
Laras duduk menatap makan siangnya di sebuah ruangan khusus karyawan restauran beristirahat. Tarté A la Tomate. Semacam pie yang berbahan dasar buah tomat yang dominan. Gadis itu merenggangkan otot jemarinya sejenak kemudian menyambar sendoknya dan mulai melahap isi piringnya itu.
"Can I join you, Laras?"
Laras mendongak dan mendapati Stephane tengah berdiri di seberang mejanya sambil membawa piring makan siangnya.
"Owh .. sure," jawab Laras. Lelaki bermata abu-abu dan berjambang tipis itu tersenyum dan mengucapkan merci seraya duduk di hadapan Laras. Gadis itu melirik piring Stephane sekilas. Menu yang sama.
"T'es très belle, Laras," ucap Stephane sembari menatapnya lembut membuat Laras merasa canggung. Potongan tomat yang sedang dikunyahnya seketika sulit untuk di telan.
"Thanks, Mr Jourdain," jawab Laras lirih. Rasanya ingin segera menghabiskan makan siangnya dan pamit dari hadapan lelaki itu.
"Do you have any program tonight?" tanya Stephane dengan logat Perancisnya yang kental.
Sial. Lelaki ini pasti ingin mengajaknya keluar malam ini, dan Laras bingung mencari alasan untuk menolaknya.
"Mungkin aku bisa mengajakmu keluar malam ini?"
See? Laras memutar otaknya dengan cepat.
"Sebenarnya temanku mengajakku nonton konser musik malam ini."
"Owh .. it's too bad .. well, maybe next time," ujar Setphane menelan kekecewaan.
"Sorry, Mr Jourdain."
"No problemo." Stephane memasang senyum termanisnya. Namun tak mampu menciptakan debar apapun di hati Laras.
Piring Laras telah kosong, gadis itu menarik nafas lega. Tanpa pikir panjang Laras segera berpamitan kepada Stephane untuk melanjutkan pekerjaannya. Lelaki itu menangguk dan hanya bisa memandangi punggung Laras yang menghilang di balik pintu. Stephane tersenyum miring, semakin penasaran saja dengan sosok gadis asia yang sulit sekali untuk didekati itu.
***
"Wah .. si Stephane emang naksir berat sama kamu, Ras," celetuk Maya dilanjutkan dengan kekehannya. Rupanya Maya melihat bosnya itu mendekati Laras.
Laras yang tengah membersihkan piring-piring kotor yang menumpuk menoleh ke arah Maya dan mencipratkan air dari jemarinya ke arah gadis itu. Maya mengaduh pelan.
"Bodo ah!" ujar Laras. Lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Kenapa sih gak diiyain aja, Ras .. apa sih kurangnya dia? Ganteng iya, romantis iya, baik iya, banyak duit iya," gumam Maya.
"Gak tahu," sahut Laras. "Buat kamu aja sana May," kikik Laras kemudian.
"Yee .. orang dia sukanya sama kamu!"
__ADS_1
Laras mengedikkan bahunya. Mungkin hatiku sudah penuh dengan seseorang. Laras tersenyum mengingat semalam Ben tidur di sofa apartemennya, tanpa mengganggunya sama sekali. Walaupun itu membuatnya heran. Ben yang dulu mesum padanya, main sosor, tindih dan sebagainya, kini memperlakukannya dengan sangat sopan. Ada apa dengan Ben ya?
"Woiii .. ngelamunin sapa sih," goda Maya yang merasa diacuhkan oleh Laras. Gadis itu terkekeh.
"Lagi mikir .. kapan bisa mudik ke indo ya?" jawab Laras sekenanya.
"Kumpulin ini dulu lah ...." Maya menggesek- gesekkan ibu jari dengan jari telunjuknya.
Laras meringis. Teringat uang yang ditransfer Ben, yang baru dipakainya untuk menambahi sewa apartemennya dan akomodasi ke Wichita saja. Seharusnya uang itu cukup untuk membiayai hidupnya di New York selama beberapa bulan atau mungkin tahun, namun Laras merasa tidak enak hati untuk mempergunakannya. Lagian Ben bukan siapa-siapanya, atau belum menjadi siapa-siapanya. Entahlah, kepala Laras mendadak berdenyut.
"Hey .. ni anak ngelamun mulu, kesambet ntar loh!" seru Maya mengagetkan Laras.
Laras mendesis. "Kesambet setan apaan di New York?"
"Setan ganteng noh dari Perancis." Maya memajukan dagunya ke arah Stephane yang tengah duduk di mejanya sembari melambai ke arah Laras. Gadis itu menganggukkan kepala kepada lelaki itu. Kemudian memelototi Maya yang cengengesan.
"Nggak sopan!" hardik Laras.
***
Laras menghentikan langkahnya keluar dari Boucherie ketika dilihatnya Stephane berdiri menghadangnya. Sepertinya lelaki itu juga sudah bersiap-siap untuk pulang. Maya menyenggol lengan Laras dengan senyum jahilnya.
"Mau kuantar pulang?" tanya Stephane.
"Aku duluan ya, Ras .. see you tomorrow, Mr Jourdain," ujar Maya seraya mencubit lembut lengan Laras dan mengangguk ke arah Stephane. Laras mengutuk gadis itu dalam hati.
"Ayolah Laras, please," pinta lelaki itu setengah memohon sembari memegang pergelangan tangan gadis itu. Laras yang merasa jengah berusaha menarik tangannya dengan pelan. Dia benar-benar bingung bagaimana menolak tawaran lelaki itu.
Sebuah mobil Range Rover Evoque berwarna hitam berhenti tak jauh dari mereka. Laras mengerenyitkan dahinya. Sepertinya dia kenal dengan mobil itu. Dadanya berdebar seketika. Dengan segera ditepisnya pelan tangan Stephane yang masih memegangi pergelangan tangannya.
Ben turun dari mobilnya dengan wajah tegang lalu mendekati Laras dan Stephane. Pandangannya tajam ke arah lelaki berdarah Perancis itu. Laras menahan nafasnya. Berdoa dalam hati semoga Ben tidak melakukan hal-hal buruk.
"Owh .. Mr Chevalier, désolé .. we're closed," ujar Stephane dengan ramah. Tentu saja dia mengenal siapa Ben.
"Aku mau menjemput Laras," kata Ben dengan tenang. Namun mampu membuat Stephane terperangah. Lalu memandang Laras dan Ben secara bergantian. Seakan tak percaya kedua orang ini saling kenal.
Ben tersenyum ke arah Laras. "Ayo, baby," ujarnya sembari menggandeng tangan gadis itu. Kini giliran Laras yang terperangah. Ben memanggilnya apa barusan?
Keduanya berjalan meninggalkan Stephane yang berdiri mematung dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
***
"Kau yakin betah bekerja di sana? Berdekatan dengan pria genit itu?" tanya Ben pada Laras ketika keduanya telah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Ben mengemudikan mobilnya pelan meninggalkan area West Village, tempat restauran Boucherie berada.
Laras menghela nafas dalam-dalam. "I need that job, Ben," ujar Laras. "Lagi pula dia masih dalam kategori sopan."
Terdengar Ben mendengus kesal. "Berapa biaya kebutuhanmu dalam sebulan, Laras?"
"A lot." jawab Laras singkat.
"Maaf aku harus mengatakan ini .. kau tahu bukan, mencukupi kebutuhanmu itu adalah hal yang sangat mudah bagiku."
"Ben, kau juga tahu bukan aku tidak mau mengandalkan orang lain."
Ben mengacak rambutnya kasar dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih memegang kemudi. Wajahnya tampak serius, atau mungkin kesal. Keduanya terdiam hingga sampai di area Tudor City tempat Laras tinggal.
Ben menghentikan mobilnya di depan lobby gedung apartemen Laras.
"Thanks, Ben ...." Laras memandang Ben yang menatap lurus ke depan dengan ekpresi wajah muramnya itu. Lelaki itu hanya diam saja.
"Ben? Are you okay?" tanya Laras. Memperhatikan si gitaris flamboyan itu lekat.
"Yeah," jawab Ben sembari menoleh ke arah Laras sekilas.
"Apa kau marah?"
"A little."
Ponsel Ben bergetar, lelaki itu segera memeriksanya.
"Yeah, I'll be there in a minute!" serunya. Sepertinya yang menelponnya adalah Jack sang menejer, menyuruh Ben agar cepat datang ke studio. "Grumpy assh**e!" umpatnya setelah menutup telponnya.
"Terimakasih untuk tumpangannya, Ben." Laras hendak beranjak keluar. Ben hanya mengangguk. Lalu tersenyum tipis. Laras menunggu beberapa saat apa yang akan dilakukan Ben, namun lelaki itu tak bergeming.
"Well, see you then." Laras memandang ke arah Ben yang tetap dengan ekspresi muka seriusnya dan lelaki itu kembali hanya mengangguk. Laras memaki dirinya dalam hati. Sekilas dia mengharapkan Ben mendaratkan ciuman di bibirnya sebelum beranjak keluar dari mobil.
Bodoh!
Laras menatap mobil Ben yang mulai menjauh. Hatinya tiba-tiba menjadi tak menentu. Apa Ben marah padanya karena melihatnya dengan Stephane? Atau ada hal lain yang membuat suasana hatinya menjadi buruk? Laras menghela nafas berkali-kali. Kemudian dengan gontai melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya.
***
Catatan Penulis :
T'es très belle ~ Kau sangat cantik
__ADS_1