I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 79


__ADS_3

Laras memandangi punggung Ben dari dekat pintu dapur sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ben tengah sibuk membuat sarapan sepertinya, hingga tak menyadari kehadiran Laras sampai ketika Ben berbalik untuk menaruh isi panci penggorengan yang tengah dipegangnya ke atas piring yang ada di meja makan.


"Owh, hei .. selamat pagi, babe .. apa kau sudah lama berdiri disitu?" tanya Ben dengan senyum lebarnya. "Kau sengaja menontonku memasak ya?"


Laras hanya meringis. Kemudian berjalan ke arah Ben, keduanya saling mengecup bibir sekilas.


"Hmm .. sepertinya enak," ujar Laras sembari melongok isi piring di atas meja. Sup daging sapi yang dicampur dengan kentang, wortel dan jamur.


"Namanya Beef Bourguignon, sup ala Burgundy." sahut Ben sembari menyodorkan sebuah sendok pada Laras. "Cobalah."


Laras mengangguk. Kemudian menyendok makanan yang terlihat menggugah selera itu dan menyuapi diri sendiri. Matanya membulat, lidahnya benar-benar dimanjakan oleh rasa lezatnya.


"This is delicious," ucap Laras.


"Thank you," kata Ben dengan bangga. Laras kembali meringis. Ah, si menyebalkan ini kok sempurna sekali.


Laras melanjutkan makannya hingga piringnya kosong.


"Kau mau jalan-jalan lagi ke danau bersamaku?" tanya Ben. Laras tersenyum dan mengangguk.


"Aku akan mengambil mantelku dulu." Laras beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang dapur.


"Aku akan menunggumu di luar!" seru Ben.


"Okay," sahut Laras dari jauh.


Ben menyambar jaket tebalnya dan melangkah ke luar rumah. Sembari menunggu Laras muncul disapunya pandangan ke sekeliling. Ditariknya nafas dalam-dalam menikmati udara dingin nan segar musim semi Oregon.


Tak lama Laras muncul dari pintu rumah lengkap dengan mantel tebalnya. Rambut hitam panjangnya digerai begitu saja, wajahnya terlihat semakin cantik. Ben menatap kagum wajah Laras beberapa saat, membuat gadis itu mengerenyitkan dahinya.


"Ben?" tanya Laras sembari menggoyangkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan.


"Ah, ya .. sorry, let's go," ujarnya gugup. Lalu menggandeng tangan Laras dan keduanya berjalan pelan menuju ke halaman belakang rumah.


***


"Laras, apakah kau mau jika aku menawarkan padamu untuk pindah ke apartemenku?" tanya Ben. Keduanya tengah duduk di bangku panjang di pinggir danau.


"Kenapa?" tanya Laras, memandang Ben dengan tatapan heran.


"Bukankah lebih menyenangkan kalau kita tinggal bersama?"


Laras tampak berpikir sejenak.


"Tidakkah kau mau hubungan kita ini naik ke level yang lebih serius?" tanya Ben membuat dada Laras berdesir hebat.


"Ma-maksudmu?"


Ben tersenyum. Diraihnya kepala Laras dan dibenamkannya di dadanya. Laras membalas pelukan kekasihnya itu erat.


"I love you so much, Laras," ucap Ben.

__ADS_1


"I love you too ...."


Udara dingin pagi itu begitu menusuk, keduanya semakin merapatkan pelukan mereka. Sesekali saling mengelus dan mengecup bibir.


"Hmm .. Laras, kau tahu, kita sudah saling kenal selama beberapa bulan, tapi kita belum saling menceritakan keluarga kita masing-masing, bukankah itu aneh," kekeh Ben.


"Hmm .. apa yang ingin kau tahu tentang keluargaku?" tanya Laras.


"Semuanya."


Laras memandang ke langit yang tampak cerah. Kemudian menghela nafas dan tersenyum.


"Aku sulung dari dua bersaudara, adikku laki-laki bernama Hara, Hara Janardana Soetodjo, usianya 15 tahun. Ibuku seorang single parent, ayahku meninggal sewaktu aku masih SMA, nama ibuku Dewi, dia seorang dosen di salah satu universitas di Yogjakarta. Dan seperti yang kau tahu, aku mendapat beasiswa S2 di Columbia." Laras menerangkan. "Aku lahir di Yogyakarta, 15 juli 1995, umurku 25 tahun," lanjut Laras sembari terkekeh.


Ben memperhatikan semua ucapan Laras dengan seksama.


"Kau sendiri?" tanya Laras. "Ah, tentu saja aku bisa mencari keterangan tentangmu di wikipedia ya?" seloroh Laras. Ben tertawa renyah mendengarnya.


"Cerita keluargaku sedikit rumit .. hmm ...." Ben menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. Lalu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaketnya. "Aku anak tunggal, ayahku bernama Richard, dan ibuku, tentu kau sudah mengenalnya .. mmm .. aku berhenti berbicara dengan ayahku sejak umur 18 tahun."


Laras menaikkan alisnya. Dilihatnya wajah Ben berubah sendu.


"Aku memutuskan untuk keluar dari rumah orang tuaku pada waktu itu dan berjuang hidup sendiri di Manhattan. Aku tahu aku bisa meminta bantuan Rose, tapi aku pikir akan lebih menantang jika kulakukan semua sendiri."


"Kenapa kau keluar dari rumah orang tuamu, Ben?"


"Ayahku seorang pengusaha properti, sepertinya dia ingin sekali aku mengikuti jejaknya dan meneruskan bisnisnya, tapi aku jatuh cinta dengan musik." Senyum Ben mengembang.


"Entahlah, Richard itu sedikit kolot dan konservatif, sekali dia tidak menyukai sesuatu, susah sekali merubah cara pandangnya. Entahlah kenapa ibuku bisa bertahan dengannya selama bertahun-tahun," kekeh Ben.


Laras menyenderkan kepalanya di bahu Ben.


"Kau hebat," puji Laras.


"Kenapa?"


"Kau mendapatkan semua ini dengan perjuanganmu sendiri, pastinya kau adalah sosok lelaki yang bisa diandalkan."


"Kau bisa mengandalkanku, Laras .. aku akan menjadikanmu wanita yang paling bahagia di bumi."


Ben menghadap ke arah Laras, kemudian menggenggam tangannya erat-erat.


"Pindahlah ke tempatku ya?" pinta Ben.


"Entahlah Ben, sepertinya tempatmu terlalu mewah untukku, aku tidak terbiasa."


"Kalau begitu akan kubelikan kau tempat yang lebih minimalis, asal kau mau tinggal bersamaku."


Laras menghela nafas dalam-dalam. "Aku rasa ini terlalu cepat, berikan aku waktu untuk memikirkannya ya."


Ben menyibakkan anak rambut yang jatuh di dahi Laras, kemudian membelai rambut gadis itu lembut.

__ADS_1


"Okay," ucapnya kemudian.


***


PORTLAND FARMER MARKET.


"Bukankah ini romantis?" tanya Ben sembari melirik Laras yang berjalan di sampingnya.


"Apa?"


"Mengajakmu berbelanja di pasar petani."


"Aku suka." Laras menyunggingkan senyum manisnya. Ben memang beda, dia ini kaya raya, tapi begitu down to earth. Dia selebriti, tapi lihat penampilannya biasa-biasa saja, malah terkesan selenge'an. Namun itu semua malah membuat Laras semakin mengaguminya. Ben ini, sosok yang ideal untuk dijadikan suami. Hah? Suami?


Laras terkesiap ketika tiba-tiba Ben menggandeng tangannya menuju ke penjual sayur dan buah-buahan segar.


"O my God, Benjamin!"


Pekikan seorang wanita membuat keduanya urung berbicara dengan penjual sayur dan buah itu.


Tiga orang wanita muda berlarian ke arah Ben dan dengan heboh memeluknya secara bergantian, membuat pegangan tangan Ben dan Laras terlepas. Laras mundur ke belakang dan memberi ruang pada ketiga wanita itu untuk berinteraksi dengan Ben.


" Hei, Nona .. bisa kau ambilkan foto kami dan Ben?" tanya salah seorang dari wanita muda itu sembari menyodorkan ponselnya pada Laras.


"Sure," jawab Laras sembari menerima ponsel itu. Ben hendak mencegah namun Laras memberi isyarat kalau dia tidak keberatan.


Pengunjung pasar yang akhirnya mengetahui kehadiran seorang Benjamin Chevalier tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto dengan gitaris The Rebellion itu.


Setelah mengambil foto Ben dan fansnya tersebut, Laras kembali mundur dan memperhatikan Ben yang dengan ramah kembali melayani para fansnya itu berfoto dan mengobrol. Sesekali dilihatnya Ben menoleh ke arahnya dan memberi isyarat pada Laras untuk menunggu sebentar, dengan sorot mata yang syarat akan permintaan maaf.


Jumpa fans dadakan itu berlangsung selama lebih dari lima belas menit. Hingga akhirnya Ben berhasil membebaskan dirinya dan segera menggandeng Laras berjalan dengan cepat menuju mobil Ben yang terparkir di pinggir jalan.


"Sial, aku kira kita bisa berbelanja di sana dengan tenang," umpat Ben sembari mengemudikan mobilnya menjauhi tempat itu. "I'm sorry, baby ...."


"It's okay," sahut Laras dengan senyum tipisnya.


"Aku mohon jangan marah ya, sayang."


"Kenapa harus marah?" kekeh Laras.


Ben tersenyum sembari mengelus kepala Laras lembut.


"I love you," ucapnya. "Only you."


Laras menaikkan kedua alisnya heran. "Kau ini kenapa?"


"Nothing, I just wanna say "I love you" everyday."


Laras tertawa geli. Kemudian menggeleng pelan. Dasar Ben memang sukanya berlebihan.


***

__ADS_1


__ADS_2