
HOLLYWOOD HILLS,CALIFORNIA.
Anita memegang selembar kertas yang baru saja dibacanya sembari berjalan mondar mandir di dalam kamarnya yang super mewah.
Angka tagihan sewa rumah mewahnya itu membuat kepalanya berdenyut. Tunjangan dari mantan suaminya tidak cukup untuk membayarnya. Karirnya di Hollywood juga tengah meredup. Satu film terakhir yang dibintanginya berakhir dengan kritikan pedas para kritikus film dan gagal mencetak box office. Padahal modal yang dikeluargan gila-gilaan.
Anita terduduk di sofa empuknya. Memijit-mijit keningnya dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. Apa yang akan dikatakan media, teman-teman sosialita dan juga teman-teman sesama aktrisnya jika dia sampai ditendang dari rumahnya karena tidak bisa membayar sewa. Tidak, tidak, Anita tidak sanggup membayangkan betapa malunya dia nanti.
Benjamin, satu-satunya solusi adalah mantan pacarnya itu, dia pasti bisa membantu permasalahannya dengan mudah. Lelaki itu punya banyak uang. Dan bukankah mereka kembali dekat akhir-akhir ini, walaupun belum ada status apapun.
Anita tersenyum tipis. Mendekati Ben kembali adalah perkara mudah, memang sejak awal dia berniat untuk menjalin hubungan kembali dengan Ben. Dua keuntungan akan didapatnya sekaligus. Cinta dan juga uang.
Aku akan menghabiskan akhir pekan minggu ini di Manhattan, apa kau mau menemaniku?
Begitu pesan yang dikirim Anita melalui ponselnya kepada Ben. Anita menanti jawaban dengan dada berdebar.
Sure, why not.
Jawaban Ben membuatnya lega. Senyum tipis tersungging di bibir merahnya. Wanita bermata hijau zamrud itu lega.
See you soon, then. Ketiknya.
Satu balasan pesan dari Ben hanya berupa emotic peluk. Namun mampu membuat hati wanita dengan postur tubuh semampai itu berbunga-bunga.
Dihempaskannya tubuh rampingnya ke sofa.
Diraihnya segelas wine yang ada di atas meja di sampingnya. Kemudian meneguknya hingga gelas itu pun kosong.
***
Ben menghentikan mobilnya di depan McFadden's Saloon. Bar yang tidak terlalu besar itu belum begitu ramai. Ben melangkah masuk. Suasana di dalam bar terlihat sepi, hanya ada beberapa orang tua saja yang tengah menikmati minuman mereka.
Seperti biasa, Larry, sang pemilik bar menyambut kedatangannya. Ben diantarkan ke tempat duduk khusus VIP.
Ben menyapu pandangannya ke penjuru ruangan, tak nampak Laras di mana-mana.
Hanya dilihatnya rekan kerja Laras, seorang gadis bernama Meghan yang tengah tersenyum ke arahnya. Ben hanya melambaikan tangannya.
Hey, gadis itu muncul, pekik Ben dalam hati.Sepertinya dia baru dari toilet. Larry berbicara sebentar dengannya dan menunjuk ke arah meja Ben. Wajah Laras sedikit kaget melihat lelaki itu. Dengan wajah lesu Laras menyambar buku menu dan buku catatan kemudian berjalan ke arah Ben.
Mencoba profesional, Laras tersenyum ke arah Ben dan menanyakan apa yang akan di pesannya.
"Hey Laras, kau tampak pucat." Alih-alih menjawab Laras, Ben justru menanyakan keadaan fisiknya.
__ADS_1
Laras menghela nafas. "Jadi, kau mau pesan apa?" tanya Laras kembali. Mengabaikan pertanyaan Ben.
"Duduklah di sini." Ben menepuk sofa di sampingnya.
"Sorry Ben, aku sedang bekerja," timpal Laras dingin.
"Ayolah." Ben menarik tangan Laras hingga gadis itu terduduk di sampingnya. Lelaki itu menahannya hingga susah untuk bangkit.
"Kau akan membuatku di pecat!" seru Laras sembari melihat ke arah Larry. Lelaki berusia 40an itu tersenyum jahil ke arahnya. Justru menyuruh Meghan untuk mencatat pesanan Ben. Sinting, pekik Laras dalam hati.
"See,boss mu saja tidak keberatan," ujar Ben terkekeh.
Satu botol whiskey yang cukup mahal bersama dua buah gelas sloki dibawa Meghan ke meja Ben.
"Larry menyuruhmu menemani Mr.Chevalier minum," kata Meghan seraya mengedipkan sebelah matanya.
Apa? Sejak kapan karyawan di bar ini bisa menemani tamu minum, batinnya. Wajahnya terlihat kesal.
"I miss you," ucap Ben seraya menenggak satu sloki whiskeynya.
Laras mendesis. Apa mau Ben sebenarnya.
Kenapa dia selalu bersikap manis kepadanya,
"Tidak usah bercanda terus denganku, Ben,"
ujarnya kemudian
"Aku tidak sedang bercanda, I miss you, Laras." Ben memandang Laras dengan tatapan mata sayu. Alkohol mulai memperngarui bahasa tubuhnya.
"Simpan saja rasa rindumu untuk wanita-wanitamu itu. Atau untuk cinta lamamu yang tumbuh kembali itu." Laras tersenyum getir.
Ben terkekeh. Apakah gadis ini sedang cemburu? Ben memandang Laras dengan senyuman manisnya.
"Kau sudah melihat beritanya rupanya,apa kau cemburu?" tanya Ben, raut wajah Laras berubah gugup.
"Sama sekali tidak!" elak Laras. "Aku hanya tidak suka kau mengobral rayuanmu kepada semua wanita, tidak semua wanita bisa jatuh dalam pelukanmu dengan mudah, wake up,
Ben, kau pikir karena kau punya segalanya,
wajah tampan, uang, kepopuleran, kau bisa memperlakukan wanita seenak jidatmu? Well, tidak akan berlaku untukku, Ben!"
Laras bangkit dari duduknya. Lega sekali bisa menumpahkan kemarahannya terhadap lelaki itu. Gadis itu menghela nafas dalam-dalam,
lalu meninggalkan Ben yang tercengang mendengar kata-katanya.
__ADS_1
Untuk selanjutnya Laras membiarkan Ben yang terpekur di mejanya menghabiskan botol whiskey yang dipesannya itu. Laras melakukan aktifitas seperti biasa tanpa mempedulikan lelaki itu. Yang sekali-kali mencuri-curi pandang ke arahnya.
Jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Laras memakai mantel tebalnya dan bersiap untuk pulang. Ben masih terlihat duduk di tempatnya. Laras menghela nafas, apa lagi maunya, batinnya.
Ben memberikan tips yang cukup banyak kepada semua karyawan dan selalu membayar lebih dari minuman yang di pesannya. Tentu saja hal itu membuat Larry girang setiap kali Ben datang.
Laras melangkah keluar dari bar. Tentu saja Ben bergegas mengejarnya. Gadis itu benar-benar jengkel dibuatnya.
"Apa lagi?" tanya Laras dingin.
"I'll walk you home," sahut Ben.
"Tidak pelu, bisa kau tidak menggangguku?aku lelah!"
Laras hendak berlalu, namun Ben menahan tangannya. Laras menepis genggangan tangan Ben namun lelaki itu malah menariknya ke dalam pelukannya . Berusaha untuk menciumnya. Laras berusaha untuk mendorong tubuh lelaki itu namun cengkeramannya begitu kuat.
"Sudah aku bilang untuk menjauhi Laras, brengsek!"
Satu pukulan tiba-tiba mendarat di wajah Ben.
Lelaki berambut perak itu tersungkur.
Laras tercekat. Greg. Kapan dia datang?
Ben berusaha bangkit dengan berpegangan tangan pada tiang yang berada tak jauh darinya. Mengusap darah yang mengalir di hidungnya. Memandang Greg tak percaya.
"******** kau, Greg!" seru Ben yang tersulut emosinya dan mencekal kerah baju Greg.
Laras terpekik. Ditahannya kedua dada lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Hentikan atau aku telpon 911!" seru Laras.
Kedua lelaki tampan itu saling tatap dengan nafas memburu. Rupanya keributan itu mengundang beberapa orang yang masih berada dalam bar untuk melihat. Termasuk Larry. Salah satu pengunjung bahkan ada yang mengabadikan kejadian itu dengan ponselnya. Sudah tentu esok akan menjadi isyu hangat di media.
Laras menatap kedua lelaki itu secara bergantian, kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan langkah yang cepat.
"Laras!" panggil keduanya secara bersamaan.
"Leave me alone!"
Laras berseru tanpa menoleh ke belakang.
Melanjutkan langkahnya hingga menghilang di balik gedung-gedung Tudor City.
***
__ADS_1