
Satu minggu lebih Laras berada di kampung halamannya, menikmati masa-masa liburan musim panas, jauh dari New York, jauh dari Ben yang sampai saat ini belum juga menghubunginya. Gadis itu berusaha mengalihkan pikirannya dari sang gitaris flamboyan itu dengan melakukan aktifitas yang bisa mmbuat hatinya sedikit tenang. Wisata kuliner Jogja yang sudah dua tahun ini tidak mengakrabi lidahnya, kemudian berkumpul dengan teman-teman kuliahnya dahulu semasa S1, jalan-jalan ke pantai dan nongkrong-nongkrong di cafe-cafe baru yang banyak bermunculan di kota itu.
Laras mengemudikan mobil jazz milik ibunya memasuki gerbang masuk perumahannya. Gadis itu baru saja pulang hang out dengan teman-temannya siang itu.
Laras hendak memarkir mobil di garasi namun terhalang oleh sebuah mobil alpard berwarna hitam yang terparkir di depan gerbang rumahnya.
"Asal banget sih parkir depan garasi orang," gerutu Laras kesal. Gadis itu membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Memandang sekeliling komplek perumahan, mencari-cari si pemilik alpard yang mungkin saja adalah tetangganya.
"Mbak, ada yang nyariin tuh." Suara Hara adiknya, mengagetkannya. Hara menunjuk ke pintu rumahnya yang terbuka. Laras memicingkan matanya, sepertinya ada tamu.
"Sapa sih?" tanya Laras.
"Nggak tahu, bule." Hara turun dari sepedanya dan menuntunnya masuk ke garasi.
Dada Laras berdebar kencang. Bule? No, gak mungkin. Ragu-ragu Laras melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumahnya. Terdengar suara ibunya dari dalam rumah tengah berbicara dengan seseorang dalam bahasa inggris.
Laras menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah.
"Eh, Laras .. ini ada temenmu loh." Ibu Dewi, ibunya berujar. Laras hampir saja oleng ketika mendapati siapa yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama ibunya. Dan seorang lelaki bule paruh baya yang Laras tahu dia adalah Pablo.
Dan si rambut pirang panjang yang diikat asal, si menyebalkan ini, duduk dengan santainya di samping Pablo sembari melontarkan senyuman jahilnya.
"Sedang apa kau di sini?" Kata-kata itu muncul begitu saja dari mulut Laras. Otaknya tidak mampu berpikir dengan jernih.
"Ee .. Laras, temenmu ini jauh-jauh dateng dari New York kok sambutannya gitu, nak," hardik Bu Dewi.
Laras terkesiap. Dialihkannya pandangan matanya dari Ben ke arah ibunya. "Emm .. aku kaget, Bu."
Bu Dewi tersenyum. Sepertinya menyadari kalau hubungan di antara Laras dan pemuda bule bermata biru itu bukan hanya sekedar teman.
"Ya udah, Ibu siapin makan siang dulu ya, kalian ngobrol-ngobrol dulu aja." Bu Dewi mengedipkan sebelah matanya pada Laras dan tersenyum ke arah Ben. Apa-apaan sih, Bu!
"Mr. Chevalier, I'll wait outside," ujar Pablo sembari bangkit dari duduknya. "Nona Soetodjo," ucapnya sembari membungkuk kecil pada Laras. Gadis itu membalasnya dengan senyum.
Laras berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. Kini hanya ada dia dan Ben di ruang tamu.
"Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Ben.
"Aku? Baik. Kau sendiri?"
"Well, seperti yang kau lihat."
"Hmmm ...." Laras mengangguk. Kemudian keduanya terdiam.
"Kapan datang?" tanya Laras memecah kesunyian di antara mereka.
"Semalam."
"Darimana kau tahu alamat rumahku?" tanya Laras kembali. Namun tak lama Laras memutar bola matanya. Tentu saja untuk seorang Benjamin Chevalier, mencari alamat rumahnya bukanlah hal yang sulit.
Ben hanya meringis saja tanpa menjawab pertanyaan Laras. Tentu saja.
Ben menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Laras. Memiringkan wajahnya dan memandang Laras dengan cengiran menggemaskannya.
"I miss you," ucapnya membuat dada Laras berdebar kencang.
"Hahahaha ...." Tawa Laras meluncur begitu saja dari mulutnya. Membuat Ben mengerenyitkan dahinya heran.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Ben.
Laras menatap Ben dengan tajam. Beraninya kau bilang rindu setelah berminggu-minggu mengabaikanku.
"Bulls**t!!" hardik Laras.
"Why?"
Laras menyambar bantal sofa yang berada di dekatnya kemudian tanpa aba-aba memukulkannya pada Ben.
"Kau tidak ada kabar berminggu-minggu dan sekarang tiba-tiba muncul di depanku seenaknya mengatakan kau merindukanku, dasar menyebalkan!" pekik Laras namun memelankan suaranya karena takut ibunya mendengarnya.
Ben melindungi dirinya dari hantaman bantal Laras dengan menyilangkan kedua lengannya di depan wajahnya.
"Babe, stop, I'm sorry, I'm sorry," pinta Ben memelas.
__ADS_1
Laras melempar bantal sofa itu sembarang. Lalu mendengus kesal. Kemudian memalingkan mukanya sembari melipat kedua lengannya di depan dada.
"I was giving you a lesson," kekeh Ben. "Lalu Pablo menunjukkan padaku sebuah rekaman cctv, ada seorang gadis putus asa yang menangis di lift." goda Ben.
"What?" Laras membelalakkan matanya. Sialan!
"Aku ingin menyusulmu ke sini segera setelah kembali dari Berlin, tapi aku terlalu lelah dan setelahnya ada banyak jadwal interview di stasiun tv dan juga majalah."
Laras tak bergeming. Ben meraih telapak tangannya dan menciuminya.
"I'm sorry, baby," ucapnya. "Aku tahu, seharusnya aku mengerti kau butuh waktu untuk berpikir mengenai proposalku, tidak seharusnya aku marah. Aku sungguh kekanakan."
Laras menoleh ke arah Ben yang memandangnya dengan tatapan mata sayu.
"Aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggumu sampai kau siap untuk menghabiskan sisa hidupmu denganku."
"Ben ...," panggil Laras lembut. "Yes ...." sambung Laras. Ben membulatkan mata indahnya.
"What did you say?"
"Yes, Ben .. yes, I will." Laras tertunduk. Wajahnya tersipu malu.
"Say it again," pinta Ben.
"Marry me," ucap Laras.
Ben terperangah. Seakan tak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Diraihnya tubuh mungil Laras dan hendak diciumnya bibir gadis itu.
"Jangan Ben, aku tidak mau ibuku melihat kita," ujar Laras sembari mendorong dada Ben pelan.
"Oops, sorry, I'm too excited," kekeh Ben sembari menggeser posisi duduknya sedikit menjaga jarak dengan Laras. Gadis itu tertawa pelan.
Bu Dewi keluar dari ruang makan diikuti Hara, dan menyuruh kedua sejoli itu untuk makan siang bersama. Tak lupa pula mengajak Pablo yang berada di teras rumah untuk bergabung.
Ben yang telah berkenalan dengan Hara pun menjadi akrab dengan anak lelaki itu. Hara yang suka bermain gitar terkagum-kagum ketika Ben memberikan kursus kilat teori bermain gitar dengan baik, di sela-sela acara makan siang.
"Thank you," ucap Ben pada Laras tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir, ketika pandangan mereka bertemu satu sama lain. Laras hanya tersenyum kemudian tertunduk. Menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
***
Laras hanya tersenyum kecil. "Kalau iya gimana, Bu?"
"Ibu sih terserah kamu, kamu udah gede inih," ujar Bu Dewi, sembari membersihkan beberapa helai bawang panjang. "Yang penting baik dan bertanggung jawab."
"Ben udah ngenalin aku sama orang tuanya, Bu." Laras mengambil bawang panjang yang telah dicuci oleh ibunya itu dan mulai memotongnya.
"Ohya? Terus?"
"Ben udah ngelamar aku, Bu." kata Laras pelan, sembari melirik ibunya. Menunggu seperti apa reaksinya. Dan benar saja, Bu Dewi terperangah.
"Owh, begitu ya."
Laras terkikik. "Ibu tahu gak sih Ben itu siapa?"
"Lah, siapa memangnya?"
Laras mengambil ponsel di kantong bajunya, mengutak-atiknya sebentar lalu menyodorkannya pada Bu Dewi. Biodata Ben di halaman wikipedia membuat wanita paruh baya itu kembali terperangah.
"Selebriti ya?" tanyanya.
"Gitu deh," sahut Laras.
"Terkenal ya?"
"Banget."
Bu Dewi memicingkan matanya memandang ke arah anak perempuannya itu.
"Kok bisa kenal sama kamu, Ras? Kamu fans fanatik atau gimana?" goda ibunya.
"Ishhh .. enggak, aku satu kampus sama Ben, Bu," protes Laras cemberut.
Bu Dewi terkekeh. Dilihatnya rona bahagia terbersit di wajah Laras.
__ADS_1
"Kok aneh ya," gumam Bu Dewi.
"Aneh kenapa?"
"Lah Ben ganteng kaya gitu, kaya dan terkenal juga, kok mau sama kamu ya, Ras."
Laras mendecak. "Ibu ihhh!" seru Laras bersungut-sungut. Bu Dewi terkekeh melihat anak perempuannya itu merengut karena gurauannya. Dielusnya kepala Laras lembut.
"Ibu percaya sama kamu, siapapun yang kamu pilih, tentunya dia yang terbaik buat kamu," ucap sang ibu kemudian.
***
GREENWICH VILLAGE, MADAME ROSE CHEVALIER'S MANSION , MANHATTAN.
BEN AND LARAS WEDDING, BACKYARD.
Duduk di deretan paling depan, Madame Rose, Monica dan Richard Chevalier. Kemudian Hara duduk di kursi seberang bersama dengan dua orang anggota keluarga Soetodjo, yaitu adik dari ibunda Laras.
Tamu undangan selebihnya adalah team Rebellion dan beberapa teman dekat Ben. Semuanya berjumlah tiga puluh orang.
Laras, dengan gaun putih panjang sederhana vintage, make up tipis dan rambut terurai yang ditutup veil transparan, berjalan menuju altar digandeng oleh ibunya, diiringi oleh bridesmaidnya yaitu Catherine dan Maya, dengan alunan Canon D dari Plachelbel.
Ben dengan setelan kemeja dan celana putih lengkap dengan rompi berwarna cokelat serta dasi berwarna senada, menunggu Laras di depan altar, bersama seorang pendeta dan tiga orang groomsmen, yaitu para personel The Rebellion, Gregory, Marcus dan Liam.
Bu Dewi menyerahkan tangan Laras pada Ben, kemudian keduanya menghadap ke arah sang pendeta.
"Benjamin Leander Chevalier, do you take Tunggadewi Larasati Soetodjo, as your lawful wife, to have and to hold, from this day forward, for better or for worse, for richer or for poorer, in sickness and in health, to love and cherish until death do you part?" Sang pendeta memandang ke arah Ben.
"I do," jawab Ben dengan mantap.
Sang pendeta mengalihkan pandangannya pada Laras.
"Tunggadewi Larasati Soetodjo, do you take Benjamin Leander Chevalier, as your lawful husband, to have and to hold, from this day forward, for better or for worse, for richer or for poorer, in sickness and in health, to love and cherish until death do you part?"
"I do." Laras menjawab dengan senyum yang terus tersungging dari bibirnya.
"I now pronounce you husband and wife, you may kiss the bride," ucap sang pendeta sembari tersenyum.
Ben membuka penutup kepala transparan yang dipakai Laras, menyibakkannya ke belakang, kemudian mencium bibir Laras dengan lembut. Tepuk tangan dan suitan para tamu pun terdengar.
"Shall we?" ucap Ben sembari menggandeng tangan Laras menuju tamu undangan yang telah berkumpul teruma para wanita yang masih berstatus lajang, untuk melakukan tradisi lempar buket bunga.
Teriakan para wanita yang berebut buket dari Laras itu terhenti ketika benda itu jatuh tepat ke arah Gregory yang berdiri tak jauh dari kerumunan. Lelaki berambut panjang cokelat itu tersenyum lebar kemudian mengedikkan bahunya. Ben menunjuk muka Gregory kemudian dengan gerakan bibirnya dia mengucapkan, "You're next" tanpa suara.
Ben kemudian menggandeng tangan Laras dan berlarian masuk ke dalam rumah Madame Rose, melewati ruangan demi ruangan hingga akhirnya keluar dari pintu depan.
Pablo telah berdiri menunggu mereka di samping mobil Ben yang telah dihiasi oleh pita dan bunga-bunga. Bersiap untuk mengantarkan mereka ke Big Apple.
"Pablo, berikan kunci mobilnya," kata Ben membuat lelaki itu mengerenyitkan dahinya.
"Tapi, Mr. Chevalier ...."
"Kau masuk saja ke dalam, minum-minum saja sepuasmu, aku meliburkanmu selama satu minggu," ujar Ben seraya menyambar kunci mobil dari tangan Pablo.
Ben membukakan pintu mobil untuk Laras, kemudian segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Sementara Pablo masih terheran-heran hingga mobil yang dikendarai Ben itu melaju kencang meninggalkan tempat itu.
"Let's get lost!" ujar Ben seraya meraih tangan Laras dan menciumnya. Laras tersenyum dan mengangguk. Disandarkannya kepala di bahu Ben seraya memeluknya dari samping.
Gerimis mulai turun dari langit Manhattan di musim panas yang indah.
THE END
***
Hallo, bagi readers yang udah puas dengan happy ending di season 1 ini, diharapkan untuk membaca sampai di sini saja ya, jangan coba - coba melanjutkan baca ke season 2, karena season 2 ceritanya akan beda.
Langsung aja pindah ke novel berikutnya berjudul The Guy Next Door.
Cuma mau ngasih peringatan aja sih, biar enggak kaget atau pun kecewa nanti di season 2 nya.
Okay, catet ya.
__ADS_1
Peluk cium
Lady Magnifica.