
Ben memarkir mobilnya di halaman rumah orang tuanya yang luas dan banyak ditumbuhi pepohonan besar nan rindang. Sebelum mengajak turun dari mobil Ben menggenggam tangan Laras dan meremasnya pelan. Keduanya saling berpandangan.
"Are you ready?" tanya Ben. Laras mengangguk.
Ben turun dari mobil terlebih dahulu dan berjalan berputar menuju pintu Laras kemudian membukanya. Mempersilahkan kekasihnya itu untuk turun. Kedua sejoli itu berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah berlantai dua itu dengan mantap.
Laras menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang baru saja mereka masuki dengan kagum. Ruangan yang didesain dengan gaya klasik victorian yang elegan.
Lukisan-lukisan mahal terpajang pada beberapa spot di dinding.
"There you are," sambut Monica yang tengah menuruni tangga dan menghampiri Ben dan Laras. Wanita itu mencium pipi Ben dan mengelusnya.
"Hai, Laras, senang bertemu denganmu kembali." Monica bergantian mencium pipi Laras.
"Hai, Monica," sapa Laras. Wanita itu tersenyum ramah.
"Ayo Ben, ajak Laras langsung ke meja makan, ayahmu akan turun sebentar lagi."
Ben mengangguk dan menggandeng Laras menuju ruang makan yang harus melewati lorong dan taman di tengah rumah.
Meja makan yang telah disiapkan berada di tempat terbuka. Dua orang asisten rumah tangga tengah sibuk menghidangkan menu makan malam ke atas meja. Begitu melihat kedatangan Ben dan Laras, mereka membungkuk memberi hormat.
Sementara Laras merasakan telapak tangan Ben berkeringat dingin.
"Ben, are you okay?" tanya Laras.
"Aku baik-baik saja, sayang." Ben memaksakan senyumnya. Merogoh rokok di sakunya dan menyalakannya sebatang. Dihisapnya rokok di jarinya itu dalam-dalam dan sembari mendongakkan wajahnya, asap dari mulutnya mengepul. Laras bisa melihat kegelisahan di wajah Ben. Tak bisa dipungkiri dirinya pun turut merasa gelisah. Laras membayangkan jika pertemuan antara ayah dan anak untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun tidak saling berbicara satu sama lain itu, tidak berjalan mulus.
Ben mencecak rokoknya di sebuah pot berisi pasir yang dikhususkan untuk mematikan rokok.
Beberapa saat kemudian Monica muncul diikuti dengan Richard yang berjalan di belakang dengan wajah dinginnya.
"Maaf, anak-anak, kalian lama menunggu."
ujar Monica.
Mata Ben bertemu dengan mata ayahnya itu. Keduanya terpaku, mematung untuk beberapa saat. Semua menjadi canggung.
"Richard, apa kabarmu?" sapa Ben memulai pembicaraan. Ben mencoba bersikap setenang mungkin.
Richard menyunggingkan senyum tipis. Kemudian berjalan mendekat ke arah Ben, memulai sebuah pelukan yang canggung, dan disambut Ben dengan tak kalah canggungnya.
"Bagaimana kabarmu, Ben?" Richard balik menyapa setelah melepaskan pelukannya.
"Seperti yang kau lihat."
"Bagus." Richard memandang ke arah Laras dengan tatapan penuh selidik. "Pacarmu?" tanyanya kemudian.
"Ah, perkenalkan, Richard, ini Laras .. Laras, Richard." kata Ben.
__ADS_1
Laras mengulurkan tangannya. "Senang bertemu denganmu, Mr Chevalier." ucapnya.
Richard menyambut uluran tangan Laras kemudian mengangguk. "Silahkan," ujarnya mempersilahkan Laras untuk duduk di meja makan.
"Ayo Laras." ajak Monica sembari menggandeng tangan Laras menuju meja makan. Richard dan Ben mengikuti para wanita itu.
Keempatnya mengambil posisi duduk masing-masing. Richard duduk di kursi ujung meja, Monica di sebelah kirinya, berhadapan dengan Ben dan Laras.
Makan malam berlangsung dengan hangat karena Monica yang pintar menghidupkan suasana dan banyak mengajak ngobrol Laras.
Sementara Richard dan Ben hanya sesekali saja menimpali. Namun keduanya belum terlibat dalam satu obrolan pun.
"Sudah cukup basa-basinya, kapan kalian akan berbaikan?" Monica memandang ke arah suaminya dan Ben secara bergantian. Saat ini mereka telah berada di ruang keluarga. Masing-masing memegang segelas anggur merah.
Laras melirik Ben yang seketika terlihat tegang. Sementara Richard tengah menarik nafas dalam-dalam.
"Siapa yang akan melanjutkan bisnis keluarga kita?" tanya lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
"Ah, come on, Richard .. kita tidak harus membahas hal itu terus menerus." Monica memutar kedua bola matanya, sebal. Richard mengangkat kedua tangannya.
"Kita bicarakan masalah ini lain kali antar pria saja, okay, Ben? Kita tidak ingin membuat Laras bosan mendengarkan masalah keluarga ini, bukan?" Richard tersenyum, raut wajahnya mulai melunak.
Laras terkesiap ketika Richard menyebut namanya. Ben mengangkat bahunya, menyetujui.
"Baiklah kalau begitu," ujar Monica gembira.
Kemudian obrolan demi obrolan mulai mengalir hangat ditemani oleh beberapa botol anggur yang mereka habiskan bersama. Laras mulai merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Chevalier yang memperlakukannya dengan baik. Richard dan Monica sepertinya tidak mempermasalahkan latar belakang Laras yang tidak berasal dari keluarga kaya. Mereka bahkan terkagum-kagum mengetahui Laras bekerja keras mengambil dua pekerjaan sekaligus untuk bertahan hidup di New York.
"Sampai jumpa lagi, Laras." Monica memeluk Laras dengan erat. "Ben, jaga gadis ini ya!" Wanita itu memberi peringatan pada anak lelaki semata wayangnya itu. Yang disambut dengan cengiran menggemaskan Ben.
"See you, dad," pamit Ben sembari memeluk ayahnya. Richard menepuk-nepuk punggung Ben pelan.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah Richard dan Monica sebelum akhirnya Ben mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah besar itu.
***
Laras keluar dari kamar mandi dan melihat Ben tengah duduk di sofa yang berada di seberang ranjang, sembari memainkan gitar akustiknya.
Masih dengan tangan memetik senar gitarnya, pandangan Ben tak lepas dari gerak-gerik tubuh Laras hingga gadis itu duduk di sampingnya.
"Play me a song," ujar Laras sembari menyandarkan tubuhnya di lengan sofa menghadap ke arah Ben.
"Lagu apa yang kau inginkan?" tanya Ben.
"Entahlah, sesuatu yang romantis dari Rebellion."
Ben terbahak. "Kau bercanda, tak ada satu pun lagu Rebellion yang romantis."
Laras terkekeh. "Kenapa tidak membuat lagu yang .. ro-man-tis?" goda Laras.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti anggota boysband, atau musisi dari genre pop dan semacamnya?" ujar Ben disela-sela tawanya.
"Tidak dengan rambut panjang acak-acakan dan tattoo di badanmu, tapi wajahmu sudah memenuhi kualifikasi untuk menjadi anggota boysband."
"Ah, sial!" maki Ben, disambut dengan tawa Laras.
"Aku serius, kau terlalu tampan untuk seorang gitaris musik hardcore, kau lebih cocok bergabung dengan boysband." kekeh Laras.
"Lebih baik aku mati!"
Tawa Laras meledak mendengar ucapan Ben yang sekenanya itu.
"Come on, baby .. play me a song," kata Laras ketika tawanya mereda.
Ben berpikir sejenak sembari menyetem kunci gitarnya yang mengendur.
"Okay, how about .. emm .. W**icked Game by Chris Isaak, do you know that song?" tanya Ben.
"Ah, I love that song!" Laras berseru senang.
Ben berdehem sekali lalu jemarinya mulai memainkan intro lagu yang dia sebutkan dengan merdu dan rapi.
The world was on fire and no one could save me but you
It's strange what desire will make foolish people do
I never dreamed that I'd meet somebody like you
And I never dreamed that I'd lose somebody like you
No, I don't wanna fall in love (this world is only gonna break your heart)
No, I don't wanna fall in love (this world is only gonna break your heart)
With you
With you (this world is only gonna break your heart)
What a wicked game you play, to make me feel this way
What a wicked thing to do, to let me dream of you
What a wicked thing to say, you never felt this way
What a wicked thing to do, to make me dream of you
Ben memainkan dan menyanyikan lagu yang popular di tahun 80 - 90an itu dengan sangat sangat manis. Tak terlihat sama sekali kebrutalan yang biasa dipertontonkannya di atas panggung dengan Rebellion.
Beruntungnya Laras mendapatkan hak istimewa, Ben Chevalier menyanyikan sebuah lagu untuknya, di sebuah ruangan yang hanya ada mereka berdua. Ingin rasanya seketika itu juga menghambur ke pelukan si pemilik senyum termanis di seantero USA itu.
__ADS_1
***