I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 55


__ADS_3

"Kau yakin tidak salah lihat?"


Ben berseru, pada seseorang yang berbicara di seberang telepon.


"Tidak Mr Chevalier .. hari ini aku mengawasi Nona Soetodjo seperti yang kau suruh."


Ben menarik nafas dalam-dalam. Dadanya bergemuruh. Memegang ponselnya dengan seseorang yang memanggil-manggil namanya dari seberang sana.


Ben mendekatkan kembali ponsel ke telinganya.


"Pablo, apa lelaki itu berambut hitam sedikit ikal?" tanya Ben kemudian.


"Benar, Mr Chevalier." Pablo, orang kepercayaan Ben, menjawab.


"Damn!" maki Ben. "Kau tahu apa yang dilakukan lelaki itu di dalam apartemen Laras?"


"Maaf Mr Chevalier, aku tidak bisa begitu saja mendobrak pintu seseorang. Mereka cukup lama di dalam, kemudian lelaki itu pergi mengantar Nona Soetodjo ke McFadden."


"Okay, terima kasih, Pablo."


Ben menutup teleponnya. Menghempaskan tubuhnya di sofa. Pandangannya nanar keluar jendela bus. Dari jauh, kota Houston mulai terlihat.


"Marry!!" panggilnya setengah berseru.


Seorang wanita bertubuh sedikit tambun tergopoh-gopoh menghampiri Ben. Namanya Marry, asisten yang mengurus segala keperluan logistik The Rebellion selama tour.


"Yes, Ben .. what do you need?" tanya Marry.


"I need some whiskey, please!" jawab Ben tanpa melihat ke arahnya. Pandangannya masih tertuju ke luar jendela.


"Okay."


Ben memejamkan matanya. Menunggu Marry membawakannya sebotol whiskey yang dimintanya. Isi kepalanya penuh dengan tanya, apa yang Laras dan mantan pacarnya lakukan, apakah mereka?


"Hahh!!" Ben mengacak rambutnya kasar. Laras benar-benar mengacaukan perasaannya.

__ADS_1


"Ben, ini whiskeymu .. jangan terlalu mabuk, sebentar lagi kita sampai di Houston,"


ujar Marry seraya meletakkan sebotol whiskey dan satu gelas sloki di atas meja.


Ben mendecak. "Okay, okay ..," jawab Ben dengan nada malas.


Marry tersenyum simpul. Kemudian berlalu dari hadapan Ben.


Ben memandangi botol bertuliskan Johnnie Walker di depannya itu. Beberapa menit dia terdiam. Kemudian membuka tutup botolnya dan menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam gelas slokinya. Kemudian menenggaknya. Rasa manis bercampur pahit bergumul di dalam mulutnya. Membasahi tenggorokannya dan meninggalkan efek hangat dalam tubuhnya.


Pandangannya beralih ke arah ponselnya.


Sepertinya Ben sudah cukup punya nyali untuk menanyakan langsung kepada Laras perihal mantan pacarnya itu.


Ditekannya tombol telepon ketika nomer Laras telah tertera di layar. Dengan sedikit berdebar Ben menunggu suara gadis itu terdengar dari seberang.


"Hello?" Suara lembut gadis itu terdengar. Sehangat whiskey yang baru saja diteguknya.


Ben berdehem sekali untuk mengontrol emosinya.


"Look, Ben .. if you call me just to ask me this, I gotta hung up, I'm working right now."


"Laras, jawab!!" bentak Ben. Diisinya kembali gelas slokinya kemudian ditenggaknya.


"What's wrong with you?"


"Apa yang dilakukan mantan pacarmu di apartemenmu tadi siang?"


"Nothing, he brought me lunch that's all," jawab Laras. "Woo .. woo .. wait a minute, how did you know that? Did you ask somebody to stalk (menguntit) me?"


Sial, maki Ben dalam hati. Laras pasti akan murka.


"Ben!!!"


Tepat, Laras murka sekali di seberang sana.

__ADS_1


"How could you do that, Ben!"


"I .. I .. eh .. I just wanna make sure that you're okay," jawab Ben terbata.


"You're a psycopathetic freak!" maki Laras kesal. Kemudian menutup telponnya.


Sial, sial, sial! Ben mengacak rambutnya sekali lagi dengan kasar. Ah, membingungkan sekali gadis ini, kenapa dia yang marah-marah, batinnya frustasi. Bukankah seharusnya Ben yang marah?


Ben mengisi slokinya lagi, meneguknya tanpa mempedulikan rasa pahit di lidahnya.


"Wah, ada yang sedang mabuk-mabukkan rupanya? Kenapa tidak mengabariku?"


Marcus menghempaskan tubuhnya di hadapan Ben, merebut gelas sloki yang hendak di minum Ben.


"Geez .. you look pathetic!" ujar Marcus, mengulang makian Laras.


"Shut up, assh**e!" maki Ben kesal.


Marcus tertawa terbahak-bahak mendengar makian Ben.


"Serius Ben, kau terlihat .. berbeda akhir-akhir ini," ujar Marcus, mendekatkan wajahnya ke arah Ben, memperhatikan Ben dari dekat.


"Apa maksudmu?" tanya Ben risih.


"Kau terlihat .... kacau." Gelak tawa Marcus meledak. "Kau terlihat menyedihkan, seperti seseorang yang ditolak cintanya," goda Marcus masih dengan tawanya.


"Brengsek!" maki Ben seraya merebut gelas sloki dari tangan Marcus.


Marcus masih tertawa sembari meninggalkan Ben dengan muka merah padamnya.


"Yeah sure, I'm pathetic," gumam Ben sembari mengangkat slokinya.


***


Catatan Penulis:

__ADS_1


Psychopathetic Freak - Orang aneh yang gila dan menyedihkan.


__ADS_2