I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 33


__ADS_3

"Kenapa sih Ben, kamu selalu saja kasih aku harapan tapi nggak lama kemudian kamu patahkan lagi."


Laras bergumam sendiri di depan cermin di atas wastafel kamar mandinya. Dibasuhnya wajah lelahnya dengan air. Gadis itu termangu memandang bayangannya sendiri di dalam cermin.


Laras beranjak keluar dari kamar mandi dan terduduk di sofa. Gadis itu menghela nafas dalam-dalam. Bayangan wajah Ben dan aktris hollywood itu membuat dadanya nyeri.


"Apa sih maumu Ben!" ujar Laras seraya mendongakkan wajahnya menatap langit-langit apartemennya. Lelaki itu datang sesuka hati, mempermainkan perasaan Laras yang telah terlanjur jatuh cinta padanya.


Laras menyambar ponsel yang ada di atas meja. Lalu mengutak-atiknya sebentar.


Terdengar suara dering telepon tersambung.


Lama Laras menunggu dan tak kunjung ada jawaban di seberang sana. Laras menghela nafas. Kemudian mematikan panggilannya.


Gadis itu memejamkan matanya. Dia benar-benar kacau. Memikirkan malam ini pastilah Ben tengah bersenang-senang dengan wanita itu, dadanya terasa sesak.


Dering telpon membuatnya terkesiap. Laras segera memeriksa layar telepon. Nama Greg tertera.


"Hey Laras, maaf aku tidak mendengar teleponmu tadi, aku baru selesai rehearsal."


Suara Greg di seberang sana.


Rehearsal? Itu artinya Ben juga di sana. Sayup-sayup terdengar seorang wanita dengan suara manja tengah berbincang.Dada Laras berdegup. Pastilah Anita yang tengah menemani rehearsal Ben.


"Helloo .. Laras .. are you there?"


Laras tersentak. Ditelannya ludahnya dengan berat.


"Ah Greg .. apa, aku mengganggu?" tanya Laras gugup.


"Not at all .. aku bilang aku baru selesai rehearsal, aku senang kau menelponku, Laras."


"Mungkin kau bisa mengajakku ke club atau bar malam ini, aku benar-benar sedang butuh udara segar," ujar Laras.


"Ah sebenarnya Ben dan yang lain mengajakku minum malam ini, tapi .. Ben bersama ...."


Greg tak melanjutkan perkataannya. Laras mengerti. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam.


"Bisa kau mengajakku bergabung dengan mereka?" tanya Laras dengan mantap.


"Sure .. but .. if you don't feel okay about it, I can take you to somewhere else."


"Tidak perlu, Greg, I'm gonna be fine, jam berapa kau akan menjemputku?"


"In 30 minutes."


Laras menutup telponnya. Gadis itu tersenyum miring. Baru saja terbersit sebuah rencana untuk mengerjai Ben. Apa kira-kira reaksi lelaki itu jika melihat Laras dan Greg begitu intim nanti. Maafkan aku Greg,batinnya. Laras tidak ingin menjadi pecundang. Meratapi nasibnya di apartemen sempitnya dengan perasaan yang hancur.


Dikenakannya sebuah dress berwarna hitam dengan panjang di atas lutut. Rambut hitamnya tergerai begitu saja. Sementara wajahnya hanya ditutup dengan riasan tipis.


Tidak glamor, namun cantik. Tak lupa sepatu boot hitam pendek menambah cantik penampilannya.

__ADS_1


Terdengar ketukan di pintu apartemennya.


Laras bergegas membukanya. Wajah Greg tersembul dan menyunggingkan senyum kekagumannya terhadap penampilan Laras.


"Wow .. you look beautiful," puji Greg.


Laras hanya tersenyum. "Shall we?" tanya Laras seraya melingkarkan lengannya di lengan Greg. Kemudian keduanya turun menggunakan lift.


***



PAUL'S COCKTAIL LOUNGE


Laras berjalan mengikuti Greg menuju ke arah meja yang telah di pesan. Terlihat Marcus dan Liam dengan wanita-wanita mereka masing-masing. Dada Laras berdegup kencang ketika melihat Ben dan Anita yang duduk berdampingan.


"Hey .. kau pelayan restauran tadi siang bukan?" tanya Anita dengan tatapan sinisnya.


Seakan-akan ingin membuat Laras berkecil hati dan merasa tidak pantas bergabung dengan kalangan selebritis.


Laras menimpali ucapan Anita dengan senyum. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan wanita itu. Ben memandang Laras tak berkedip. Namun gadis itu mengacuhkannya dan sibuk menyapa Marcus dan Liam serta berkenalan dengan wanita-wanita yang mereka bawa.


Anita bergelanyut manja di pundak Ben sembari menyodorkan sesloki whiskey kepadanya. Sesekali dicurinya pandang ke arah Laras yang tengah mengobrol dengan pacar Liam dan Marcus. Greg duduk di samping Laras, tangan gadis itu menggenggam tangannya. Membuat Greg terkejut. Sepertinya Laras tengah memintanya untuk memberi gadis itu kekuatan.


Raut muka Ben seketika berubah dingin. Hatinya berkecamuk. Ingin rasanya merebut tangan Laras dari genggaman sahabatnya itu.


"Are you okay, honey?" tanya Anita yang sedari tadi memperhatikannya. Wanita itu menyadari perubahan sikap Ben sejak kedatangan gadis itu. Perubahan sikap yang sama seperti tadi siang di restauran.


Diliriknya Laras yang juga tengah meneguk whiskeynya. Wajah cantiknya merona merah.


Sepertinya gadis itu sedang terlibat obrolan seru dengan Marcus, Liam dan kedua pacarnya. Sesekali tawa gadis itu pecah. Manis sekali, batin Ben.


"Hey let's dance!" Seru Marcus sembari menggandeng pacarnya dan turun ke lantai dansa. Diikuti dengan Liam dan pacarnya.


Greg memandang Laras dan mengulurkan tangannya. Laras tertawa melihatnya.


Lalu menyambut uluran tangan Greg dan keduanya kini telah bergabung dengan Marcus dan Liam.


"Come on honey!" Anita menggandeng tangan Ben, mengajaknya ke lantai dansa.


Wanita itu memeluk Ben sembari meliuk-liukkan badannya. Namun pandangan mata Ben hanya tertuju kepada Laras yang tengah berjoget dengan riangnya mengikuti dentuman musik. Sesekali Greg menjaga keseimbangan tubuh Laras yang mulai sedikit sempoyongan.


Semakin malam, alunan musik berubah menjadi lebih syahdu. Terlihat beberapa pasangan termasuk Marcus dan Liam tengah berdansa romantis dengan pacar masing-masing.


Ben menoleh ke arah Anita yang sudah duduk kembali di kursi sembari menghabiskan whiskeynya. Kemudian melangkah ke arah Laras yang tengah memeluk Greg sembari bergerak pelan kesana kemari mengikuti alunan musik yang syahdu.


"Bisa aku pinjam Laras sebentar," ujar Ben.


"She's drunk," kata Greg sembari mengelus punggung Laras lembut. Greg melepaskan pelukan Laras pelan. Gadis itu membuka matanya.


"I need to go to toilet," pamitnya. Kemudian berlalu.Laras terlihat bingung.

__ADS_1


"Hey, mau berdansa denganku?" Ben meraih tangan Laras dan menariknya ke dalam pelukannya, tanpa menunggu jawaban Laras.


Laras terkejut. Namun gadis itu tak kuasa menolak. Kepalanya sedikit pusing karena pengaruh alkohol. Hingga tak terasa gadis itu membalas pelukan Ben dengan erat. Ah pelukan hangat yang membuat Laras nyaman.


Ben memegang tangan Laras kemudian mengalungkannya di lehernya. Membuat wajah Laras mendongak ke arahnya. Tanpa pikir panjang lelaki itu mencium bibirnya dengan lembut dan dalam. Laras membalas ciuman Ben tak kalah dalamnya.


Marcus dan Liam yang melihat pemandangan itu terbelalak kaget. Wajah keduanya tampak bingung. Sementara Greg yang telah kembali dari toilet hanya melihat keduanya dari jauh.


"Ternyata kau memang ada hubungan dengan pelayan ini!"


Anita berseru. Menjambak rambut Laras dan menjatuhkan gadis itu ke lantai. Laras yang kebingungan dan juga kesakitan hanya terduduk di lantai. Serontak membuat orang-orang yang berada di lantai dansa memfokuskan perhatian mereka pada sumber keributan.


"Pelayan rendahan, kau pikir kau siapa!" Anita yang berada di bawah pengaruh alkohol kembali menjambak rambut Laras dan menariknya. Laras yang setengah sadar meringis kesakitan.


"Anita .. stop that!" Ben melepaskan cengkraman tangan Anita dan berusaha melindungi Laras dalam pelukannya.


Liam dan Marcus menahan tangan Anita yang hendak kembali menyerang Laras.


Wanita itu meronta-ronta, namun karena pengaruh alkohol yang tinggi akhirnya wanita itu terkulai lemas kelelahan.


"Bisa tolong kalian antarkan Anita ke hotel?"


tanya Ben pada Liam dan Marcus.


"Aku akan mengantarnya," kata Greg. "Kau bisa antar Laras?" tanya Greg.


Ben mengangguk. Kemudian membobong tubuh mungil Laras keluar menuju ke parkiran mobilnya.


"Are you okay?" tanya Ben sembari mengelus rambut Laras.Keduanya telah berada di dalam mobil.


"Hmmm," jawab Laras dengan mata terpejam.


Ben mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.


***


"Mr Chevalier .. siapa lagi ini?" tanya seorang perempuan pelayan ketika membukakan pintu untuk Ben yang tengah menggendong seorang perempuan.


"Pacarku, Rosita .. bisa kau siapkan segelas air hangat?"


Perempuan berumur 40 an itu hanya tersenyum. Kemudian bergegas menyiapkan air hangat yang diminta majikannya itu.


Ben membaringkan Laras di atas ranjangnya yang empuk. Dipandanginya wajah Laras yang memerah. Matanya masih tertutup.


"Ini air hangatnya Mr Chevalier." Suara Rosita membuatnya terkesiap.


"Letakan di atas meja, Rosita," kata Ben tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Laras.


Beberapa saat kemudian terdengar pintu kamarnya tertutup. Ben membuka bajunya dan hanya mengenakan celana dalamnya saja. Kemudian berbaring di samping Laras.


Dikecupnya kening gadis itu dan ditariknya selimut hingga menutupi tubuh Laras hingga ke leher. Kemudian Ben perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2