru. Oh, tidak,
sepertinya aku tidak sanggup, batinnya.
Laras harus melupakan perasaannya terhadap Ben. Fokus kuliah dan bekerja seperti dulu bisa membantunya untuk mengalihkan perhatiannya dari casanova itu.
Lalu bagaimana jika Ben mulai mendekatinya.
Gadis itu sungguh takut tidak dapat mengendalikan diri.
Perasaannya terhadap Ben harus benar-benar dimusnahkan. Laras mengangguk mantap.
Diusapnya wajah dengan telapak tangannya beberapa kali, kemudian masuk kembali ke dalam selimutnya. Mencoba memejamkan mata dan mengosongkan pikirannya. Beberapa menit kemudian gadis itu pun terlelap.
__ADS_1
***
"I need to talk to you," ujar Greg pada Ben yang tengah berbaring di sofa dalam studio mereka di sela-sela break rehearsal The Rebellion. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Marcus dan Liam masih berada di ruang musik. Sementara Jack sang menejer belum menampakkan batang hidungnya.
Ben bangkit dari pembaringanya. Posisinya kini duduk sembari memegang botol birnya.
Melihat raut muka Greg yang serius membuatnya heran.
"Ini tentang Laras," kata Greg. Raut muka Ben seketika berubah tegang.
"Ada apa dengannya?" tanya Ben. Dadanya berdebar.
"Aku ingin kau berkata jujur padaku, apa kau menyukainya?"
Ben terkesiap. Wajah Greg begitu serius, begitu pula pembicaraan mereka. Tidak seperti biasanya.
Ben balik bertanya. "Apa kau tidak berhasil mengencaninya?"
"Aku tidak sepertimu, Ben .. aku tidak berniat mengencaninya, aku berniat menjadikannya kekasihku." Greg menarik nafas dalam-dalam.
"Lalu?"
Greg menyibakkan rambut hitam panjangnya ke belakang. Kemudian menoleh ke arah Ben.
"Apa kau buta, Ben? Laras menyukaimu!" serunya.
__ADS_1
Ben tergelak. Menganggap Greg tengah mencandainya. Meskipun dalam hatinya terasa berbunga-bunga mendengar perkataan sahabatnya itu.
"This ain't joke, Ben," ujar Greg.
Ben menghentikan gelak tawanya. Diteguknya bir untuk membasahi tenggorokannya.
"Apa dia mengatakannya padamu?" tanya Ben.
"No, I just can see it."
Ben terdiam. Apakah benar yang dikatakan Greg. Apakah dirinya dan gadis itu sebenarnya saling menyukai? Dalam hati Ben bertanya.
"So?" cecar Greg.
"I don't know .. aku suka berada di dekatnya dan berinteraksi dengannya. Tapi aku tidak tahu apa aku menyukainya atau tidak."
"Kalau kau tidak yakin, sebaiknya kau jauhi saja dia .. kalau kau berani memposisikan Laras sama dengan wanita-wanita mainanmu itu, akan kuhajar kau!" Greg memberi peringatan sembari menepuk bahu Ben sedikit keras. Kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang musik.
Ben termangu sembari memilin botol
birnya. Kemudian menenggaknya hingga kosong. Ditariknya nafas dalam-dalam. Lelaki itu tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Laras. Namun dia masih ingin bersenang-senang dengan beberapa wanita.
Laras gadis yang sangat manis, sederhana dan berbeda dengan yang lain. Ben menyukai gadis itu. Namun takut menyakiti hatinya.
Lelaki itu belum siap berkomitmen. Namun juga tidak rela melihat Laras jatuh ke pelukan laki-laki lain. Meskipun lelaki itu adalah sahabatnya sendiri.
__ADS_1
***