I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 94


__ADS_3


TRINITY CHURCH CEMETERY, MANHATTAN, NEW YORK CITY.


"Hei, babe .. apa kabar?"


Ben meletakkan setangkai mawar merah di depan sebuah nisan yang terlihat seperti batu prasasti kuno.


...In loving memory of daughter, wife, mother, and sister :...


...TUNGGADEWI LARASATI CHEVALIER...


Ben membuka kacamata hitamnya kemudian mengelus batu nisan yang sedikit tertutup salju itu pelan.


"Aku masih marah padamu karena meninggalkanku begitu saja, Laras, kau harus tahu itu," kekeh Ben.


Ditariknya nafas dalam - dalam. "Daren sangat bersemangat belajar biola, well, aku rasa darah musisi mengalir deras dalam tubuhnya." ujarnya bangga. Angin berhembus tipis menerbangkan anak - anak rambutnya.


"I miss you, Laras .. so much," ucapnya lirih. Dipejamkannya kedua mata beberapa saat.


"Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, tidak akan pernah ada."


Angin kembali berhembus. Menyentuh wajahnya dengan lembut. Ben tersenyum simpul.


"Aku tahu kau mendengarku."


***


Gregory menyodorkan sebotol bir pada Ben yang beberapa menit lalu baru tiba di apartemennya. Lalu duduk di samping sahabatnya itu.


"Aku berniat untuk menyudahi hiatus Rebellion," ujar Ben membuat Gregory mengerenyitkan dahinya.


"Are you serious?" tanyanya tak percaya.


Ben menenggak botol birnya. "Yeah!"


"Kenapa begitu tiba - tiba?" tanya Greg kembali.


Ben mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan lalu menghisapnya dalam - dalam.


"Aku tidak bisa terus begini, meratapi kepergian Laras dan menjadi sangat egois. Aku tidak ingin membuat kalian terus menunggu."


Greg menepuk - nepuk pundak Ben pelan.


"We understand you, Ben .. just take your time."


"Ya, tapi Rebellion penting untuk kalian, dan juga untukku." Ben menghisap rokoknya kembali. "Daren memberiku semangat untuk bermusik lagi."


"Ohya? Apa yang dilakukan bocah menggemaskan itu?" kekeh Greg.


"Dia meminta untuk belajar biola, aku mendatangkan guru les biola untuknya. Dia terlihat bersemangat."


"Anak pintar," gumam Greg.


Ben menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Meneguk sisa bir dalam botolnya. Kemudian menoleh ke arah Greg.


"Kau siap untuk mengguncang dunia lagi?" ujar Ben dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


Greg terbahak. "Senang sekali mendengarnya."


***


FUSE TV, MANHATTAN, NEW YORK CITY.


"Benjamin, kau kembali," ujar Mark Hoppus. Basis dari band rock Blink - 182, sebagai pembawa acara di talk show miliknya, A different Spin With Mark.


Malam itu, Ben menjadi bintang tamunya.


"Yes, sir," sahut Ben dengan mantap.


"Apa yang membuatmu tiba - tiba memutuskan untuk mengakhiri tidur panjang Rebellion?" tanya Mark.


"Hmm .. ada banyak hal. Yang jelas, aku rasa aku tidak bisa terus menyesali sesuatu yang tidak bisa aku rubah." Ben mengepalkan tangannya dan mengangkatnya. "I gotta move on!" serunya seraya terbahak.


"Wow, ini berita yang sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan, mengingat banyak sekali fans Rebellion yang merindukan kehadiran kalian."


"Yeah, kami juga rindu berada di atas panggung, rindu rehearsal, dan rindu proses pengerjaan album," ujar Ben.


"Aku tahu rasanya semua itu," kekeh Mark sembari menunjuk Ben dengan jari telunjuknya. Senyum Ben mengembang.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan pertama kali untuk memberi tanda bahwa Rebellion telah kembali di industri musik Amerika atau bahkan dunia," tanya Mark kembali.


Ben berpikir sejenak. "Mmmm .. sebuah konser mini, mungkin, sebenarnya kami belum merencanakan apapun." terang Ben.


"We'll be waiting for ya," ujar Mark.


Ben mengangguk.


.


.


"Yep," sahut Mia.


"Tampan sekali," kikiknya seraya mengambil cemilan pringles dari bungkus yang dipegang Mia.


Sangat tampan. Tapi sedingin salju.


"Dia kembali dengan The Rebellion?" tanya Ashley ketika mendengarkan isi talk shownya.


"Sepertinya," sahut Mia.


"Aku pernah menonton konser mereka beberapa tahun lalu sebelum mereka hiatus. Gosh, Lammy ... Ben adalah makhluk paling seksi sejagad raya."


Mia terbahak. Sungguh berlebihan kau, Ash.


"Dia single, bukan? Istrinya meninggal beberapa tahun lalu, hmmm ..." Ashley mengelus hidungnya dengan telunjuknya. Senyum jahilnya terbit.


"Ingatlah kau sedang mengincar Will, Ash," gerutu Mia.


Mata Ashley mendelik. "Hei, tidak ada salahnya bukan hanya sekedar mengagumi, lagi pula Ben Chevalier sudah pasti di luar jangkauan." Ashley terbahak.


Kau akan terkejut kalau tahu aku mengajar les biola anak Ben Chevalier, Ash.


Mia terkikik. Matanya kembali tertumpu pada layar televisi. Memperhatikan wajah Ben Chevalier yang sesekali dihiasi oleh senyum manisnya. Pria bermata biru itu terlihat hangat. Tidak seperti yang beberapa kali tampak oleh Mia. Dan senyumnya, seakan - akan mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


Mia menggeleng pelan. Kemudian menyibukkan dirinya menikmati pringle di tangannya, sembari menanggapi ocehan tidak jelas Ashley sesekali.


***


LINDEN CENTER, BROOKLYN, NEW YORK CITY.


"Rose, Chante bilang kau sedang tidak enak badan, jadi kubawakan makan siangmu ke sini." ujar Mia seraya mendorong meja troli yang berisi beberapa piring makanan.


"Awh, kau baik sekali, Mia." Senyum Madame Rose mengembang melihat kedatangan gadis itu.


Mia menyiapkan satu piring berisi mashed potato, ayam goreng tepung, dan kacang polong.


"Hmm .. terlihat enak." ujar Madame Rose seraya mengambil piring dari tangan Mia.


Mia mengambil sebuah kursi dari meja rias dan menggesernya ke samping ranjang. Kemudian gadis itu duduk.


"Bagaimana Daren? Apa dia rewel?" tanya Madame Rose setelah menyuapi dirinya sendiri dengan sesendok mashed potato.


"Ah, tidak sama sekali, Rose .. Daren anak yang sangat manis, dan pintar." Mia memuji.


Madame Rose tersenyum. "Manis, persis seperti ayahnya," kekehnya. "Benarkan, Mia?" tanya Madame Rose membuat gadis itu tergagap.


"Emm .. a - aku tidak tahu, Rose," ujar Mia sekenanya.


Wanita lanjut usia itu terkekeh. Kemudian menepuk - nepuk punggung tangan Mia lembut.


"Nana, suster bilang kau sedang tidak enak badan?"


Mia menoleh ke arah pintu di mana suara berat itu berasal. Pria bermata biru itu berdiri di ambang pintu. Ekspresi wajahnya tampak cemas.


"Ah, Ben," panggil Madame Rose.


Ben berjalan mendekati ranjang. Dan membuat Mia otomatis bangkit dari duduknya.


"Hi, Mia," sapa Ben, dingin, seperti biasanya. Pria itu hanya memandangnya seklias, kemudian fokus dengan neneknya.


"Hi, Mr. Chevalier," sahut Mia.


"Panggil Ben saja, Mia." ujar Madame Rose. "Kau tidak keberatan bukan?" Kali ini menanyai Ben.


"Terserah saja," jawab Ben acuh tak acuh. Dia sibuk menambahkan beberapa buah ayam goreng tepung ke piring neneknya itu.


Mia mengangguk. "Aku permisi dulu, Rose."


"Kenapa buru - buru, Mia .. Ben baru saja datang, kalian tidak ingin mengobrol?" tanya Madame Chevalier. Dada Mia berdegup kencang.


"Nana!" seru Ben. Sepertinya dia tidak merasa nyaman.


"Kenapa? Tidak ada salahnya kalian mengobrol, bukankah kalian sama - sama musisi? Siapa tahu Mia bisa mengikuti jejakmu, Ben," ujar Madame Rose.


Ben hanya memutar bola matanya. Apa maksud wanita tua ini sebenarnya. Dia memandang sekilas ke arah Mia yang sepertinya tengah gugup.


"Nana, kau mengganggu pekerjaan Mia," ujar Ben. "Kau masih banyak pekerjaan, bukan?" tanyanya kemudian kepada gadis itu.


"Ah, iya .. permisi, Rose .. Mr. Chevalier," pamit Mia. Kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


Mia menelan ludahnya dengan susah payah, dadanya masih berdegup kencang. Entah kenapa. Dan entah apa maksud dari Madame Rose. Wajah dingin Ben terlintas. Gadis itu menghela nafasnya dalam - dalam.

__ADS_1


***


__ADS_2