I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 114


__ADS_3

Ashley yang baru saja pulang dari kencannya bersama Will, perlahan membuka pintu kamar Mia yang tidak terkunci. Dilihatnya Mia tengah duduk di sisi bawah ranjang seraya memilin gelas berisi cairan bening berwarna putih. Pandangannya kosong ke arah jendela.


"Hei, mau kutemani?" tawar Ashley yang masih berdiri sembari memegang handle pintu.


"Ouwh, I'm okay."


"Are you sure?"


"Yeah."


"Alright, then. I'll be in my room if you need me."


"Thanks, Ash."


Ashley menutup pintu kamar Mia dan berjalan menuju kamarnya. Namun suara bel pintu membuatnya mengalihkan langkahnya ke arah pintu. Kemudian membukanya.


"Ash, where's Lammy?"


Brandon yang muncul dari balik pintu tak berniat menunggu jawaban Ashley dan segera masuk tanpa memperdulikan gadis itu mengijinkan atau tidak.


Pria itu segera menuju ke kamar Mia dan mendapati gadis yang begitu dicintainya itu tengah menelungkupkan wajahnya di atas kasur.


"Lamia," panggilnya seraya mendekati Mia dan menyentuh pundaknya lembut.


Mia mengangkat wajahnya dan tersenyum begitu melihat Brandon. "Hei, Brand." Mia mengangkat gelasnya dengan lemah.


Brandon melepas jaketnya dan melemparnya sembarang ke atas kasur. Tubuhnya dibalut kaos putih lengan pendek dan celana jeans biru longgar. Pria itu duduk di samping Mia seraya memeriksa botol minuman yang terletak tak jauh darinya. Minuman jenis rhum bermerk Bacardi itu telah habis setengah.


Dia menghela nafas dalam - dalam.


"Mau kutemani minum?" tanyanya.


Mia mengangguk. Matanya terlihat sembab. Gadis itu menyodorkan gelas yang dipegangnya pada Brandon. Memberi tanda padanya agar segera diisi kembali.


"Hari yang buruk, huh?" tanya Brandon seraya meneguk isi gelasnya. "Uhh, ini keras sekali," gumamnya mengomentari rasa minuman yang membakar tenggorokannya sembari membuat ekspresi tak enak di wajahnya.


"Kenapa kau kemari, Brand? Bukankah kau sedang bersama pacarmu?" tanya Mia.


"Aku sudah mengantarnya pulang," jawabnya. "Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanyanya.


"Pacarmu memberitahumu kalau aku datang?"


"Yeah. Tidak biasanya kau datang ke apartemenku. Aku berpikir kau sedang dalam masalah. That's why I'm here."


Mia menoleh ke arah Brandon yang terlihat tampan malam ini di bawah cahaya lampu kamarnya yang remang. Air mata Mia tumpah seketika. Tubuh gadis itu terguncang menahan tangis.


"Hey, hey, why are you crying?" ujar Brandon kebingungan. "Come here." Diraihnya tubuh mungil Mia dan didekapnya dengan erat. Wajah Mia menempel di dadanya hingga kaos putihnya pun basah oleh air mata gadis itu.


"Lamia, katakan padaku, ada apa?" tanyanya sembari menciumi puncak kepala Mia. Tangan gadis itu memeluk punggung kokohnya dengan erat.


"He doesn't have feeling for me," ucapnya di sela - sela isak tangisnya.


"Why do you say that?"


"He said sorry, for the kiss, he said .. he did not know what he was doing." Mia menyambar tisyu di sampingnya lalu mengeluarkan ingus dari hidungnya. Kemudian kembali mendusal ke dada Brandon. "Aku tahu, reaksiku berlebihan. Seharusnya dari awal aku tidak perlu berharap banyak. Aku bodoh."


Brandon mengelus punggung Mia pelan. Membiarkan gadis itu menumpahkan kegalauannya.


"Brand, ini pertama kalinya aku menyukai seorang pria. Tapi kenapa pria itu harus Ben Chevalier. Yang tidak mungkin aku jangkau?" Mia menarik tubuhnya dari pelukan Brandon. "Kenapa bukan kau saja yang kusukai?"


Dada Brandon berdegup kencang. Lidahnya terasa kelu, hingga tak mampu menjawab pertanyaan Mia. Kalau memang itu adalah sebuah pertanyaan.

__ADS_1


Ya, kenapa bukan aku saja yang kau sukai, Lamia?Akan kuberikan seluruh cintaku padamu. Tak akan pernah kubuat kau menangis seperti ini.


"Anyway, it's okay, I'm gonna be okay." Mia menghapus air matanya dan menyunggingkan senyumnya sejurus kemudian.


Brandon menyibakkan rambut panjang Mia yang terlihat berantakan dan menutupi sebagian wajahnya.


"Lihat, kau jelek sekali kalau sedang menangis," ujarnya. Dan sebagai balasannya, satu pukulan Mia mendarat di dadanya. "Auuch!" pekiknya.


"Rasakan itu!" gerutu Mia.


Brandon terkekeh. Hatinya terasa hangat melihat senyum Mia kembali terbit. "Okay, I'll sing a song for you. To make you feel better," ujarnya seraya beringsut mengambil gitar yang berada tak jauh darinya. Kemudian memainkannya dengan sangat rapi.


Sometimes


I feel the fear of


Uncertainty stinging clear


And I, can't help but ask myself how much I'll let the fear


Take the wheel and steer


It's driven me before and seems to have a vague


Haunting mass appeal


But lately I'm beginning to find that I


Should be the one behind the wheel


Whatever tomorrow brings I'll be there


With open arms and open eyes yeah


Whatever tomorrow brings


So, if I


Decide to waiver my


Chance to be one of


The hive


Will I choose water over wine


And hold my own and drive?


Aah ah ooo


It's driven me before and it seems to be the way


That everyone else gets around


But lately I'm beginning to find that when


I drive myself my light is found


Whatever tomorrow brings I'll be there


With open arms and open eyes yeah

__ADS_1


Whatever tomorrow brings


I'll be there I'll be there


Would you choose water over wine?


Hold the wheel and drive


Whatever tomorrow brings I'll be there


With open arms and open eyes yeah


Whatever tomorrow brings


I'll be there I'll be there


"Do you know the song?" tanya Brandon ketika menyelesaikan nyanyian dan permainan gitarnya.


Mia mendecak. "It's Incubus, Drive!"


"Correct." Brandon terkekeh. "So, do you feel better now?"


"Hmmmm .. yeah," sahut Mia seraya meneguk gelasnya.


"Nice."


"Sebenarnya aku hanya butuh teman bicara saja. Tapi, sepertinya semua orang sedang sibuk dengan pacarnya. Kau, Ashley." Mia menghela nafas pelan. "Ternyata, pilihanku untuk berbicara dengan alkohol membuat perasaanku tambah kacau. Aku menangis gara - gara dia," gelaknya sembari menunjuk ke arah botol bening di depannya.


"Kalau aku tahu kau datang, akan kutinggalkan Sarah dan memilih untuk menemanimu."


Mia terbahak. "Benarkah?"


"Absolutely," sahut Brandon mantap.


"Awwh, kau idaman sekali." Mia menjewer pipi Brandon gemas. Lalu menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. "Brand ...," panggilnya.


"Hmmmm?"


"Entah kenapa aku merasa kesepian ketika tahu kau punya pacar." Mia terkekeh. "Aku kekanak - kanakan sekali ya."


"And?"


"Aku takut kehilangan moment seperti ini." Mia mengangkat kepalanya dari pundak Brandon dan mengganti posisinya dengan menyandarkannya ke tepian ranjang. Matanya terpejam.


"Hei, kau mabuk?" Brandon mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mia untuk memeriksa keadaan gadis itu.


"Maybe," lenguhnya.


"Sebaiknya kau tidur." Brandon hendak beranjak dari duduknya untuk merapikan tempat tidur Mia, namun gadis itu menarik ujung kaosnya hingga pria itu kembali terduduk.


"Jangan pergi, Brand," ujarnya masih dengan mata terpejam.


"Aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin merapikan tempat tidurmu. Biar kau bisa tidur dengan nyaman."


Sudut bibir Mia terangkat mendengar perkataan Brandon. Lalu membiarkan sahabatnya itu merapikan tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian Brandon membimbingnya naik ke ranjang dan menyelimutinya dengan selimut tebal.


"Kau tidur di sini saja," lenguhnya.


"Okay, anything for you, My love," ucapnya seraya mengecup kening Mia dan mengelus pipinya lembut. Setelah itu dirapikannya gelas dan botol yang ada di lantai dan ditaruhnya di atas nakas.


Brandon mengambil selimut baru dari atas lemari pakaian Mia lalu membawanya ke sofa dan berbaring di sana. Matanya tak berhenti memandangi Mia yang telah tertidur pulas. Senyumnya mengembang, melihat wajah manis yang penuh dengan kedamaian itu.

__ADS_1


Sweet dream, Love.


__ADS_2