I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 101


__ADS_3

STUDIO THE REBELLION, TIME WARNER CENTER, MANHATTAN.


"Sekali lagi, Greg!" seru Ben sembari mengisyaratkan Greg untuk mengulang betotan basnya mengiringi riff gitar yang dibuat olehnya.


Greg membetot basnya sembari sesekali memandang ke arah Ben yang menggenjreng gitarnya dan juga sesekali memandang ke arah Greg. Keduanya saling menganggukkan kepala, mengisyaratkan satu sama lain untuk mengharmonisasikan nada.


"Marc, ayo mainkan," ujar Ben pada Marcus yang kini kebagian tugas sebagi lead guitar.


Liam dengan seksama mengikuti ketiganya dan seperti biasa dia menemukan bit bit rumit yang menjadi ciri khasnya.


Lagu diakhiri dengan lengkingan gitar Marcus dan penutupan drum serta bas dari Liam dan Greg.


"Materi album ke empat?" celetuk Greg.


"Menurut kalian?" tanya Ben seraya menyetem gitarnya.


"Kenapa tidak? Rebellion kembali dengan album ke empatnya, bukankah itu keren?" ujar Marcus.


"Yeah, baby!" seru Liam girang sembari memukul snare dan simbal secara bergantian.


Ben tersenyum melihat antusiasme ketiga sahabatnya ini. Dia seperti menemukan semangat hidupnya kembali akhir - akhir ini. Dan melihat Daren yang begitu bersemangat belajar biola, membuat hasrat bermusiknya kembali menggebu.


"Ayo kita rayakan ini," ujar Marcus.


"Aku bosan minum di Manhattan, kita cari tempat di Brooklyn, kalian setuju?" usul Liam.


Ben mengedikkan bahunya. "Terserah saja," ujarnya seraya meraih ponsel di sakunya. Mengutak - atiknya sebentar lalu menempelkannya di telinganya.


"Pablo, bisa antar kami ke Brooklyn? Jemput kami di studio," perintah Ben pada Pablo di seberang sana, yang sepertinya langsung diiyakan oleh supir pribadinya itu.


"Aku tahu tempat bagus," ujar Ben seraya beranjak dari duduknya. Merenggangkan otot jemarinya yang terasa kaku.


"Great!" sahut Liam.


.


.


BAR BELLY, BROOKLYN, NEW YORK.


Keempat personel The Rebellion itu melangkahkan kaki memasuki bar yang cukup ramai. Beberapa pengunjung menyadari kehadiran keempat pria berambut panjang itu dan seperti biasa mereka meminta untuk berfoto bersama.


Seorang pelayan bar mengantar mereka ke sebuah tempat private yang berada di lantai dua. Dari sana mereka leluasa memandang ke arah lantai di bawahnya dan juga ke sebuah panggung kecil yang terlihat masih kosong.


Dua botol brandy, satu picther jus buah, potongan - potongan lemon dihidangkan di atas meja oleh seorang pelayan pria. Si pelayan dengan cekatan meracik minuman menjadi dua pitcher cocktail dan masih menyisakan satu botol brandy yang masih utuh.


"Bar Belly, howdy?"


Suara lembut terdengar dari atas panggung. Membuat keempat personel The Rebellion itu serentak menoleh ke bawah sana.


"Hollys**t! Is that Mia?" pekik Marcus tak percaya dengan apa yang dilihatnya di atas panggung. "Mother Earth is on my side," kekehnya kemudian.


Ben hanya menggeleng. Diapun ikut memperhatikan beberapa lagu yang dimainkan dengan apik oleh Mia dan bandnya.


"Wah, gadisku sangat berbakat," celetuk Marcus sembari meneguk gelas cocktailnya.


"Mia? Gadismu? Sejak kapan?" ejek Liam.

__ADS_1


"Soon, brotha, soon," sahut Marcus dengan percaya dirinya.


Greg tergelak. "Lalu apa Margareth sudah kau buang begitu saja?" ujarnya mengingatkan kalau Marcus sudah mempunyai kekasih.


Marcus mendecak. "Kalian ini mengganggu kesenanganku saja," gerutunya. Disambut gelak tawa Greg dan Liam.


"Emm .. okay, next, ini lagu pertama kami, dan dengan bangga kami mengumumkan kalau lagu ini akan kami bawakan di Meadow Music And Art Festival pertengahan februari nanti .. emm .. pertama kalinya kami akan tampil di sebuah konser besar."


Seruan dan tepuk tangan pengunjung menyambut pidato Mia. Marcus pun berseru dengan lantang, hingga membuat Mia melayangkan pandangannya ke lantai atas sekilas, namun sepertinya gadis itu kurang bisa melihat siapa yang ada di sana.


"Lagu ini tentang .. seorang pria bermata biru, yang .. well .. dari yang aku amati sepertinya mata itu menyimpan kesedihan yang luar biasa .. emm .. yeah, something like that," kekeh Mia. Gadis itu meletakkan biolanya dan menggantinya dengan gitar akustiknya. Brandon dengan cekatan membantu mencolokkan kabel jack ke gitar Mia.


"Okay, this is called Behind Blue Eyes," ucap Mia.


Stranger man with his sad eyes


Cold as snow in the winter


A face without smile


With a heart shrouded in misery


I wish I knew what you were feeling


I wish I knew what you've been through


But I know now


you remain a mistery .. to me


Ben mengerenyitkan dahinya. Dia tidak ingin berprasangka, namun lirik lagu itu seperti tertuju padanya. Menohok relung hatinya dengan telak.


"Hey, my eyes aren't blue!" seru Marcus membuat Greg dan Liam tergelak. "Ben, you have those sad blue eyes, jangan - jangan Mia menulis lagu itu untukmu, sial, sial!" makinya kemudian.


Ben hanya tersenyum kecut. Kedua tangannya dilipat di dadanya.


"Why me?" tanya Ben.


"I don't know, kau selalu saja beruntung disukai gadis - gadis dengan potensi yang bagus," sungut Marcus.


"Omong kosong," sahut Ben, lalu menyambar gelas cocktailnya dan meneguknya pelan.


"Come on, Ben .. lihat dia, apa Mia tidak mengingatkanmu pada Laras?" racau Marcus yang mulai terpengaruh alkohol.


"Marc!" seru Greg seraya menyentuh lengan Marcus. Memperingatkan pria itu untuk menghentikan omong kosongnya. Khawatir Ben akan tersinggung dan memulai keributan.


Ben kembali tersenyum kecut. Dia seolah - olah tidak mempedulikan kata - kata Marcus barusan. Namun dalam hati dia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Mia memang mengingatkannya pada Laras. Dia menyadari itu sejak pertemuan pertama mereka di Linden Center. Itu membuatnya tidak nyaman. Ben berusaha menepis semua itu. Namun entah kenapa alam semesta seakan berkata lain. Dia terus saja dipertemukan dengan Mia lewat berbagai cara.


***


LINDEN CENTER, BROOKLYN.


Mia mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar Madame Rose. Dilihatnya wanita itu tengah terbaring di atas ranjangnya. Perawat bilang Madame Rose sedang tidak enak badan, jadi Mia harus mengantarkan makan siang ke kamarnya.


"Rose?" panggil Mia seraya menyentuh lengan wanita itu lembut.


Madame Rose membuka matanya. Senyumnya mengembang ketika melihat seraut wajah manis di hadapannya itu.

__ADS_1


"Hei, cantik," sapanya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mia cemas.


Wanita itu terkekeh. "Aku baik - baik saja, tadi hanya sedikit lemas."


Mia menyiapkan satu piring salad wortel dan roti. Kemudian menuangkan sup kacang di sebuah mangkuk kecil.


"Thank you, Mia," ucap Madame Rose sembari meraih piring yang disodorkan oleh Mia.


"Biar kutemani kau makan siang, aku harus memastikan kau menghabiskannya," gurau Mia membuat wanita itu terkekeh.


"Aku sedang menunggu Ben, dia bilang akan menjengukku, tapi sampai sekarang belum datang juga." Madame Rose menarik nafas dalam - dalam. "Sepertinya dia mulai sibuk kembali," sambungnya.


Mia hanya tersenyum. Dadanya berdebar mendengar nama pria bermata biru itu disebut.


"Ah, itu dia datang!" seru Madame Rose sembari melemparkan pandangan ke arah pintu. Mia menoleh dan melihat Ben yang tengah berjalan ke arah mereka berdua. Senyum pria tampan itu mengembang.


"Hi, Nana," sapanya seraya mencium pipi neneknya itu. "Maaf aku terlambat, ada urusan di studio, you know .. the band stuff. Oh, hi, Mia." Ben memandang ke arah Mia dan melambaikan tangannya. Gadis itu hanya mengangguk.


"Kalau begitu aku permisi, Rose," ujar Mia seraya beranjak dari duduknya.


"Jangan pergi dulu, Mia, kalian berdua bisa temani aku makan, bukan?" tanya Madame Rose. Entah kenapa kali ini Mia ingin mengutuki wanita tua di hadapannya ini.


"Emmm ...." Mia mengelus tengkuknya perlahan.


Madame Rose menarik tangan Mia hingga gadis itu terduduk kembali. Sementara Ben duduk tak jauh darinya, namun lebih dekat ke Madame Rose. Memandang sekilas pada Mia yang tampak gugup.


"Aku dengar bandmu akan tampil di Meadow Festival?" tanya Ben seraya menyuapi neneknya dengan sesendok sup kacang.


Darimana dia tahu?


"Ah, ya, emm ...."


"Semalam aku di Bar Belly," potong Ben memberi jawaban pada keterkejutan Mia.


Oh tidak, artinya dia ....


"Lagumu bagus," kata Ben tanpa melihat ke arah Mia dan fokus pada Madame Rose.


"Ah, emm .. ya, terimakasih." Tenggorokan Mia terasa kering.


"Kau dapat inspirasi dari mana?" cecar Ben.


Mia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah. "Emm .. itu, hanya seseorang yang aku amati."


"Ben, kau membuat Mia gugup," sela Madame Rose.


Mia beranjak dari duduknya. "Rose, sepertinya aku harus kembali pada Chante, kalau tidak dia akan memarahiku," ujar Mia. "Permisi, Mr. Chevalier."


Mia segera melangkah meninggalkan Ben dan Madame Rose yang saling memandang satu sama lain.


"Kenapa dia masih belum memanggilmu dengan nama depanmu?" tanya Madame Rose.


Ben mengedikkan bahunya.


"Mana aku tahu?"

__ADS_1


***


__ADS_2