
Laras membuka matanya pelan, dirasakannya sekujur tubuhnya telah banjir keringat, demamnya sudah turun. Hanya menyisakan sedikit rasa berdenyut di kepalanya. Laras memicingkan matanya ketika sinar mentari yang menyeruak masuk ke dalam kamarnya menembus tirai membuatnya silau.
Pintu kamar terbuka. Wajah Ben menyembul dari baliknya. Senyumnya terbit melihat Laras telah bangun.
"Hey .. are you feeling better?" tanya Ben sembari mendekatinya. Laras memijit kepalanya.
"Kau masih ada di sini?" tanya Laras.
"Yeah, kau kira aku tega meninggalkanmu dalam keadaan sakit begitu?"
Laras tersenyum tipis. Ditatapnya wajah lelaki tampan di hadapannya ini. Bibirnya itu sungguh mengundangnya untuk segera menerkamnya. Dan gigi taringnya yang terlihat ketika dia tengah berbicara atau tersenyum membuatnya terlihat sungguh mempesona. Laras menelan ludahnya dengan susah payah. Sedari tadi dadanya telah berdebar tak karuan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ben sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Laras. Hampir saja bibir keduanya terpagut hingga dering ponsel Ben membuat keduanya urung melanjutkan ciuman mereka.
"Jack tidak berhenti menelponku dari tadi pagi," keluh Ben sembari menggoyang-goyangkan ponselnya. "Okay, okay Jack, geez!" seru Ben pada Jack yang ada di seberang.
Ben menghela nafas panjang.
"Persiapan The Rock Show di Chicago, konser besar dengan beberapa band rock besar, sungguh melelahkan." terang Ben sembari mengelus kepala Laras. Sorot matanya seperti mengatakan dia tidak rela meninggalkan Laras.
"You'd better hurry up," ujar Laras.
"Telpon Larry kau tidak masuk kerja hari ini ya?"
Laras mengangguk.
"Ah, aku sudah memesan makanan untukmu, mungkin beberapa menit lagi akan sampai." Ben mengeluarkan beberapa lembar dollar dari dompetnya lalu meletakkannya di atas meja di samping ranjang Laras. Kemudian berdiri, berjalan mondar mandir sebentar, kemudian menghadap ke arah Laras kembali.
__ADS_1
"Laras ...." Ben menggenggam tangan Laras erat.
"Ya?" Laras memandang Ben dengan bingung.
Lelaki ini sepertinya salah tingkah, atau terlalu girang, atau sedang gelisah, entahlah, bahasa tubuhnya menyiratkan sebuah kecanggungan yang luar biasa.
"Thank you," ucap Ben. " I'm the happiest man in this entire Manhattan."
Laras terbahak. "Pergilah, Ben."
Ben mengecup bibir Laras lembut. " I'll see you .. mmm .. tomorrow, maybe."
"Go, Ben," bisik Laras. Ben beranjak dari sisi Laras kemudian melangkah keluar kamar, sesaat kemudian wajahnya muncul dari balik pintu.
"Go!" hardik Laras membuat Ben terbahak. Kemudian menghilang kembali di balik pintu.
Jalani saja, Laras. Ya benar, jalani saja.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Pastilah orang yang mengantar makanan. Disambarnya uang yang diletakkan Ben di atas meja. Lalu bergegas menuju pintu apartemennya.
***
Ben memeriksa rundown acara The Rock Show Chicago di laptop studio. Nama The Rebellion sejajar dengan beberapa band besar yang akan ikut tampil di antaranya Slipknot, Canibal Corpse dan System Of A Down. Lalu tulisan The Resistance menyelip di antara band-band pendatang baru. Ben mendengus pelan, artinya dia akan bertemu lagi dengan Hailey si cerewet itu. Gadis itu juga sering sekali mengganggunya dengan pesan dan telpon yang semuanya Ben acuhkan. Terkutuklah Jack yang memberikan nomer telponnya tanpa ijin kepada Hailey.
Greg menyodorkan sebotol bir pada Ben. Lalu duduk di sampingnya.
"Thanks," ucap Ben.
__ADS_1
Greg ikut melihat-lihat layar laptop. Lalu mengangguk-angguk setelah membaca nama-nama besar yang tertulis di kotak masuk email dari pihak penyelenggara acara.
"How's Laras?" tanya Greg.
"Hmm .. she's good," jawab Ben dengan wajah sumringahnya. Greg sudah bisa menebak bahwa hubungan mereka telah naik level.
"Lucky bastard!" hardik Greg seraya menyenggol bahu sahabatnya itu.
"Yeah!" Ben mengangkat botol birnya kemudian menenggaknya. "Luckiest bastard I am," gelaknya.
"Jangan pernah menyakitinya, kau dengar? Atau aku akan mengambil Laras darimu," ancam Greg.
Ben menoleh ke arah Greg, wajah lelaki berambut hitam panjang itu tampak serius.
"Kau tidak percaya padaku?" tanya Ben.
"Dengan reputasimu? Aku rasa tidak."
"Kau lihat saja," balas Ben.
Greg hanya tersenyum miring. Kemudian menepuk-nepuk pundak Ben dan beranjak pergi. Ben menyandarkan punggungnya di kursi dan meletakkan kedua kakinya di atas meja. Lelaki itu menengadahkan wajahnya sembari membayangkan wajah Laras yang manis. Ah, ingin rasanya menculik gadis itu lagi dan membawanya pergi jauh selama beberapa hari. Namun jadwal Ben begitu padat dan tidak memungkinkan untuk melakukannya. Harus menunggu satu minggu lagi setelah acara di Chicago selesai.
Otak Ben mulai menyusun rencana kemana dia akan membawa Laras. Membayangkan wajah bingung dan kesal Laras nantinya membuat Ben tanpa sadar tersenyum sendiri.
"Ben .. ada yang mencarimu!" seru Jack dari balik pintu ruangan yang sedikit terbuka. Ben menoleh ke belakang dan mendapati Jack tengah berdiri bersama dengan seseorang.
"Anita?"
__ADS_1
***