I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 25


__ADS_3

Ben memarkirkan mobilnya di area parkir kampus yang luas. Hari ini ada satu mata kuliah yang akan dihadirinya. Entahlah, akhir-akhir ini Ben merasa bersemangat pergi ke kampus. Padahal sudah setahun belakangan kehadirannya di kampus bisa dihitung dengan jari. Dan hey, matanya menangkap sesosok berambut hitam panjang yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Laras, gadis manis itu tengah berjalan terburu-buru menuju gerbang kampus.


Ben segera turun dari mobilnya dan setengah berlari mengejar gadis itu. Beberapa orang menyapanya, Ben hanya melambai saja ke arah mereka.


Di luar gerbang kampus, Laras berjalan menelusuri trotoar. Tangan kirinya mengapit beberapa buku tebal. Sesekali disibaknya rambut yang tertiup angin menutupi sebagian wajahnya.


Gadis itu terkejut ketika Ben dengan tiba-tiba telah berjalan di sampingnya. Memamerkan senyum manisnya itu. Laras menghentikan langkahnya.


"Hey, apa kabar, Laras?"tanya Ben.


"Baik." Laras menengok ke kanan dan ke kiri.


"Sedang apa di sini?" tanyanya kemudian.


"Aku ada kelas hari ini, tapi tadi kebetulan aku melihatmu, jadi kuputuskan untuk menemuimu terlebih dahulu."


Laras menaikan alisnya. "Ada yang bisa aku bantu?"


"Kenapa kau berhenti bekerja di tempat Rose? Wanita tua itu sangat sedih," ujar Ben menjual nama neneknya untuk menutupi niatnya.


Laras tercekat. Dia tidak tahu harus menhawab apa. "Emh .. aku .. aku merasa terlalu kecapekan kalau harus bekerja sabtu minggu, jadi kuputuskan untuk berhenti bekerja di sana."


"Oh begitu, sayang sekali, padahal Rose sangat menyukaimu .. dan aku juga," ujar Ben,


kembali menjual nama neneknya. Tetapi


tentu saja kata-kata yang terakhir hanya diucapkannya dalam hati.


"Sampaikan maafku kepada Madame," ucap


Laras.


"Aku akan menyampaikannya .. emh, Laras,


aku bertanya-tanya dalam hati sekiranya kau mau aku ajak makan malam atau menonton film nanti, emh .. itu jika kau bersedia," kata Ben hati-hati. Sungguh dia berharap Laras akan mengiyakan ajakannya.


Laras berpikir sejenak. Apa ini, apakah lelaki ini sedang mengajaknya berkencan, pikirnya.


"Sebagai teman." ujar Ben begitu melihat wajah Laras yang tampak bingung.


Laras masih nampak tengah berpikir. Dia sudah berusaha menghindari Ben tetapi kenapa lelaki ini selalu saja muncul di hadapannya.


"So?" tanya Ben.


"Okay." Sial, maki Laras dalam hati. Tatapan mata biru dan senyuman itu sungguh menggoyahkan pertahanan dirinya.


"Alright .. aku jemput kau jam 7 sore nanti,"


ujar Ben girang. "Sampai nanti, Laras." Ben dengan canggung mengecup pipi Laras untuk berpamitan.


Laras memandangi punggung Ben yang


mulai menjauh hingga tak terlihat lagi dari balik gerbang kampus. Gadis itu tersenyum tipis. Kenapa hatinya berbunga-bunga sekarang. Kenapa melihat kembali sosok Ben membuat hatinya menghangat. Laras tidak tahu harus bagaimana. Tekadnya untuk melupakan perasaannya terhadap Ben mulai melemah.

__ADS_1


***


Laras menatap bayangannya di dalam cermin. Entah sudah berapa pakaian yang dicobanya dan belum ada yang dirasa cocok. Sekarang tubuhnya berbalut sebuah mini dress berbahan kaos berwarna cokelat yang dipadukan dengan mantel panjang. Laras menalikan sepatu putih casualnya dan merapikan kaos kaki pendeknya.


Suara ketukan membuat dadanya berdebar kencang. Laras melangkah ke arah pintu dan membukanya. Senyuman Ben tersungging begitu Laras membuka pintunya. Mata birunya berbinar melihat gadis itu. Ya Tuhan, bisakah kau berhenti menjadi tampan sebentar saja, batin gadis itu. Memperhatikan penampilan Ben yang bisa membuat wanita mana saja histeris. Rambutnya diikat setengah di bagian belakang atas kepalanya, mengenakan kemeja berwarna hitam yang digulung di bagian lengannya hingga memperlihatkan tattoo kepala naganya yang menyembul.


"Hey, kau sudah siap?" tanya Ben membuat Laras terkesiap.


"Ah .. iya," jawab Laras gugup, kemudian menyambar tas slempangnya dan menutup pintu apartemennya.


"Kita ke Lincoln Square, makan dan menonton film, kau yang memilih filmnya nanti, it's gonna be fun," ujar Ben ketika keduanya telah berada di dalam mobil mewahnya.


Laras hanya mengangguk. Ben megemudikan mobilnya keluar dari kawasan Tudor City.


***


"Pilihan filmmu sungguh aneh, Laras,"


ujar Ben. Keduanya tengah berada di sebuah cafe di dalam Lincoln Square. Setelah sekitar 15 menit yang lalu mereka menyelesaikan menonton film pilihan Laras. Sebuah film horor berjudul Suspiria yang diadaptasi dari film tahun 70an.


Laras meringis mendengar perkataan Ben.


"Kau tidak menyukainya?" tanya Laras sembari menyeruput jus apelnya.


"Aku suka, hanya saja aku heran kenapa kau memilih film horor untuk kencan pertama kita," jawab Ben yang membuat Laras hampir saja tersedak.


"Kencan?" tanya Laras memastikan dia tidak salah dengar.


"Kau suka sekali bercanda," gerutu Laras.


Ben hanya tersenyum. Lelaki itu menangkap rona merah di pipi Laras. Membuatnya terlihat begitu manis. Wajah asianya terlihat begitu mempesona.


Laras berusaha mengendalikan diri. Bisa saja Ben mengatakan hal-hal semacam itu kepada semua wanita yang dikencaninya. Ayo kontrol dirimu, batinnya.


"Apa alasan mantan pacarmu meninggalkanmu?" tanya Ben tiba-tiba.


Laras merasa heran dengan pertanyaan Ben.


"Aku tidak tahu, wanita lain mungkin," jawab Laras.


"Apa kau masih merasa terluka sekarang?"


Apa ini. Kenapa lelaki ini menginterogasinya seperti ini, tanya Laras dalam hati.


"Entahlah, hanya saja hal itu membuatku takut untuk menjalani hubungan yang baru."


"Apa itu sebabnya kau menolak Greg?" tanya Ben hati-hati. Laras membulatkan matanya.


Darimana dia tahu, pikirnya.


"Atau karena kau sedang menyukai seseorang?" tanya Ben kembali, Laras tercekat.


"Aku .. emh .. iya, mungkin saja," jawab Laras terbata.

__ADS_1


Ben ingin memastikan apakah perkataan Greg benar adanya, bahwa Laras menyukainya.


"Apakah seseorang itu membalas perasaanmu?" tanya Ben, semakin membuat Laras merasa diinterogasi.


"Entahlah, dia punya banyak wanita cantik, mungkin saja dia hanya menganggapku angin lalu," ujar Laras.


"Seandainya dia ternyata membalas perasaanmu, apa yang akan kau lakukan?"


"Hei, apa kau sedang menginterogasiku?" seru Laras mulai merasa tak nyaman dengan arah pembicaraan Ben.


Ben terbahak. Diliriknya jam tangannya,


menunjukan pukul 10 malam. Lelaki itu kemudian mengajak Laras untuk pulang.


Sepanjang perjalanan Laras tenggelam dalam pikirannya. Memikirkan pertanyaan-pertanyaan lelaki yang tengah menyetir di sampingnya itu.


***


"Thanks Ben," ujar Laras ketika mereka sampai di depan apartemen Laras.


"Aku yang berterimakasih, it was fun .. thank you, Laras," sahut Ben. Kemudian menggeser badannya hingga menghadap gadis itu.


"Okay ..," jawab Laras singkat. Laras hendak keluar dari mobil namun tangan Ben menahan lengannya. Membuatnya terkejut.


"Laras, maaf kalau membuatmu tidak nyaman, aku rasa aku terlalu banyak bertanya tadi."


"It's okay ...."


Ben mendekatkan wajahnya ke arah wajah Laras. Gadis itu seakan terhipnotis hingga sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Laras tahu apa yang akan dilakukan Ben, namun dia tak kuasa menolaknya.


Bibir Ben menyentuh bibirnya dengan lembut.


Mengulumnya dengan hangat. Pertahanan Laras goyah sudah. Tanpa berpikir panjang Laras membalas sentuhan bibir Ben.


Seluruh tubuh Laras bagaikan terkena sengatan listrik bertegangan rendah. Laras menutup matanya. Menikmati setiap sentuhan bibir Ben yang menciumnya dengan gentle.


Cukup lama bibir mereka berpagut. Laras membuka matanya. Menarik wajahnya menjauh. Kini keduanya terjebak dalam suasana yang canggung.


"It was nice," ujar Ben sembari mengelus rambutnya sendiri, mencoba untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Laras tersipu kemudian menunduk malu.


"Aku akan masuk ke apartemen ..," kata Laras dengan canggungnya.


"Kau mau aku .. emh .. mengantarmu sampai ke depan pintu? Atau ingin menawariku minum anggur atau ....," ucap Ben penuh harap.


"Good night, Ben." Laras tak mempedulikan perkataan Ben, diciumnya pipi lelaki itu lalu membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung.


Ben menyentuh bibirnya dan tersenyum tipis.


Dikemudikannya mobilnya keluar dari area Tudor City.


***

__ADS_1


__ADS_2