
"See? Membuka hati tidak sesulit yang kau bayangkan," ujar Laras sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Membuka hati? Apa maksudmu?" tanya Ben heran.
Laras tersenyum. Memiringkan wajahnya sembari melayangkan pandangannya pada Ben yang tengah duduk di tepian ranjang.
"Kalau yang kau maksud pada Mia, tidak, tidak, kau salah paham," sangkal Ben.
Laras terbahak. Didekatinya Ben yang tengah memasang wajah masamnya. Lalu duduk di sebelahnya.
"It's okay, Ben," ucap Laras di sela - sela tawa renyahnya. "Justru aku merasa senang."
Ben menghela nafas berkali - kali lalu menoleh ke arah Laras. "Kau tahu, dia terlalu mengingatkanku padamu, aku bingung mengartikan perasaanku sendiri. Hatiku telah penuh olehmu, Laras."
Laras menggeleng pelan. "Ben, everybody is different."
"Kalau begitu aku tidak menginginkan siapa - siapa kecuali dirimu." Ben menatap Laras lekat - lekat. "Damn, Laras .. why did you have to go!!" serunya.
.
.
Ben membuka matanya dengan berat. Meletakkan lengannya di atas keningnya, lalu melirik ke arah jam dinding.
"Oh, s**t!" makinya ketika menyadari jam telah menunjukkan pukul 10.30. Artinya dia akan terlambat datang ke Linden Center.
Ben melompat dari tempat tidurnya secepat kilat dan menghambur ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian pria itu keluar dengan rambut basah dan handuk terlilit di pinggangnya. Diambilnya pakaian sembarang sambil berlarian menyiapkan sepatunya.
Kemeja kotak - kotak berwarna cokelat dipadu dengan sweater hitam, celana jeans, sepatu boot setinggi mata kaki, dan tak lupa mengikat rambutnya sembarang.
Ben melihat dirinya sekilas di cermin, lalu setengah berlari menuju studionya untuk mengambil gitarnya.
***
"Kemana anak itu?" gerutu Madame Rose sembari melirik jam di tangannya.
Suasana ruangan yang biasanya dipakai berkumpul pasien panti werdha untuk melakukan kegiatan seperti mengobrol antar penghuni, menonton film bersama dan sebagainya, tidak begitu ramai. Sue hanya mengundang beberapa teman dekatnya yang berjumlah 10 orang, termasuk John, lelaki berambut putih dengan kaca mata rantainya, menjadi satu - satunya lelaki yang ada di sana. Ada beberapa suster jaga yang juga berada di dalam ruangan itu bertugas untuk mengawasi.
Mia masih memainkan piano dengan list lagu klasik untuk menunggu acara di mulai. Sesekali diliriknya Madame Rose yang tampak gelisah. Bergantian melihat jam tangannya dan pintu masuk.
"Benjiiii!!" pekik salah seorang di antara mereka. Membuat seisi ruangan menoleh ke arah pintu di mana seorang pria dengan senyum menawannya melangkah sembari melambai kepada para lansia itu.
"Sorry, girls .. I'm late," ucap Ben sembari memasang wajah bersalahnya. Membuat para nenek itu bertambah gemas.
Ben mencium pipi Madame Rose sekilas lalu bejalan ke arah Mia yang tengah mempersiapkan biolanya.
"Hi, Mia," sapanya seraya meletakkan tas gitar yang digendongnya.
"Hi, Mr. Chevalier," sahut Mia gugup.
Ben memperhatikan sekelilingnya. Stage kecil yang sudah didekorasi sedemikian rupa, dominan warna merah kesukaan Sue, lengkap dengan tiga amplifier Mcintosh, dua stand mic dan satu stand lyric. Senyum pria itu mengembang. Kemudian gerakan tangannya mengeluarkan gitar dari hardcase. Memasang jack wirelessnya, kemudian mencoba sound gitarnya.
Dada Mia berdesir memperhatikan gerak - gerik Ben menjajal peralatannya. Pria itu benar - benar terlihat,
Seksi.
Mia menelan ludahnya dengan susah payah. Masih memperhatikan Ben yang memunggunginya. Tubuh atletis itu terbungkus kemeja kotak - kotak berwarna cokelat dengan celana jeans biru. Dan rambut pirangnya yang diikat asal,
Aku suka gaya rambutmu. Suka sekali.
Mia berdehem pelan demi melicinkan tenggorokannya yang kering.
"Voila!" ucap Ben setelah selesai mengatur gitar dan amplinya. Lalu menoleh ke arah Mia yang masih mematung.
"Mia? Kabelnya," kata Ben seraya mengulurkan tangannya hendak meraih kabel jack di tangan gadis itu.
__ADS_1
"Oh, iya, sorry," ucap Mia tergagap. Diberikannya kabel di tangannya pada Ben. Pria itu membantunya mencolokkan ke dalam ampli yang dikhususkan untuk biolanya.
Bahkan dia tidak keberatan membantu mengatur segala sesuatunya. Seorang Rock Star ternama seperti dia. Sungguh tak dapat dipercaya. Ini mimpi ataukah nyata?
"Sudah siap." Suara Ben membuyarkan lamunan Mia.
"Thanks," ucap Mia lirih.
Ben tersenyum. Kemudian berdiri dan menghadap ke microphone.
"Sue," panggil Ben dengan pengeras suara.
Sue dan yang lainnya yang tengah berbincang serentak menoleh ke arah Ben dan Mia di atas panggung.
"Happy birthday," ucap Ben membuat Sue tersenyum - senyum karena digoda oleh teman - temannya. "Sudah dapat kuenya?" tanya Ben kemudian.
Sue segera meraih nampan berisi rainbow layer cake dengan lilin angka 73 yang menyala, dan menunjukkannya pada Ben.
"Tiup lilinnya, Sue," kata Ben.
Sue segera meniup lilin dan disambut sorak sorai oleh teman - temannya termasuk Madame Rose. Sebuah ciuman dari John mendarat di kening Sue. Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan dibarengi dengan sorakan dari para lansia itu.
"Sudah bisa kumainkan lagunya?" tanya Ben.
"Yes, Sweetheart," sahut Sue.
Ben menoleh ke arah Mia yang berdiri di belakangnya dan mengisyaratkan pada gadis itu untuk maju.
"Mia, berdiri di sampingku," kata Ben yang melihat Mia masih berada beberapa senti di belakangnya.
Dada Mia kembali berdesir. "Don't be nervous." Senyum Ben hampir mengacaukan kosentrasinya.
Lagu pertama yang Ben dan Mia mainkan adalah Unchained Melody. Begitu merdu, begitu romantis. Sue dan John mulai berdansa. Madame Rose duduk tak jauh dari mereka di atas kursi rodanya. Perhatiannya tertuju pada Ben dan Mia di atas panggung. Wanita itu tersenyum. Kegembiraan jelas terlihat di wajah rentanya.
Mia meletakkan biolanya dan berjalan menuju ke arah upright piano tak jauh darinya. Ben mengambil microphone dari standnya, dan membawa serta stand lyric bersamanya. Lalu mengikuti Mia dan berdiri di samping piano. Ben mengangguk ke arah Mia, mengisyaratkan untuk memulai lagunya.
Look into my eyes
You will see
What you mean to me
Search your heart
Search your soul
And when you find me there
You'll search no more
Don't tell me it's not worth tryin' for
You can't tell me it's not worth dyin' for
You know it's true
Everything I do
I do it for you
Look into your heart
You will find
There's nothin' there to hide
__ADS_1
Take me as I am
Take my life
I would give it all
I would sacrifice
Don't tell me it's not worth fightin' for
I can't help it, there's nothin' I want more
You know it's true
Everything I do
I do it for you
There's no love
Like your love
And no other
Could give more love
There's nowhere
Unless you're there
All the time
All the way, yeah
Look into your heart, baby
Oh, you can't tell me it's not worth tryin' for
I can't help it, there's nothin' I want more
Yeah, I would fight for you
I'd lie for you
Walk the wire for you
Yeah, I'd die for you
You know it's true
Everything I do
Oh, I do it for you
"Tepuk tangan untuk Mia," ujar Ben seraya tersenyum pada Mia yang tersipu malu. Pria itu meraih telapak tangan Mia dan meremasnya pelan. "Good job," bisiknya.
Gadis itu seakan ingin pingsan saja. Sentuhan tangan Ben sungguh bagaikan aliran listrik yang menyengat kulitnya.
Somebody please slap me!
***
Hanya mengingatkan kalau penampakan Ben begini ya 😁
__ADS_1