
GREENWICH VILLAGE, MANHATTAN, NEW YORK.
"Hi, little guy," Ben mengangkat seorang anak laki-laki berambut panjang sebahu yang tengah sibuk dengan mainan puzzlenya. "Owh, you're heavy!" serunya. Si anak pun terkekeh.
"Hey, Daren my birthday boy, look at you, you are sooo big," ujar Madame Rose seraya menggerak-gerakan bungkusan kertas warna-warni di tangannya.
"Gigiiii .... I want my birthday prrezenth." Daren, dengan suara cadelnya berseru seraya menggeliat dari pelukan ayahnya dan mencondongkan badannya untuk meraih bungkusan dari tangan Madame Rose.
Ben menurunkan Daren dan bocah laki-laki itu menghambur ke arah nenek buyutnya dengan girang.
"A, I want a kiss." Madame Rose menunjuk ke arah pipinya terlebih dahulu sebelum menyerahkan bungkusan pada Daren. Satu kecupan mendarat dari bibir mungil itu ke pipi Madame Rose.
"Awww .. manis sekali," ucap Madame Rose sembari menoleh ke arah Ben, kemudian menyerahkan bungkusan itu pada Daren.
"Can I open it now, Daddy?" tanya Daren dengan suara kecilnya yang menggemaskan, memandang ke arah Ben.
"After you blow your candle, okay?" Ben melambai pada seorang baby sitter yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka. Seorang wanita afro-amerika yang berumur sekitar 40an tahun. Dia pun mengerti dan segera masuk ke arah dapur, lalu tak lama kemudian kembali dengan satu nampan berisi kue funfetti dengan taburan gula sprinkle yang berwarna-warni. Di atasnya terdapat lilin menyala bertuliskan huruf 3.
Sang baby sitter meletakkan kue di atas meja, kemudian menuntun Daren untuk memulai acara tiup lilin.
"Blow your candle and make a wish."
"Come on, Daren."
Daren mengangguk. Kemudian meniup lilinnya dengan penuh semangat. Bocah laki - laki itu menautkan kedua telapak tangannya kemudian memejamkan matanya.
"Have you made a wish?" tanya Ben setelah Daren membuka matanya.
"Yash," jawab Daren.
"Boleh aku tahu apa itu?"
"Emmm .. I wanna phlay violin, Daddy .. I wanna be like Hamura in Cowhboy Chickenz." Dengan suara cadelnya, Daren sedang membicarakan sebuah tv show anak - anak favoritnya yaitu Hamura And The Cowboy Chicken. Di mana tokoh utamanya yaitu Hamura, seekor ayam yang pandai bermain biola.
"I wan .. na phlay violinh, Daddy," rengek Daren.
Ben memandang ke arah Madame Rose dan menaikkan kedua alisnya.
"Well, sepertinya aku harus mencarikan guru les biola untuk anak ini," kekeh Ben.
Madame Rose tersenyum lebar, dia teringat sesuatu. Bukankah Mia pernah bercerita kalau dia pemain biola di bandnya?
Sebuah kebetulan, bukan?
***
Mia melangkahkan kakinya keluar dari pelataran Linden Center. Dirapatkannya mantel tebalnya untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk. Asap tebal keluar setiap kali gadis itu menghembuskan nafas dari mulutnya.
Diurungkannya niat untuk memanggil taksi ketika dilihatnya mobil Brandon berhenti tepat di hadapannya. Pemuda itu membuka kaca jendela dan melemparkan senyum padanya.
__ADS_1
"Hey, come on in."
Mia menaikkan alisnya heran.
"Aku kebetulan lewat dan melihatmu," terangnya demi melihat wajah keheranan Mia.
Mia mengedikkan bahunya, lalu tanpa pikir panjang gadis itu melangkah ke seberang mobil dan masuk ke kursi penumpang di samping kemudi.
"Mau minum cokelat panas, mungkin?" tawar Brandon.
"Oh yeah, sure." Mia menggosok telapak tangannya untuk menghalau rasa dingin walaupun telah memakai kantong tangan tebal.
Brandon mengemudikan mobilnya pelan. Jalanan Linden Boulevard yang licin tertutup salju tipis memaksanya menyetir dengan hati-hati.
Pemuda itu menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe kecil di pinggir jalan dengan papan nama Brunswick. Kemudian turun dari mobil diikuti oleh Mia.
"Dua cokelat panas, please." Brandon memesan pada waiter yang menghampiri mereka.
"Emm .. crunchy pretzels and roasted nuts, please," sambung Mia. "Kau yang traktir." Mia mengerling ke arah Brandon. Pemuda itu terbahak, lalu sejurus kemudian jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf 0 pertanda setuju.
"Ah, aku ingin menunjukkan padamu lirik yang belum lama kutulis." Mia merogoh tas selempangnya, lalu mengeluarkan sebuah buku berwarna cokelat tua lusuh yang cukup tebal. Buku yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
Mia menyodorkan halaman buku yang terdapat beberapa bait tulisan tangannya pada Brandon. Pemuda itu memeriksanya beberapa saat, lalu bibirnya menyunggingkan senyum.
"This is great, Lammy," ujarnya seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu mengambil foto halaman buku itu beberapa kali. "Aku coba buat aransemennya nanti malam."
Brandon menyeruput cokelat panasnya. Matanya masih fokus dengan buku milik Mia.
"Behind blue eyes, eh?" godanya. "Who's this blue eyes guy, anyway?"
Mia terkekeh. "Nobody," ujarnya.
"Really?" cecar Brandon.
"Hanya seorang pria dalam khayalanku."
Brandon mencibirkan bibirnya. "Tentu saja, aku memang tidak pernah melihatmu bersama seorang pria selain .. aku," guraunya. Kemudian tawa pemuda itu meledak.
Mia membulatkan matanya, sebal. "Kau ingin mengatakan kalau aku tidak laku?"
"Lebih buruk lagi, aku sempat berpikir kau lesbian."
Mia memukul lengan Brandon dengan keras. Membuat pemuda itu mengaduh kesakitan, namun tak menghentikan tawanya. Dia ini memang suka sekali menggodanya.
Mia menatap Brandon yang masih saja tertawa-tawa. Manis juga. Mia terkekeh pelan.
Brandon yang menyadari sedang diperhatikan oleh gadis manis di hadapannya ini segera menghentikan tawanya dan memasang wajah serius.
"What?" tanyanya.
__ADS_1
"Hei, Brand, kau lumayan tampan juga, bagaimana kalau kita berkencan saja," ujar Mia dengan tampang polosnya.
Kini giliran mata Brandon yang membulat sempurna. "Are you serious?" Dadanya mendadak berdegup kencang.
"Tidak, aku hanya bercanda." Kini giliran Mia yang terbahak. Mereka impas.
"Darn you!" maki Brandon, lalu meneguk gelas cokelatnya. Membasahi tenggorokannya yang tiba - tiba terasa kering.
Mia terkekeh pelan. Lalu mengalihkan pandanganya ke arah jalan. Salju tipis mulai turun, bergerombol menutupi pepohonan yang tak berdaun.
Pemandangan musim dingin yang menakjubkan.
***
"Hi, Rose .. aku mengantarkan handuk baru untukmu."
Mia melangkah masuk ke dalam kamar Madame Rose yang tak terkunci. Wanita itu, seperti biasa, tengah duduk bersandar di headboard sambil membaca buku.
"Ah, Mia, aku ingin bicara denganmu."
"Yeah? About what?" tanya Mia sembari memasukkan beberapa handuk bersih yang dibawanya ke dalam lemari. Kemudian berjalan mendekat ke arah Madame Rose dan duduk di tepian ranjang.
"Kau tahu bukan kemarin Ben menjemputku waktu makan siang," kata Madame Rose.
"Uh - huh."
"Anak laki - laki Ben, namanya Daren, dia berulang tahun yang ke tiga. Kau tahu apa wish nya?" Madame Rose terkekeh. "Dia ingin menjadi pemain biola."
"Ohya? How cute," ujar Mia.
"Ben sedang mencari guru les biola untuk mengajari Daren, aku pikir kenapa tidak kau saja, Mia. Kuharap kau tidak keberatan."
Tentu saja tidak keberatan, penghasilanku bisa bertambah. Dan aku tidak usah merepotkan keluarga Om Surya lagi.
"Bagaimana, Mia? Apa kau bersedia?" tanya Madame Rose membuyarkan lamunannya.
"Ah, ya, tentu saja, asal di luar jam kerja," sahut Mia membuat mata wanita itu berbinar.
"Senang sekali mendengarnya. Kalau begitu aku akan mengabarimu kapan kau bisa mulai menjadi guru les Daren."
Mia mengangguk. Kemudian berpamitan pada Madame Rose untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Rejeki memang bisa datang dari mana saja, bukan? Terimakasih, alam semesta, you've always got me.
***
Daren William Chevalier
__ADS_1