
KINGS THEATRE, BROOKLYN.
Sambil bergurau dan sesekali meledakkan tawanya, Mia menggandeng tangan Brandon keluar dari ruang studio di mana mereka baru saja selesai menonton sebuah film bergenre komedi.
"Uuffh .. dingin sekali," gumam Mia ketika mereka telah berada di luar gedung bioskop bergaya kuno itu. Gadis itu menggosok - gosokkan kedua telapak tangannya seraya menggigil kedinginan. Sarung tangan sepertinya tak mampu menghalau hawa dingin yang menusuk. Salju mulai turun dan menutupi cabang - cabang pohon tak berdaun di sekitar mereka. Jalanan pun tampak memutih.
Brandon melepas syal tebalnya dan mengalungkannnya sedemikian rupa di leher Mia hingga gadis itu merasa hangat. Topi rajut musim dinginnya pun dipasangkan ke kepala Mia lalu mengelusnya dengan lembut.
"Better?" tanya Brandon.
"Uh - huh," sahut Mia seraya tersenyum.
"Sudah lapar?"
"Yep!"
"Mac And Cheese, maybe?" Brandon menawarkan sebuah menu makan malam.
"Hmm .. good idea," ujar Mia senang.
Keduanya berjalan ke arah mobil ford tua yang terparkir tak jauh dari mereka. Sejurus kemudian, Brandon mengemudikan mobilnya pelan keluar dari Flath Bush Ave, di mana Kings Theatre berada, menuju jalan utama Brooklyn.
.
.
Mia memandangi sepiring Macaroni And Cheese yang baru saja dihidangkan oleh pelayan restauran Mexico di mana dia dan Brandon berada saat ini.
Matanya fokus pada piringnya namun pikirannya kembali tertambat pada wanita yang bersama Ben sore tadi. Dadanya kembali bergemuruh. Bahkan sekarang terasa sedikit nyeri.
"Hey, what's wrong?" tanya Brandon ketika melihat mulut manyun Mia dan wajah muramnya.
"Huh?" Mia terkesiap. "Tidak apa - apa, hanya teringat sesuatu yang menyebalkan."
Mia mengambil potongan Mac And Cheesenya lalu mulai menyuapi dirinya sendiri. "Hmm .. delicious," gumamnya.
"Ada sisa keju di bibirmu," ujar Brandon seraya menyentuh sudut bibir Mia dan menyapunya dengan jarinya.
Mia meringis. Lalu melanjutkan melahap makanannya dengan antusias.
"Sepertinya aku mulai mengerti apa yang kau rasakan, Brand," ucap Mia setelah menyelesaikan makannya.
"Yang kurasakan?"
"Yeah."
"What do you mean?"
"Menyukai seseorang dalam diam."
Brandon menyipitkan mata hazelnya dan menatap Mia heran. "Why did you say that?"
"Kisah cintamu itu menulariku." Mia terkekeh.
"Apa kau bernasib sama denganku?" goda Brandon.
Mia menopang dagunya dengan kedua punggung tangannya. "Sepertinya."
"Karma memang benar - benar ada," gumam Brandon lirih.
"Kau bilang apa?" tanya Mia yang tak begitu memperhatikan perkataan Brandon barusan.
"Owh, no, no, nothing. Forget it."
__ADS_1
Mia menghela nafas dalam - dalam. Lalu melayangkan pandangannya ke luar jendela restauran. Perasaannya kembali tak menentu.
Sedang apa kau dengan wanita itu, Mr. Chevalier?
.
.
"Kau punya rokok?"
Mia menyandarkan punggungnya di mobil ford tua Brandon, di sisi pria bergaya rambut semi panjang itu.
"Sejak kapan kau merokok?" tanya Brandon seraya merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok dan memberikannya pada gadis itu.
"Sejak sekarang." Mia menarik satu batang rokok dari bungkusnya dan mengulurkan tangannya pada Brandon untuk meminta korek api. Brandon tak menyambut uluran tangan Mia, melainkan berinisiatif untuk menyalakan rokok yang ada di sela - sela jemari gadis itu.
"Thanks."
Mia menghisap rokoknya dalam - dalam, namun sejurus kemudian gadis itu terbatuk akibat asap rokok yang terasa nyeri menghujam paru - parunya.
"Hey, easy, girl." Brandon menepuk - nepuk punggung Mia pelan. Gadis itu masih terbatuk - batuk.
"Tidak ada rokok seenak rokok Indonesia dengan rasa cengkeh," gerutunya. Kemudian terkekeh dan melanjutkan hisapan rokoknya.
"Kau sedang tidak baik - baik saja?" Brandon menebak.
Mia mengangkat tangannya. Mengisyaratkan kalau dia sedang baik - baik saja.
"Temani aku minum."
Brandon membulatkan matanya mendengar perkataan gadis manis di sampingnya itu.
"What?"
"Cokelat panas?"
Mia mendecak. Lalu memutar kedua bola matanya. "Minum. Sesuatu yang mengandung alkohol."
"Huh? Seriously?"
"Deadly serious."
"Sejak kapan kau ...."
"Sejak sekarang. Ayo!"
Mia mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu membuka pintu mobil dan duduk dengan manisnya di samping kemudi.
Brandon mengangkat bahunya tak mengerti. Namun segera saja menyusul masuk ke dalam mobil.
"Bar Belly?"
Mia mengangguk.
.
.
BAR BELLY, BROOKLYN.
"Nigel, beri kami dua gelas Black Russian."
Brandon berbicara pada bartender bernama Nigel yang sudah dikenalnya. Pria berjambang tipis itu tersenyum. Lalu memandang ke arah Mia dengan menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Lamia, kau minum?" tanyanya heran. Karena selama Funeralopolis mengisi acara reguler di Bar Belly, tidak pernah sekalipun dilihatnya gadis itu ikut minum - minum dengan rekan - rekan satu bandnya. Yang ditanya hanya meringis saja.
"Well, ini dia dua gelas Black Russian pesanan Mr. Boyd," ujarnya ketika dia telah selesai meracik minuman berbahan vodka dan kopi itu.
"Thanks, Nigel," ucap Brandon seraya menyodorkan satu gelas cairan berwarna cokelat lengkap dengan es baloknya pada Mia.
"Pelan - pelan saja," ujarnya memperingatkan sahabat yang begitu dikasihinya itu.
Mia menyeruput sedikit minumannya. Rasa hangat langsung menjalar melewati tenggorokannya. Tak ada halangan berarti dalam meminum racikan vodka dan kopi itu karena rasanya cukup lembut.
"Mau cerita sesuatu?" tanya Brandon. Membuat Mia menghentikan aktifitas minumnya dan menoleh ke arahnya.
"Ha - ha, bukankah aku sudah bilang kalau ceritaku sama denganmu."
"Well, mungkin kau mau memberitahuku siapa dia? Orang yang kau sukai itu," pancing Brandon. Mungkin dia sudah bisa mengira - ngira siapa pria yang disukai Mia itu.
"Hmmm." Mia meneguk kembali minumannya. Lalu membalikkan badannya dan menopangnya dengan kedua sikunya di atas meja bar. Disapunya pandangannya berkeliling ruangan yang tampak ramai.
Mia terkesiap ketika melihat ke lantai atas, tampak sesosok pria berambut pirang panjang yang diikatnya sembarang, tengah duduk menikmati minumannya, berhadapan dengan seorang wanita yang membuat pikirannya kacau dan dipenuhi prasangka buruk.
"Oh, Gosh," lenguhnya pelan. Kemudian berbalik kembali ke meja bar. Meneguk minumannya, lagi dan lagi.
"Are you okay?" tanya Brandon yang melihat Mia menelungkupkan kepalanya ke meja.
"Brand, antar aku pulang."
"Okay." Brandon menghabiskan sisa minumnya lalu mengurus pembayaran dengan Nigel dan memberi bartender itu tip.
Digandengnya tangan Mia dan menuntun gadis itu keluar dari Bar Belly.
.
.
"Bukankah itu Mia," ujar Marcus sembari melongok ke lantai bawah bar yang ramai.
Ben menoleh ke arah Marcus, lalu ikut melongok ke bawah. Dia melihat seorang gadis berambut hitam panjang sedang digandeng oleh seorang pria. Keduanya tengah melangkah keluar bar.
"Siapa Mia?" tanya Hailey.
"Guru biola Daren, dia gadis yang sangat manis," kekeh Marcus. "Tapi sepertinya dia sudah punya pacar," rajuknya sembari melayangkan pandang ke arah Mia dan pria di sampingnya yang baru saja menghilang di balik pintu bar.
"Ah, gadis Asia yang kulihat di rumah Ben tadi sore," gumam Hailey.
Ben menyambar gelasnya dan menghabiskan isinya. Sepertinya dia tidak berminat untuk menanggapi kata - kata Marcus.
"Kau benar, Marc, dia memang manis. Benar kan Ben?" pancing Hailey. Entah kenapa firasatnya mengatakan Ben punya potensi untuk menyukai gadis itu.
Ben mengedikkan bahunya. "Aku tidak pernah memperhatikan."
Hailey tersenyum. Ada rasa lega dalam dadanya mendengar perkataan pria bermata biru yang sampai detik ini masih membuatnya tergila - gila. Walaupun kini dia berusaha untuk menjaga sikapnya, tidak seagresif dulu.
"Aku sudah selesai." Ben beranjak dari duduknya. Mengambil dompet dari celananya dan mengeluarkan beberapa lembaran dollar dan meletakkannya di atas meja.
"Apa? Kita bahkan belum menghabiskan satu botol whiskey," protesnya.
"Kalau kau masih mau di sini silahkan saja, Hailey bisa menemanimu minum." Ben melangkah meninggalkan Marcus dan Hailey yang terheran - heran.
"Mau menemaniku minum?" tanya Marcus pada Hailey sepeninggal Ben.
Hailey menggeleng. "Ayo pergi saja!"
Marcus mendesis. "Aneh," gumamnya seraya mengikuti langkah Hailey turun ke lantai bawah dan menyusul Ben yang sudah terlebih dahulu ada di sana.
__ADS_1
***