
UNIVERSITAS COLUMBIA, NY 100027, NEW YORK.
Ramai. Suasana kampus penuh sesak oleh para penghuninya yang ingin bersenang-senang di malam puncak ulang tahun kampus yang berusia ratusan tahun itu.
Di halaman gedung perpustakaan yang luas berdiri sebuah panggung pertunjukan besar yang saat ini tengah diisi oleh band-band lokal kampus yang tampil bergiliran. Halaman yang mampu menampung ribuan orang itu begitu riuh.
Di ruang ganti, Laras menatap wajahnya yang telah dipolesi make up tipis. Kostum yang dikenakannya adalah perpaduan antara kebaya dan rok era victorian sepanjang lutut. Sementara sepatu yang dikenakannya adalah sepatu balet yang telah dimodif sedemikian rupa dengan tali bersilang-silang yang melilit kakinya setinggi 5 centi. Rambutnya dibiarkan tergerai memanjang dan dihiasi mahkota yang terbuat dari bunga dan dedauan.Ini adalah pertama kalinya dia akan tampil menari di hadapan banyak orang. Terlebih lagi harus berada satu panggung dengan Ben. Membuat perut gadis itu terasa mulas.
"Ras, kamu gak papa?" tanya Maya ketika melihat Laras memegangi perutnya.
"Enggak papa kok, cuma nervous aja. "Laras
meringis.
"Kirain," ujar Maya lega. "Okay kita briefing dulu ya!" seru Maya kepada Laras dan dua orang penari lainnya. Lola dan Sari.
"Kita bakal naik panggung pas Rebellion bawain lagu ketiga mereka ya, jadi Lola sama Sari, kalian nanti ngambil posisi di deket Marcus sama Liam, aku di deket Gregory dan Laras kamu di deketnya Ben ya, tapi agak mundur dikit."
Laras berusaha menahan kegugupannya ketika Maya menyebut nama Ben barusan.
Perutnya semakin mulas saja. Gadis itu melirik jam yang tertempel di dinding, menunjukkan pukul 21.30. Itu artinya sekitar 30 menit lagi mereka akan tampil.
***
"What's up Columbia!"
Riuh suara penonton bergemuruh menyambut kemunculan The Rebellion di atas panggung. Para gadis yang berdiri di bagian depan berteriak histeris memanggil-manggil nama Ben yang di sambut lambaian tangan lelaki bertelanjang dada dan memperlihatkan tattoo burung elang di dada, naga yang memanjang dari bahu hingga lengannya, dan salib yang terlilit ular di punggungnya itu.
Penonton semakin riuh ketika intro lagu pembuka diperdengarkan. Suara distorsi gitar yang berat dari cremona semi hollow master gitar Ben menggema. Satu lagu populer Rebellion dimainkan. Menghipnotis penonton yang reflek ikut menyanyikan liriknya. Beberapa di antaranya ber-headbang dengan mengangkat kedua tangan mereka dan jari-jari mereka membentuk simbol metal.
Lagu kedua The Rebellion berjudul Valley Of The King. Ben mendekati Marcus dan keduanya berduet saling curi cabikan gitar masing-masing. Bit-bit pelan dari pukulan drum Liam mengiringi rif-rif panjang yang menghipnotis. Penonton mengangguk-anggukan kepalanya. Sebagian mengikuti lirik yang sudah dihapal mereka.
Sebagian yang ada di tengah mulai bercrowdsurfing. Sepertinya alkohol telah mengendalikan gerakan tubuh mereka.
"Hey, what's up again, Columbia!"
Ben berseru di depan microphone,riuh penonton menyambut seruannya.
"Are you still good? Yeah?" Ben menunjuk ke arah penonton dan gemuruh penonton terdengar dari seluruh penjuru.
"Okay, emh .. this is quite new for us,
a collaboration with some beautiful
dancers, they came all the way from a
tropical country named Indonesia."
Ben menghentikan pembicaraannya, menunggu penonton berhenti bersorak. Dengan tampannya menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya. Sebuah gerakan yang membuat para penonton wanita menjadi gemas.
"Ladies,please come out!" Ben berseru. Gemuruh penonton kembali berkumandang. Kolaborasi gitar Marcus dan bas Gregory memperdengarkan intro yang harmonis. Beberapa saat kemudian empat gadis cantik nan anggun muncul dari belakang panggung.
Ben terkesima menatap Laras yang terlihat begitu cantik dan anggun. Begitupun Gregory.
Sembari memainkan basnya, matanya mencuri-curi pandang terhadap Laras yang kini telah berdiri beberapa centi jaraknya di belakang Ben.
"You look beautiful," ujar Ben, yang hanya terdengar oleh Laras. Pipi gadis itu merona merah.
Penonton riuh. Lagu ketiga yang merupakan single terpopuler Rebellion berjudul W**reckage Of Tears diperdengarkan. Kolaborasi penuh harmoni musik dan tarian mix tradisional modern itu berjalan tanpa cela.
Laras sesekali mencuri pandang di sela-sela gerakan tariannya terhadap lelaki berambut perak yang begitu mempesona dengan gitar di tangannya itu. Ini kali pertama Laras melihat aksi panggung Ben. Entahlah, malam ini lelaki itu begitu mempesonanya. Sesekali pandangan mereka bertemu, lalu tersenyum satu sama lain. Seperti saling memendam kerinduan yang ingin segera mereka tuntaskan.
__ADS_1
***
Ruang itu dikhususkan untuk The Rebellion sehabis tampil. Acara after party yang biasa dilakukan setelah sebuah acara sukses digelar. Krat-krat bir dan belasan botol whiskey berbagai merk telah tertata rapi di atas meja besar.
Pengurus acara mengundang Laras dan ketiga temannya untuk bergabung. Ruangan itu telah penuh oleh personel The Rebellion dan para pengurus acara yang telah bebas tugas.
"To Columbia!" seru salah seorang pengurus acara sembari mengangkat botol bir di tangannya. Semua orang di dalam ruangan itu
refleks mengangkat botol bir masing-masing.
"To Columbia!" seru mereka serempak.
Beberapa saat kemudian mereka saling mengobrol sembari memikmati minuman dan beberapa cemilan yang tersedia.
Laras dan Maya tengah mengobrol dengan Randall, teman satu kelas Laras yang ikut menjadi pengurus acara.
"Kalian tampil memukau," puji Randall.
"We tried to do our best," sahut Maya.
Laras menyapukan pandangan mencari sosok Ben. Lelaki itu tengah asyik mengobrol dengan personel The Rebellion yang lain serta beberapa pengurus acara. Nampak juga Jack,menejer mereka di sana.
Laras terkesiap ketika tiba-tiba pandangan mata Ben mengarah padanya, lelaki itu tersenyum ke arahnya sembari mengangkat botol birnya. Gadis itu tersipu malu sembari mengutuki dirinya dalam hati karena telah kepergok tengah mencuri pandang kepada Ben.
Ben hendak menemui Laras namun langkahnya tertahan oleh gelayutan manja seorang wanita cantik. Laras terkejut melihatnya. Wanita itu adalah Claire yang beberapa hari lalu datang mencari Ben di rumah Madame Rose. Ben terlihat bingung. Sementara raut muka Laras seketika berubah murung. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu berpamitan dengan alasan kurang enak badan.
Gregory yang melihat Laras meninggalkan ruangan itu segera mengejar gadis itu. Memakai jaketnya lalu menyambar dua botol bir di atas meja. Ben hanya terdiam melihat Gregory mengejar Laras keluar ruangan.
***
Laras berjalan menelusuri koridor kampus yang panjang. Menuju ke halaman kampus dan duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon oak yang mulai bersemi daunnya. Dirapatkannya mantelnya. Udara begitu dingin. Nampak beberapa orang masih lalu lalang dan ada beberapa yang masih bergerombol dan mengobrol. Laras merogoh tasnya untuk mencari ponselnya. Gadis itu ingin menelpon Catherine, sahabatnya yang entah di mana sekarang. Setelah mengantarnya briefing, Laras tak melihat gadis itu lagi. Pikirnya pastilah Catherine sedang bersenang-senang.
"Kenapa menyendiri di sini?"
"Kau mengagetkanku," gerutu Laras.
Greg terkekeh. Lalu duduk di samping Laras.
Dibukanya dua bir yang dibawanya dengan ujung koreknya. Satunya disodorkan kepada Laras.
"Thanks," ucap Laras,gadis itu membutuhkan minuman itu, untuk menenangkan kekacauan dalam hatinya.
"Sedang apa di sini, kenapa pergi?"tanya Greg menyelidiki.
"Aku menunggu temanku, dia harus mengantarku pulang, aku sedikit lelah," jawab
Laras berbohong.
"Kita habiskan birnya," ujar Greg. Dikeluarkannya sebungkus rokok, diambilnya satu batang.
"You want some?" tawar Greg.
Laras mengambil satu batang. Greg dengan cekatan menyalakannya untuk Laras.
"Tadi kau terlihat memukau, Laras, aku hampir saja tidak bisa berkonsentrasi memainkan lagunya," ujar Greg. Laras tergelak.
"Jangan berlebihan," sahut Laras.
"Aku serius."
Laras menghentikan tawanya ketika menyadari wajah Greg mulai mendekati wajahnya. Lelaki ini cukup tampan, dengan rahangnya yang kuat dan terkesan angkuh.
Namun Laras tidak merasakan debaran aneh ketika berada di dekatnya. Seperti apa yang gadis itu rasakan ketika berada di dekat Ben.
__ADS_1
"Emh .. sorry, Greg," ucap Laras pelan sembari menarik wajahnya menjauh. Greg menghela nafas berat. Kemudian tersenyum.
"Aku yang minta maaf, mungkin ini terlalu cepat, atau .. apa yang kutakutkan ternyata benar," ujar Greg.
Laras menatap Greg heran.
"Kau menyukai Ben, bukan?" tanya Greg tiba-tiba. Membuat jantung Laras berdegup kencang.
"What?" Laras berpura-pura bingung. Dihisapnya rokok di tangannya dalam-dalam.
"Aku melihatmu tadi, kau pergi karena Claire datang," kata-kata Greg tepat menohok jantung Laras.
"A .. aku tidak," jawab Laras terbata. Sepertinya gadis itu tidak bisa berkelit.
Gregory menghela nafas dalam-dalam, memandang gadis di sampingnya yang tengah menundukkan kepalanya itu.
"Laras .. aku sangat mengenal Ben, dia tidak bisa hidup dengan satu wanita, kau hanya akan menyakiti diri sendiri," ucap Greg.
Laras menelan ludahnya degan berat. Dihisapnya kembali rokok di tangannya.
"Well .. tapi semua terserah kau saja, jika Ben menyakitimu kau bisa datang padaku kapan saja." Mata Gregory menyiratkan ketulusan.
"Greg .. aku tidak berharap apa-apa pada Ben, mungkin aku hanya mengidolakannya saja, seperti gadis-gadis lain." Laras memaksakan senyumnya.
Greg tersenyum. Dielusnya punggung Laras lembut.
"Sepertinya temanmu tidak akan datang," kata Greg sembari bangkit dari duduknya. "Kau mau aku pesankan taksi?" tanyanya kemudian.
"Tidak usah, aku akan naik subway saja," jawab Laras. Greg melirik jam tangannya. Menunjukkan pukul 00.30.
"Sudah larut, jangan naik subway,sebenarnya taksi pun tidak terlalu aman. Aku akan telpon supirku untuk mengantarmu pulang, tadi aku datang bersama team, jadi aku tidak membawa mobil," ujar Greg.
"Owh .. tidak perlu Greg, itu akan sangat merepotkan, aku sudah biasa pulang larut malam sendiri." tolak Laras.
"Ya tapi apartemenmu cukup jauh dari sini, sudahlah jangan mendebatku, Laras,
supirku akan menjemputmu, okay?"
Laras hanya bisa mengangguk. Lelaki berambut hitam panjang itu tersenyum.
Kemudian mengambil ponselnya dan berbicara dengan supirnya.
***
Catatan Penulis :
Benjamin Chevalier
Cakep, American, gitaris, kaya😂.
Ngebayangin aksi panggungnya tuh kaya gini nih,
Asli,saya ngefans berat sama cowok ini,John Frusciante mantan gitaris Red Hot Chili Peppers.😍
Lagu yang saya comot adalah:
Valley Of The Queen-Egypt (stoner metal band),dari North Dakota,US.
__ADS_1
Wreckage Of Tears-Lagu saya sendiri 😁(gothic-doom metal)