I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 45


__ADS_3

Gelisah. Anita mengganti-ganti posisi antara tiduran di sofa, duduk termangu dan berjalan mondar-mandir di ruang kamarnya yang luas.


Sesekali memeriksa ponsel di tangannya. Tak kunjung ada jawaban pesan dari orang yang diharapkan, bahkan sudah ratusan pesan yang dikirimnya selama beberapa hari ini tak kunjung mendapat jawaban. Ponselnya pun tidak aktif. Wanita itu menghela nafas dalam-dalam.


"Kau di mana, Ben?" Mata Anita menerawang.


Badannya menyandar ke sofa. Sosok lelaki selenge'an itu begitu amat sangat dirindukannya.


Jarinya bergerak mengutak-atik ponselnya.


Mencari-cari nomer telepon yang mungkin bisa memberinya informasi. Jack, menejer The Rebellion yang pada malam konser di New York, Anita mintai kontaknya sebagai kontak darurat jika Ben tidak bisa dihubungi. Ternyata menyimpan nomer telepon si menejer itu adalah keputusan yang benar.


"Hallo?" Sapa seorang lelaki di seberang sana.


Anita berdehem. "Ya, Jack? Ini Anita Wallis."


"Owh .. Miss Wallis, ada yang bisa aku bantu?" Jack, si menejer The Rebellion bertanya.


"Aku tidak bisa menghubungi Ben beberapa hari ini, kau tahu di mana dia?" tanya Anita.


"Terakhir dia bilang dia tidak ingin diganggu sebelum tour, entah di mana dia sekarang,


menghilang begitu saja," Terdengar Jack terkekeh.


Anita memejamkan matanya. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Mungkin besok dia sudah kembali, tour nya akan mulai tiga hari lagi dari sekarang," sambung Jack.


"Okay, thanks Jack." Anita menutup telponnya.


Anita tersenyum kecil. Bayangan wajah Ben menari-nari di benaknya. Memori indah masa lalunya dengan mantan kekasihnya itu mulai muncul satu-satu tanpa permisi. Anita merasakan dirinya seperti tengah jatuh cinta kembali dengan si gitaris flamboyan itu.


"I miss you, Ben," ucapnya lirih.

__ADS_1


***


RESTAURAN CEPAT SAJI PHILLY CHEESECAKE, PHILADELPHIA.


"Kau yakin Larry tidak akan memecatku?" Laras menyeruput sekaleng coke nya. "Wow .. philly cheese cake!" seru Laras begitu seorang pelayan menyajikan lipatan roti dan daging berkeju di meja.


"Yakin," jawab Ben seraya mencomot bagian sandwichnya.


Laras memicingkan matanya. Memandang tak yakin kepada lelaki di hadapannya itu.


"Mungkin dia hanya akan memotong gajimu." kata Ben seraya menggigit satu potongan sandwichnya. Tanpa melihat Laras yang langsung memanyunkan bibirnya.


Ben terbahak melihat wajah lucu Laras yang setengah ngambek.


"Aku bercanda," ujarnya kemudian.


Laras mengibaskan tangannya. Menganggap ucapan Ben sebagai angin lalu. Kemudian berkutat kembali dengan lipatan rotinya.


"Hey Ben, setahuku jarak New York dan Philadelphia tidak terlalu jauh ya, kenapa kita sampai berhari-hari begini, kalau memang tujuan akhirmu adalah kota ini?" tanya Laras, baru menyadari.


Pipi Laras mengembung. Rasanya seperti dibohongi oleh supir taksi yang membawamu berputar-putar padahal tempat tujuanmu dekat sekali.


"Maafkan aku, Laras," ujar Ben di sela-sela kikikkannya.


"Okay!" sahut Laras pasrah. Lalu menggigit sandwichnya sembari melemparkan pandangan ke arah jalan raya.


"Kita akan kembali ke New York nanti malam," ujar Ben. Laras mengalihkan pandangannya ke arah lelaki di hadapannya itu.


"Oh great," sahut Laras. Ada sedikit rasa getir yang menghimpit dadanya. Kebersamaan ini akan segera berakhir, batinnya.


Dilihatnya Ben menghela nafas pelan. Menyeruput cokenya, lalu meletakkan lengannya di atas meja. Ditatapnya Laras dengan seksama.


"Jadi .. bagaimana menurutmu tentang kau dan aku?" tanya Ben membuat Laras terkesiap. "Tentang road tripnya, maksudku," lanjut Ben meralat kata-katanya. Digaruknya kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


"Huh?" Laras memasang tampang bingungnya. "Ouh .. it was fun, yeah, fun,"


timpal Laras sekenanya.


Ben tersenyum getir. Suasana menjadi canggung. Laras pun tampak sesekali membenarkan letak duduknya. Pertanda gadis itu tengah merasa gugup.


"Kapan tourmu akan dimulai?"


"Aku akan memulai tour dua hari lagi."


Keduanya terkekeh, mereka mengucapkan kalimat secara bersamaan.


"Okay," ujar Laras seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya.


"Satu bulan penuh aku akan berkeliling kota-kota besar di US."


"Great," sahut Laras.


"Aku pasti akan merindukan New York."


"Pastinya," kekeh Laras. Kemudian menyeruput kaleng cokenya.


"Apa kau akan merindukanku?" tanya Ben yang hampir saja membuat Laras menyemburkan coke yang hendak ditelannya. "Karena aku akan merindukanmu," sambungnya. Membuat jantung Laras seakan ingin melompat keluar.


"Aku?" tanya Laras seraya berdehem untuk menetralisir debar di dadanya.


Ben meringis melihat Laras yang terlihat salah tingkah. Wajah gadis itu bersemu merah. Tentu saja aku akan merindukanmu, menyebalkan!


"I gotta go to toilet," ujar Laras seraya beranjak dari duduknya. Kemudian bergegas melangkah menuju kamar kecil yang berada di pojok ruangan.


Laras membasuh mukanya. Menatap wajahnya yang memerah di cermin. Menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.


"Jago banget sih bikin aku salah tingkah gini, nyebelin," gerutu Laras. Ditariknya kembali nafas dalam-dalam, kemudian melangkah keluar dari ruangan kecil itu.

__ADS_1


Laras menghentikan langkahnya ketika melihat Ben yang tengah dikelilingi oleh beberapa gadis yang tengah meminta foto dan mengobrol dengannya. Laras tersenyum tipis dan memutuskan untuk menunggu sampai acara jumpa fans dadakan itu selesai.


***


__ADS_2