
HOUSTON,TEXAS
The Rebellion menyewa sebuah apartemen bersama dengan tim mereka yang berjumlah 10 orang. Tidak terlalu mewah, namun luas dengan beberapa kamar tidur besar.
"Marry, where's my beer!" teriak Marcus
sembari jumpalitan di kasur kamarnya yang empuk. Layaknya seorang anak kecil yang hiperaktif.
"A minute!" seru Marry dari arah dapur.
Marcus mengintip dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka, dilihatnya Jack dan beberapa orang kru tengah mengobrol di ruang tamu.
Sesosok berambut hitam panjang dengan sentuhan warna biru dan berkaos hitam tengah berbicara dengan Jack. Sepertinya bukan termasuk dari tim Rebellion. Terlihat dari cara Jack berbicara yang ramah. Marcus mencondongkan badannya untuk melihat lebih jelas sesosok itu.
"Hey, it's your beer, Marc." Wajah Marry menyembul dari balik pintu. Menyodorkan sebotol bir kepada Marcus.
"Marry, Marry .. who is that?" tanya Marcus sembari menunjuk ke luar kamar.
"Hailey .. dia mencari Ben," bisik Marry.
Mata Marcus membulat. Hailey? di Houston?Pekiknya dalam hati. Marcus segera menyambar botol bir di tangan Marry dan melesat keluar kamar.
"Kau harus menunggu sampai Ben bangun, Hailey .. dia tidak mungkin bisa diganggu kalau sedang tidur." Jack menerangkan. Disusul dengan kekehannya.
"Hailey, you are .. in Houston, wow!" seru Marcus membuat Hailey membalikkan badannya.
__ADS_1
"Hey Marc .. ya I want to watch your show here," jawab Hailey.
Marcus menaikkan alisnya. Melirik ke kamar Ben, dari pintu yang tidak terlalu tertutup, terlihat Ben tengah tertidur pulas.
"Atau kau hanya ingin menemui si brengsek itu ya?" tanya Marcus sembari mengerlingkan matanya ke arah kamar Ben.
Hailey meringis. Lalu duduk di sebelah Jack.
"I knew it!" ujar Marcus sembari mengacak rambutnya frustasi. Beberapa orang yang ada di ruangan itu tersenyum-senyum geli. Bagi para kru, personel Rebellion saling berebut wanita adalah hal yang biasa bagi mereka.
Ben yang terbagun mendengar suara berisik di ruang tamu, dengan terseok membuka pintu dan membenarkan letak rambutnya yang berantakan. Matanya menyipit ketika melihat Hailey tengah duduk di samping Jack.
"Apa yang dilakukan gadis cerewet ini di sini?"
tanya Ben heran. Mata Hailey berbinar melihat Ben yang baru bangun dan hanya memakai celana jeans birunya dan bertelanjang dada.
"Hey, sleepy head," sapa Hailey sembari menggoyang-goyangkan telapak tangannya.
Ben mendesis. Diacuhkannya Hailey kemudian berjalan menuju lemari pendingin yang ada di area dapur dan menyambar segelas air mineral. Wajah Hailey cemberut.
"Mood Ben sedang tidak bagus," celetuk salah seorang kru berbisik.
"Ada apa dengannya?" tanya Hailey penasaran.
"Masalah wanita," sahut Marcus. Gregory
yang sejak tadi duduk tak bergeming di pojok sofa terkekeh. Wajah Hailey bertambah cemberut. Marcus kemudian mendekati gadis itu dan duduk disampingnya.
"See, mungkin saja Ben sudah punya kekasih,
sedangkan aku masih sendiri," rayu Marcus seraya meletakan tangannya di belakang punggung Hailey. Satu ruangan kembali tersenyum geli.
__ADS_1
Terdengar suara dentuman drum elektrik milik Liam dari ruangan di sebelah kamar yang dipakai Ben untuk tidur. Liam berada di sana, begitu pun Ben yang telah berada di sana, menggapit gitarnya dan berkutat dengan sound efeknya.
"Lihat, dia mengacuhkanmu," kata Marcus setengah berbisik. Dilihatnya semua orang di ruangan itu telah kembali saling berbincang.
"Marc, apa Ben sedang berpacaran dengan Anita Wallis?" tanya Hailey. Mengorek keterangan dari Marcus.
Marcus berpikir sejenak sembari memanyunkan bibirnya. "Sepertinya tidak," jawab Marcus. "Tapi dia sedang dekat dengan seseorang di Manhattan."
Wajah lega Hailey seketika berubah kecut.
Dilihatnya dari pintu ruangan yang sedikit terbuka, Ben masih sibuk dengan gitarnya.
Hailey hanya melihat punggung Ben yang bergambar salib terlilit ular itu. Dada gadis itu berdesir.
"Tidak ada yang bisa menolak pesona si brengsek itu ya," celetuk Marcus. Hailey tersipu mendengarnya. Kemudian Marcus berucap kembali. "Aku memang sial, harus bersaing dengan si brengsek itu." Marcus terbahak. Kemudian menyulut rokoknya. Melirik Hailey yang hanya tersenyum kecut.
***
Laras menarik selimut tebalnya untuk mengurangi hawa dingin yang menembus tulangnya. Penghangat di kamarnya tiba-tiba eror. Sungguh sial. Moodnya benar-benar jelek hari ini. Laras masih menyimpan kekesalannya pada Ben. Bagaimana bisa dia menyuruh orang untuk mengawasinya. Apa maksudnya.
Sebenarnya Laras sedikit merasa bersalah telah memakinya dengan sebutan psychopathetic freak, mungkin dia terlalu berlebihan. Tapi tetap saja Laras merasa sebal karena dikuntit orang. Entah kenapa rasanya geram saja diperlakukan seperti itu. Seperti kebebasannya dalam berkehidupan direnggut. Mungkin maksud Ben baik tapi Laras tidak suka dengan caranya. Ben juga mencurigainya telah berbuat sesuatu dengan mantan pacarnya. What the hell.
Laras menarik nafas dalam-dalam. Sungguh aneh, akhir-akhir ini moodnya naik turun tidak jelas. Kota New York terasa sepi sekali.
Ataukah hati Laras yang sepi. Entahlah.
Jauh di lubuk hati Laras yang paling dalam, gadis itu merindukan sosok Ben, yang menyebalkan, yang tiba-tiba datang entah dari mana menghampirinya dengan cengiran menggemaskannya, yang dengan santai mengajaknya makan junk food di pinggir taman, yang mengaduk-aduk perasaannya dengan gaya casanovanya yang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik.
Laras benar-benar rindu. Tetapi setiap kali lelaki itu menelpon, selalu saja ada tingkahnya yang membuatnya kesal. Laras jadi gemas sendiri rasanya. Atau apakah ini efek rindu yang tidak bisa Laras ungkapkan.
Laras mencoba memejamkan matanya. Suara sirine mobil patroli polisi atau mungkin saja ambulance terdengar memecah keheningan Tudor City. Menjadi nyanyian sebelum tidur Laras setiap malamnya.
__ADS_1
***