
WICHITA DWIGHT D. EISENHOWER NATIONAL AIRPORT, WICHITA.
Laras dengan ransel di punggungnya, dan Catherine dengan koper kecilnya, berjalan menuju keluar bangunan yang didominasi dengan dinding kaca itu. Sesekali Laras membetulkan letak syal yang terlilit di lehernya. Hawa dingin sore itu menyeruak.
Laras menyapu pandangannya berkeliling. Matanya dimanjakan dengan hamparan rumput menguning yang tertata rapi. Langit Wichita mulai berwarna jingga. Pertanda matahari hampir kembali ke ufuk barat.
Catherine menarik tangan Laras masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan mereka. Taksi pun melaju begitu kedua gadis itu telah duduk manis di kursi belakang.
Padang rumput terhampar luar sepanjang jalan dari bandara menuju pusat kota Wichita.
Laras menopang dagunya sembari menatap keluar jendela. Sudah sejak menginjakkan kaki di bandara John F Kennedy, New York siang tadi untuk bertolak menuju kota ini, dada Laras berdebar tidak karuan.
Ben berada di kota ini, dan Laras bertanya-tanya dalam hati apakah lelaki itu akan menyambutnya dengan baik, atau dia akan terlalu sibuk, atau bahkan tidak suka karena merasa terganggu? Kepala Laras penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya pusing sendiri. Hingga akhirnya gadis itu terlelap terbuai dengan alunan musik country yang diputar lirih oleh supir taksi.
Rasanya baru beberapa saat Laras tertidur, Catherine membangunkannya dan mengatakan kalau mereka telah sampai di hotel yang telah mereka pesan sebelumnya.
Laras mengikuti Catherine yang telah turun terlebih dahulu dari taksi, dan berjalan di belakang sahabatnya itu menuju ke sebuah hotel kecil yang berada beberapa meter di depan mereka.
"Are you nervous?" tanya Catherine seraya memperhatikan Laras yang terlihat gelisah.
Keduanya tengah menunggu receptionist mengurus kamar mereka.
"A little," jawab Laras sembari meringis. Gadis itu tiba-tiba merasakan keram di perutnya. Efek dari rasa gugup yang melandanya. Catherine terkekeh, kemudian menggeleng pelan.
Receptionist menyerahkan kunci kamar mereka. Kedua gadis itu segera menuju ke lift yang akan membawa mereka ke kamar yang mereka dapatkan di lantai lima.
"Ini benar-benar gila, apa yang akan Ben pikirkan kalau dia tahu aku mengejarnya seperti ini?" Laras berjalan mondar mandir di hadapan Catherine yang tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ya Tuhan Laras .. Ben tidak akan berpikiran macam-macam, justru dia akan merasa senang," sahut Catherine.
Laras menjambak rambutnya pelan.
Dihembuskannya nafas dengan kasar.
"Lalu aku harus menjawab apa jika dia bertanya apa yang sedang aku lakukan di sini?"
"Kau jawab saja yang sebenarnya .. ayolah Laras, buang gengsimu yang berlebihan itu!" gerutu Catherine.
Laras menghambur ke samping Catherine,
membenamkan kepalanya di atas bantal putih empuk yang berbau wangi itu. Tubuhnya terasa panas dingin. Ingin rasanya mengurungkan niatnya untuk menemui Ben nanti malam tetapi di sisi lain Laras sangat merindukan lelaki itu.
***
THE ELBOW ROOM BAR, WICHITA.
THE REBELLION INTIMATE SHOWCASE.
Laras dan Catherine menerobos orang-orang yang berjejal di ruangan berkapasitas 300an orang itu, hingga mereka mendapat posisi yang tak terlalu jauh dari panggung.
Dari flyer yang bisa dilihat di sosial media, The Rebellion malam ini mengadakan intimate showcase untuk mengakrabkan diri dengan fans garis keras mereka di Wichita, yang tentunya tiket masuknya berharga tinggi.
__ADS_1
Jantung Laras berdegup dengan kencang ketika The Rebellion menampakkan batang hidung mereka ke atas panggung yang telah di dekorasi sedemikian rupa itu. Mata gadis itu menatap takjub sosok Ben yang tengah melambai ke arah penonton. Kaos lengan pendek warna hitam bertuliskan Kataklysm membalut tubuh atletisnya. Rambut pirangnya diikat sebagian dengan asal, menyisakan anak rambut yang menjuntai di atas dahi dan pipinya. Jeans biru robek-robeknya dipadu dengan sneaker air jordannya. Tattoo bergambar naga di lengannya membuat kesan maskulinnya begitu kental. Gitar warna hitamnya diselempangkan begitu saja di belakang punggungnya.
Ben tidak menyadari kehadiran Laras, karena badan Laras terhalang beberapa orang yang berdiri di depannya. Hingga membuat gadis itu leluasa memeperhatikan lelaki yang begitu dirindukannya itu.
"Good evening, Wichita." sapa Ben. Senyum manisnya terbit. Suara tepuk tangan dan seruan penonton terdengar. Dada Laras berdesir. Matanya tak lepas dari sosok Ben yang begitu mempesonanya itu.
Ben memberikan sedikit pidato ringannya dengan diselingi gurauan segar yang mengundang tawa penonton. Suasana hangat mengalir di ruangan bar yang berdesain futuristik itu.
"Lihat dia, apa kau bisa mengendalikan diri untuk tidak memeluknya sekarang ini," goda Catherine seraya menyenggol bahu Laras.
Gadis itu meringis. Rona merah di pipinya tersembunyi oleh cahaya lampu yang sedikit remang.
"Marry me, Ben!"
Suara teriakan itu membuat Laras menoleh
ke arah asal suara. Seorang wanita tengah melambai ke arah Ben, sementara teman-temannya mengacak rambut wanita itu. Laras mengalihkan pandangannya ke arah Ben, lelaki itu menyunggingkan senyum mematikannya, memperlihatkan gigi taringnya yang menggemaskan itu.
"Well, itu proposal yang menarik," gurau Ben sembari menunjuk wanita itu. Yang ditunjuk berjingkrak kegirangan. Laras tersenyum melihatnya.
"Kenapa Anita Wallis ada di sini?" tanya Catherine seraya menunjuk tempat duduk yang berada di samping depan panggung.
"What?" tanya Laras. Matanya mengikuti arah telunjuk Catherine. Seorang wanita cantik bergaun merah elegan tampak tengah duduk bersama menejer The Rebellion, Jack dan beberapa kru. Dada Laras berdegup dengan kencang. Gadis itu berusaha menguasai keadaan.
"Kau lihat Catherine, ini bukan ide yang bagus," sungut Laras. Seketika kekecewaan merundung hatinya.
"Tunggu, Laras .. mungkin ini tidak seperti yang kau bayangkan, bisa saja dia datang sendiri tanpa diundang, hmm .. dasar tidak tahu malu!" gerutu Catherine.
Laras menelan ludahnya dengan berat. Badannya terasa panas dingin. Dihelanya nafas berkali-kali.
"Kau tetap harus menemui Ben, okay? Jangan menyerah, Laras!" Catherine menggenggam tangan Laras, memberinya semangat.
Hatinya berdesir ketika sekilas melihat seraut wajah yang begitu dirindukannya. Otak Ben berusaha untuk mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Tidak mungkin, batinnya. Ben memeriksa kembali ke arah kerumunan penonton itu, namun tak dilihatnya lagi wajah gadis itu. Ben tersenyum geli, sepertinya otaknya eror, penuh dengan bayangan wajah manis Laras hingga menciptakan sebuah halusinasi.
"This song called Ebony Tears."
Ben memulai lagunya dengan growl panjangnya yang dibarengi dengan riff gitar Marcus. Sorak sorai dan seruan penonton terdengar.
Sementara Catherine sibuk menghibur Laras yang terlihat sudah tidak lagi bersemangat. Apalagi ketika melihat Anita Wallis yang memandang Ben dengan tatapan yang bisa diartikan Laras sebagai tatapan penuh kerinduan dan cinta.
***
"Mr White, bisa kami menemui Benjamin?" tanya Catherine sembari melirik ID card yang terkalung di lehernya. Tertera nama Jack White, menejer The Rebellion.
Jack menyipitkan matanya, memandang ke arah Laras, mencoba mengingat wajah gadis itu.
"Apa kau Laras?" tanya Jack. Ingatannya melayang ke konser kolaborasi The Rebellion dan tarian dari sanggar tari KJRI, lalu insiden Ben dan Greg yang melibatkan gadis itu.
Laras mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Tentu saja, ayo ikut aku," ujar Jack seraya memberi isyarat kepada kedua gadis itu untuk mengikutinya.
Dada Laras semakin berdebar ketika mereka sampai di sebuah pintu yang sedikit terbuka. Terlihat beberapa orang tengah mengobrol di dalam. Jack melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Hei, Ben .. ada yang mencarimu," ujarnya.
__ADS_1
"Ya." Ben menyahut.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka lebar, sosok Ben muncul di hadapan Laras. Mata birunya membulat sempurna.
"Tidak mungkin!" pekiknya. "Aku pasti sedang bermimpi," ujarnya sembari menepuk-nepuk pipinya.
Laras terkekeh. "Tidak, kau tidak sedang bermimpi," sahutnya.
"Ini benar kau, Laras?" tanya Ben seraya mengguncang bahu Laras, memastikan gadis itu memang nyata.
Catherine yang berada di samping Laras tersenyum puas, misinya berhasil.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Ini benar-benar mengejutkanku," ujar Ben, namun bibirnya tak henti-hentinya mengulum senyuman.
Laras menoleh ke arah Catherine. "Emm .. Cathy memintaku untuk menemaninya mengunjungi saudaranya di sini .. jadi kuputuskan untuk sekalian datang di acaramu."
Catherine berdehem dua kali. Dasar pembohong, batin gadis itu, mengumpat Laras.
"Owh .. hi, Cathy .. maaf aku tidak menyadari kau ada di sini," ujar Ben. Gadis itu hanya menyengir saja.
Ben fokus kembali terhadap Laras. Memeluk gadis itu dengan erat. Menumpahkan kerinduan yang begitu menggunung selama satu minggu lebih. Pelan Laras membalas pelukan Ben, begitu hangat. Seakan-akan energi yang disalurkan lelaki ini bisa membuatnya melayang tak menapaki tanah.
"Ben .. bisa kau ...." Sosok Anita muncul dari balik pintu. Wanita itu tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat pemandangan di hadapannya yang membuat hatinya tiba-tiba merasa nyeri.
Ben dan Laras melepaskan pelukan mereka. Memandang Anita dengan kikuk. Wanita itu menatap Laras dengan tatapan sengit. Masih teringat jelas peristiwa club beberapa waktu lalu.
"Owh .. Laras, bukan? Kau seorang fans fanatik yang rela datang jauh-jauh dari New York ke Wichita, ya?" ejek Anita. Senyum sinisnya tersungging. Laras tak berniat meladeni wanita itu.
"Ben, aku rasa aku harus pergi," kata Laras.
Wajahnya muram. Ben menahan tangan Laras. Melarangnya untuk meninggalkan tempat itu.
"Ben .. semua sedang menunggumu di dalam," ujar Anita. Ben menghela nafas panjang. Menoleh ke arah Laras. Tangan gadis itu masih digenggamnya.
"Kau menginap di mana?" tanya Ben.
Laras hendak membuka mulutnya namun Catherine segera menyahut. "Scottman Inn West, kamar nomer 514." Laras memelototi sahabatnya itu. Catherine tersenyum jahil.
"Aku akan menemuimu nanti setelah ini, kau tunggu aku," ujarnya seraya mengelus pipi Laras. Kemudian melangkah masuk kembali ke dalam ruangan. Anita menatap Laras dengan tatapan penuh kebencian, lalu menutup pintu dengan keras.
"Pffh .. wanita penyihir!" maki Catherine. Kemudian menggandeng Laras meninggalkan tempat itu.
***
Catatan Penulis :
Intimate showcase ~ Konser musik yang biasanya lebih ke sesi interview, berbicara dengan fans dan sedikit perform.
Growl ~ Teknik vocal menggeram yang biasanya di gunakan di genre metal(death metal).
Kataklysm - Band death metal dari Canada.
Lagu yang saya comot adalah :
~ Ebony Tears ~ Cathedral ( Band doom metal dari Inggris).
__ADS_1
Kasih visual ah,mumpung nemu gambar bening😂