I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 71


__ADS_3

Laras menyandarkan punggungnya ke sofa. Ditariknya nafas dalam-dalam. Mencoba menetralisir perasaan marah yang berkecamuk dalam dadanya. Menunggu Ben keluar dari kamar mandi dan akan dia tagih penjelasannya. Semoga saja ada alasan logis dari semua ini.


Dua puluh menit kemudian Ben keluar dari kamar Laras dengan rambut basah dan sepertinya telah mengganti bajunya. Kini dia memakai kaos warna hitam tanpa lengan dan celana pendek longgar. Tersenyum ke arah Laras dengan manisnya dan hampir saja menghipnotis gadis itu dengan keseksiannya.


Fokus, Laras. Laras memasang tampang gaharnya kembali. Tatapan mata tajamnya mengikuti pergerakan tubuh Ben yang kini telah duduk di sampingnya. Memandang Laras dengan alisnya yang naik salah satunya.


"You look so .. serious?" tanya Ben.


"Ponselmu tidak berhenti berdering dari tadi," jawab Laras. Sabar, Laras. Laras menarik nafas dalam-dalam.


"Oww ...." Ben melirik ponselnya, benda persegi panjang itu bergetar lagi. Nama Anita tertera di layar. Ben mengacuhkannya.


"Why didn't you pick up her call?" tanya Laras, masih dengan suara yang dibuat setenang mungkin.


"Here I'll tell you something, Laras .. but promise me, don't get mad, okay?" Ben memenggenggam tangan Laras dengan erat.


"I'm listening ...." ucap Laras dengan senyum kecutnya.


"Tadi siang Anita datang ke studio dalam keadaan kacau." Ben menceritakan semua yang terjadi di studio siang tadi dengan Anita.


Laras mendengarkan dengan seksama. "Aku hanya membantunya, Laras."


"I understand," ucap Laras. "Apa karena itu kau memutuskan untuk menginap di sini?"


Ben menyunggingkan senyum absurdnya. "Salah satunya." ujarnya.


"Apa ada tujuan yang lain selain untuk menghindari mantan pacarmu itu?" Dada Laras berdegup kencang.


"Hmmm .. menghabiskan malam denganmu."

__ADS_1


Laras beranjak dari duduknya. "Good night, Ben," ucap Laras sembari memiringkan wajahnya dan menyunggingkan senyum yang dia buat-buat.


"Laras, wait!" seru Ben sembari memandang kepergian Laras. Gadis itu tak mempedulikan panggilannya dan menghilang di balik pintu kamarnya yang ditutupnya rapat-rapat. "Damn it!" maki Ben.


"Laras, hey .. baby, I need a blanket, and a pillow too. At least you can give me those stuffs!"


Lima menit kemudian Laras keluar dengan membawa satu buah selimut dan bantal. Lalu memberikannya pada Ben.


"Kau mau aku mematikan lampu ruangan ini?" tawar Laras. Ben hanya memasang senyuman mautnya tanpa menjawab Laras.


"Give me your hand!" perintah Ben seraya mengulurkan tangannya. Laras menaikkan alisnya heran.


Ben mendecak. "Just give me your hand, Laras."


Laras menyambut uluran tangan Ben dan dalam sekejap lelaki itu menariknya ke dalam pelukannya. Laras yang tidak punya persiapan apa-apa memekik kaget. Namun pasrah ketika bibir Ben mulai memagut bibirnya dengan lembut.


"I can't hold it any longer," bisik Ben sembari terus mencumbui Laras dengan hati-hati. Lelaki ini sungguh seorang gentleman.


Oh, Manhattan .. indah sekali kau malam ini.


***


Aroma harum masakan dari dapur tercium oleh hidung mungil Laras hingga memaksa gadis itu membuka matanya. Laras mengucek matanya beberapa kali. Dia tertidur di sofa, bersama Ben tentunya semalam. Pipi Laras bersemu merah mengingat peristiwa indah yang terjadi tadi malam.


Laras mengintip dari balik sofa dan mendapati Ben tengah sibuk membuat sarapan di dapur.


"Good morning, sunshine!" seru Ben ketika tanpa sengaja melihat kepala Laras menyembul dari balik sofa. Gadis itu buru-buru membaringkan badanya kembali.


"Morning," jawab Laras lirih.

__ADS_1


"I've just finished cooking breakfast, come here, baby!" seru Ben kembali.


Laras membenahi baju tidurnya yang berantakan lalu melangkah menuju meja makan. Ben menghidangkan dua piring berisi telur mata sapi, beberapa sosis dan dua potong besar beef patties, dan dua gelas orange juice.


"Wow .. aku tidak ingat aku punya semua bahan-bahan ini di lemari pendingin," gumam Laras.


"Aku membelinya di supermarket."


Laras membulatkan matanya. "Aku tidak tahu kau pergi ke supermarket." Gadis itu melirik jam dinding. Sudah siang rupanya. Lalu memandang Ben yang telah rapi dengan celana jeans biru gelap dan kemeja kotak-kotak berwarna merah. Rambut panjangnya diikat ke belakang.


"Tidurmu lebih buruk dari Sleeping Beauty. Bahkan sebuah ciuman mesra dari pangeran tampan sepertiku saja tidak bisa membangunkanmu."


Laras tergelak mendengar gurauan Ben. Kemudian menarik kursinya dan meletakkan pantatnya di sana.


"Ben ...." panggil Laras.


"Ya?"


"Bagaimana dengan Anita?" tanya Laras hati-hati. Rasanya masalah mantan pacar Ben itu begitu mengganjal di hatinya.


"Aku akan membiarkan dia tinggal beberapa hari di apartemenku, dan selama itu aku akan menginap di sini, kalau kau tidak keberatan."


"Tentu saja aku tidak keberatan, hanya saja, dia masih sangat mengaharapkanmu, dan itu sedikit membuatku takut, Ben .. emm ...."


"Laras, I have chosen you, I don't desire anybody else, do you trust me on this?"


Laras mengangguk. Senyumnya terbit. Dipandanginya lelaki yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu dengan mata berbinar.


"I love you ...." Gerakan bibir Ben yang tanpa suara itu membuat pipi Laras semakin memerah. Rasanya makanan yang sedang dikunyahnya itu begitu sulit untuk ditelan.

__ADS_1


"So do I," bisik Laras.


***


__ADS_2